Desa Kahaya Dan Sepenggal Kisah Nestapa Anak Negeri

10730920_10203448501627609_8538402737842656388_n

Waktu itu, November 2014. Saat itu musim hujan masih berlangsung. Saya menyaksikan pepohonan yang berjejeran diatas bukit begitu rindang karena balutan dedaunan hijau yang muncul dari setiap rantingnya. Begitu pula dengan hamparan padi yang tumbuh begitu subur membentang disetiap jengkal tanah yang dipetak laksana permadani.

Selain itu, tanah kahaya juga menawarkan hasil bumi yang beranekaragam seperti buah markisa manis, pisang dan umbi-umbian. Melihat ini semua tentu kita akan berpikir betapa suburnya tanah kahaya dan begitu beruntungnya orang-orang yang mendiami tanah itu. Hampir semua kebutuhan pangan mereka bisa terpenuhi tanpa harus mengeluarkan uang untuk membelinya. Tidak seperti orang-orang kota yang setiap hari harus mengeluarkan uang untuk membeli sayur, buah ataupun beras.

Hampir dua jam lamanya setelah menyusuri bukit yang terjal dan curam akhirnya sampailah kami pada salah satu sekolah yang menjadi pusat kegiatan Traveling and teaching ini. Rasanya hati ini terpukul ketika melihat pemandangan sekolah yang hampir tidak pantas disebut sebagai sebuah sekolah. Dalam hati bergumam ternyata dibalik suburnya tanah kahaya ada kisah nestapa yang selama ini tidak pernah kita ketahui.

Ditanah itu anak-anak kahaya tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak seperti orang-orang kota. Banyak dari mereka yang putus sekolah karena berbagai macam halangan yang memang tidak bisa ditolerir. Mulai dari sulitnya akses jalan menuju sekolah, bangunan sekolah yang tidak layak serta tenaga guru yang sangat minim.

Miris rasanya melihat pemandangan ini. Hati ini ingin berontak dan berteriak, “dimana pemerintah”. Tahukah mereka tentang ini. Ataukah mereka tahu namun tidak perduli karena sibuk menumpuk harta untuk mengenyangkan perut dan membiayai perjalan luar negeri mereka bersama anak istri dan kolega-koleganya.

Cobalah untuk datang dan lihat anak-anak kahaya ini tuan. Masa depan mereka terancam sirna. Saya yakin, untuk membangun sekolah mereka yang hampir roboh, memperbaiki akses jalanan mereka serta menghadirkan guru-guru yang berkualitas dengan gaji yang manusiawi disana itu tidak akan menghabiskan uang dalam jumlah triliunan.

Ah..rasanya tidak sanggup saya berlama-lama berdiri didepan kelas itu dan bertatap muka dengan mereka. Ada rasa yang berkecamuk dalam dada karena memikirkan banyak hal sehingga sulit rasanya bibir ini untuk mengukir senyuman dihadapan mereka. Sembari memikirkan pemerintah yang abai dan khianat pikiranku terbang jauh melayang menyusuri lorong-lorong memori yang ada dikepalaku hingga sampai pada satu ingatan masa lalu saat saya menangis meminta kepada ibuku agar dibelikan sepatu merk “All Star”. Saat itu saya menangis sejadi-jadinya agar permintaanku dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka aku akan urung untuk bersekolah.

Mengingat kejadian itu rasanya aku ingin menampar diri ini. Betapa bodohnya aku pada waktu itu yang masih memilih-milih merek sepatu tertentu sebagai kompensasi agar aku kesekolah. Sementara didepan mataku saat itu saya menyaksikan anak-anak kahaya yang hampir semuanya tak menggunakan alas kaki dan hampir tak mengenal jenis dan merek sepatu namun setiap harinya mereka masih mau berjalan menapaki kerikil tajam dan berbatu menuju sekolah tanpa kompensasi apapun.

Hanya dengan bermodalkan semangat dan harapan mereka rela menyusuri lembah pegunungan menuju satu-satunya sekolah yang ada ditanah mereka. Entah seperti apa jadinya masa depan anak-anak kahaya ini. Sampai sejauh mana semangat dan harapan mereka akan terus menyala. Akankah mereka mampu untuk keluar dari tanah mereka melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya guna meraih cita yang telah lama mereka rajut. Ataukah keadaan akan memadamkan semangat dan harapan mereka sehingga selamanya mereka terkurung dibalik bukit-bukit yang laksana tembok alam itu bersama cita-cita mulia mereka. Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Setelah beberapa jam kami bertatapan muka dengan anak-anak kahaya itu, tibalah saatnya bagi kami untuk meninggalkan mereka. Tidak ada kata-kata perpisahan yang terucap dari bibir ini untuk mereka, hanya lantunan doa yang aku panjatkan “ Ya allah, jika memang pemerintah tak mau perduli lagi dengan mereka, maka aku memohon padamu ketuklah hati siapun yang masih tersisa rasa kemanusiaan dalam dirinya yang rela tanpa pamrih mau untuk menyumbangkan waktu, pikiran dan kelebihan hartanya untuk anak-anak kahaya ini agar pendidikan mereka tidak terputus dan cita-cita mereka bisa terwujud..Aamiin”.

(Makassar, 19 Oktober 2015 Diruang Kecil Tak Bersekat)

Iklan

Sebelum Engkau Memintaku Untuk Bela Negara

belanegara

Membaca tulisan bang Yusran yang diperuntukan untuk tuan dan jenderal penggagas wajib militer dan bela Negara hampir membuat air mata ini menetes. Rasa-rasanya hampir semua yang dipaparkan bang Yusran dalam tulisanya begitu nyata terpampang didepan mata dan menjadi pemandangan yang tidak asing dalam keseharian kita semua.

Entah dibelahan bumi mana di negeri ini yang masyarakatnya betul-betul terbebas dari kemiskinan. Lihat saja hampir disetiap sudut jalan tempat kita menolehkan wajah, maka disitu juga kita akan melihat pengemis ataupun gelandangan dari berbagai kalangan mulai dari yang anak-anak sampai orang tua renta yang senantiasa menengadahkan tanganya mengharap belas kasih dan uluran tangan dari orang-orang kaya.

Belum lagi misalnya ditambah dengan hilangnya kenyamanan hidup akibat rasa takut karena teror kejahatan yang setiap saat menghantui. Lihat saja hampir semua kota yang ada dinegeri ini tidak ada yang luput dari kejahatan. Jalan raya, pasar dan hampir semua tempat umum lainya sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk dikunjungi. Hampir setiap hari kita mendengarkan berita tentang tindak kejahatan lewat media massa ataupun media elektronik. Ada yang dibacok kemudian dirampas hartanya dan ada pula yang meregang nyawa karena berusaha mempertahankan harta bendanya.

Oh iya, kejadian ini hampir setiap waktu saya dengarkan terjadi di kota tempat saya tinggal sekarang, Makassar. Begal disiang bolong tanpa memandang bulu, laki-laki ataupun perempuan menjadi korbanya. Kisahnya memang memilukan dan yang lebih tragisnya lagi para begal ini hampir tak tersentuh oleh aparat Negara. Hanya 2 dari 10 pelaku yang tertangkap sedangkan sisanya masih bebas berkeliaran menebar teror dimana-mana. Mengintai mangsanya laksana seekor elang yang mengintai tikus, kapan tikusnya lengah maka sang elang akan menerkamnya lalu dimakan.

Kondisi-kondisi ini kemudian menjadikan kita bertanya-tanya apakah mungkin wajib militer dan bela Negara itu menjadi sebuah keharusan yang mesti dijalani setiap warga Negara sementara Negara itu sendiri hampir tak pernah hadir bagi mereka yang mengalami berbagai kesulitan tadi. Negara hampir tak pernah hadir menuntaskan kemiskinan yang menggerogoti masyarakat negeri ini serta memberikan rasa nyaman bagi warga negaranya.

Jangan-jangan benarlah apa yang di tuliskan bang Yusran dalam blognya bahwa kicauan wajib militer dan bela Negara oleh tuan dan jenderal hanyalah omong kosong belaka. Wacana wajib militer dan bela Negara itu hanya sebatas proyek dengan nilai milyaran rupiah yang kemudian ditujukan menambah pundi-pundi kekayan tuan dan jenderal yang sedang asyik duduk sambil ongkang-ongkang kaki diatas kursi empuknya.

Sampai saat ini saya masih terus bertanya-tanya apakah sesungguhnya yang menjadi dasar akan diterapkanya wajib militer dan bela Negara ini. Kalau misalnya hal ini ditujukan untuk mempertahankan Negara dari serangan musuh maka, musuh manakah yang dimaksud. Kalau yang dimaksud itu musuh dari luar maka saya akan menimpalinya karena sampai saat ini saya sama sekali tidak melihat adanya ancaman musuh yang berasal dari luar. Justru yang saya saksikan saat ini kalau musuh itu datangnya dari dalam. Bisa jadi musuh itu berasal dari kalian-kalian yang menggagas program wajib militer dan bela Negara ini.

Tidak usahlah dulu repot-repot menggagas program wajib militer dan bela Negara, cukup bumi hanguskan saja dulu musuh-musuh yang ada dalam rumah kita sendiri. Berangus koruptor sampai keakar-akarnya,tumpas premanisme dan hancurkan mafia hukum demi terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu semualah yang menjadikan kami miskin, melarat dan ketakutan sepanjang masa. Jika kami bisa keluar dari himpitan kesulitan ini maka mungkin adanya kami akan hadir untuk membela Negara meskipun Negara tidak meminta kami.

Makassar, 14 Oktober 2015 Di Ruang Kecil Tak Bersekat

Catanan :

Tulisan diatas disadur dari tulisan bang Yusran darmawan di blog timur-angin.com

Untuk Wakil Rakyat : Musuh Kita Bukan KPK, Tapi “KORUPTOR”

save-KPK

Saya bukanlah orang yang mengerti tentang seluk beluk aturan perundang-undangan yang mengatur tentang bagaimana KPK bertindak dan menjalankan fungsinya. Pun saya kurang paham tentang ikhwal dilahirkanya aturan perundang-undangan tadi. Namun satu yang saya selalu yakini bahwa aturan perundang-undangan yang mengatur berjalanya proses di KPK itu pastinya akan bermuara pada sebuah kebaikan dan bukan untuk merusaki sebuah tatanan kehidupan yang telah berjalan dengan baik. Sehingga Jika ada upaya yang bertujuan untuk merubah konsep aturan perundang-undangan tadi yang dampaknya bisa mengkerdilkan KPK sehingga dalam prosesnya KPK tidak bisa menegakkan kebaikan di negeri ini maka tidak ada pilihan lain kecuali mengecam dan menghalangi agar hal itu tidak sampai terjadi.

Sangat salah jika KPK yang dipandang oleh sebagian besar manusia penghuni negeri ini sebagai penegak keadilan karena berhasil memberangus tikus-tikus pemakan uang rakyat disaat dua lembaga lainya yang bertenggung jawab melakukan hal serupa sedang terseok seok menutup lubang tikus -yang notabenenya tikus-tikus itu besar dan berkembang biak didalam lembaga itu sendiri- kemudian harus dibatasi kewenanganya dalam memburu tikus-tikus kelaparan ini.

Sangat menggelikan dan memuakkan tentunya saat menyadari bahwa yang berupaya untuk melemahkan langkah KPK ini adalah wakil rakyat itu sendiri. Entah apa yang ada dibenak para wakil rakyat terhormat ini kemudian tiba-tiba mengusulkan untuk merevisi aturan perundang-undangan yang bermuara pada pelemahan KPK dan bisa jadi berimplikasi pada bubarnya KPK.

Sangat disayangkan, wakil rakyat yang seharusnya merakyat dengan menelurkan ide-ide briliannya dalam mendesain aturan perundang-undangan agar bisa terus menjaga terciptanya stabilitas kehidupan yang baik di negeri ini justru mereka lebih mengedepankan pemikiran picik, kotor dan menjijikkan. Mereka seolah ingin menggiring opini public bahwa KPK-lah yang menjadi musuh masyarakat, bukan Koruptor.

Apakah para wakil rakyat ini tidak sadar kalau sebetulnya koruptorlah yang menjadi biang keladi kemerosotan bangsa ini , bukan KPK. Apakah wakil rakyatku yang menjijikan ini tidak memahami bahwa dengan dibatasinya kewenangan KPK maka akan semakin membuka ruang yang sebebas-bebasnya bagi para koruptor alias tikus pengerat untuk menggerogoti uang rakyat.

Seharusnya mereka para wakil rakyatlah yang menyerukan perlawanan kepada koruptor dengan mempertajam kewenangan KPK lewat aturan perundang-undangan yang didesain tanpa memberikan celah bagi koruptor untuk berkembang biak. Bukan justru mereka para wakil rakyat yang memberikan jalan bagi para koruptor untuk menari sebebas-bebasnya dipanggung Indonesia yang kaya ini.

Para wakil rakyat mungkin lupa, bahwa mereka bisa duduk enak dikursi empuk itu karena rakyat yang telah memilih mereka untuk berada disana. Mereka mungkin tidak ingat lagi jika nasib bangsa ini ada ditangan mereka yang merupakan produsen aturan perundang-undangan.

Entah setan apa yang telah merasuki pikiran para wakil rakyatku yang menjijikan ini sehingga ide untuk mengekang KPK dan membongsainya itu terlintas di otak mereka. Bukanya seharusnya otak-otak para wakil rakyat ini digunakan untuk memercikan pemikiran yang jenius guna menuntaskan persoalan korupsi dinegeri ini.

Yang pasti saat ini aku sedang kecewa dengan wakil rakyatku. Setiap kali aku melihat wajah mereka ditelevisi sambil berargumen tentang rencana revisi undang-undang yang berpotensi melemahkan KPK, rasanya mulut ini mau muntah dan kemudian ingin memercikan muntah itu kewajah busuk mereka.

Ingin rasanya aku berteriak dan menjerit ditelinga mereka, bahwa bangsa ini memilih mereka bukan untuk bersandiwara dipanggung DPR sana, tapi untuk betul-betul menjmbatani suara rakyat dalam menyuarakan kebenaran dan memerangi korupsi di negeri ini.

Dengarkanlah suara ini wahai wakil rakyatku yang menjijikan, bahwa musuk kita bukanlah KPK, tapi musuh kita ada KORUPTOR. Jika engkau tak bergeming mendengar jeritan ini dan lebih memilih untuk memusuhi KPK, maka jangan salahkan aku jika aku memusuhimu. Karena bagiku musuh KPK adalah musuhku, dan yang memusuhi KORUPTOR adalah Kawanku. #Save_KPK

(Makassar, 12 Oktober 2015, Di Kamar Kecil Tak Bersekat)

Surat Sederhana Untuk Penghuni Baru AIMP

Baiklah, sekarang kalian sudah resmi menjadi anggota AIMP seiring dengan berakhirnya prosesku dan prsoes kawan-kawan AIMP lainya sebagai mahasiswa aktif di kampus merah. Saya pernah berada di titik tempat kalian berada saat ini. Pada awalnya memang saya tidak begitu mengenal kalian, hingga akhirnya kalian datang di AIMP dan menjadi bagian dari keluarga kami. Karena itulah kemudian saya merasa memiliki tanggung jawab untuk berbagi dengan kalian tentang beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan ketika dulu saya berada diposisi kalian. Dengan menceritakan kesalahan-kesalahan ini , saya berharap kalian bisa belajar banyak sehingga bisa menjalani hari-hari kalian dengan penuh kebahagiaan dan rasa optimis yang tinggi bahwa kalian bisa lebih baik dari saya dan bisa lebih baik lagi dibandingkan orang lain yang berada di luar AIMP. Karena saya yakin setiap orang yang ada diluar sana pasti menginginkan untuk membaca”surat” seperti yang saya tulis ini (..dehhh..pedekuuuu..hehehe). Apa yang saya sampaikan ini bisa kalian ambil jika kalian anggap berguna, dan begitu sebaliknya. Bisa kalian abaikan,dibuang terus diinjak-injak jika sama sekali tidak berarti apa-apa buat kalian.

Hal pertama yang ingin saya katakan kepada kalian bahwa setiap orang itu berbeda. Oleh karena itu, maka sangat penting bagi kalian untuk memahami siapa diri kalian sebenarnya. Ada orang yang tidak perlu ditegur untuk menyadari siapa dirinya, namun ada juga orang yang butuh diberikan petunjuk berkali-kali kemudian setelah itu sadar dan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Kesalahan yang saya lakukan dulu adalah pertama, saya terlambat menyadari siapa diri saya. Untungnya saya berada di lingkungan AIMP dan dipertemukan dengan orang-orang hebat yang biasa saya panggil dengan sebutan “Babeh dan Bunda” dan lewat mereka Tuhan menyadarkanku dan segera membangunkanku dari tidur panjang untuk segera bergegas belajar dan membenahi diri serta menata kembali tujuan yang hendak saya capai, yaitu selesai tepat waktu dan bisa menghasilkan publikasi jurnal internasional.

“Terlambat sadar”Inilah kesalahan paling fatal yang pernah saya lakukan. Dalam rentang waktu sebelum saya tersadarkan dengan nasehat “Babeh dan Bunda” yang saya lakukan hanyalah berdiam diri, duduk manis di ruang AIMP bahkan sampai berjam-jam tidak melakukan apa-apa. Saya hanya menyibukan pikiran dengan berbagai macam persepsi tentang banyak hal. Mulai dari memikirkan opini orang-orang yang tidak jelas yang menuduh saya tidak akan bisa menyelesaikan studi tepat pada waktunya sampai dengan memikirkan kemampuan diri saya apakah bisa menyelesaikan penulisan skrip coding yang tentu saja hal ini menjadi momok menakutkan bagi saya yang tidak familiar dengan coding. Persepsi ini setiap hari menghantui pikiran saya. Begitu sangat mengintimidasi sampai-sampai kesadaran saya hampir terganggu. Dalam persoalan ini memang saya tidak pernah mencoba untuk bertanya kepada pembimbing tentang apa yang harus saya lakukan, dari mana saya harus memulainya karena saya selalu merasa bisa untuk menggerakan pikiran saya sendiri guna menyelesaikan segala sesuatu yang saya hadapi. Nah, disinilah letak kesalahan besar yang saya lakukan dan sangat beresiko karena hampir menyingkirkanku dari arena wisuda bulan 9 kemarin.

Pada titik ini, saya tidak sadar kalau saya sedang memulai hal baru yang proses penyelesaianya tentu butuh bimbingan dan tidak akan jadi jika hanya mengandalkan pikiran sendiri. Yang perlu saya lakukan seharusnya saya segera memahami persoalan apa yang saya hadapi, langkah-langkah apa yang harus saya siapkan, tindakan seperti apa yang harus saya lakukan serta pencapaian tujuan seperti apa yang saya inginkan. Saya harus mulai belajar untuk konsisten mulai dari memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil seperti memperhatikan kesalahan pengetikan pada tesis atau jurnal yang sedang saya buat ataupun sesering mungkin mempresentasekan progres penelitian kepada pembimbing tanpa harus diminta. Karena menurut hemat saya bahwa tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi seorang pembimbing ketika ia melihat anak bimbinganya mempresentasekan progres penelitianya tanpa harus diminta (meskipun asumsi ini tidak sepenuhnya saya lakukan, karena saat saya berada diposisi kalian, saya senantiasa melakukan presentase disaat waktunya sudah mepet..hehehe)

Dengan sering melakukan presentase ataupun berdiskusi dengan pembimbing atau teman-teman maka perlahan dan pasti maka detail dari setiap kesalahan yang tidak bisa kita lihat sendiri akan kelihatan. Kebiasaan presentase ini juga kemudian akan sangat membantu saat menghadapi ujian proposal, hasil,tutup ataupun saat presentase di seminar nasional ataupun internasional. Seperti pepatah lama mengatakan”ala bisa karena biasa”.

Kemudian, mengenai intensitas keberadaan saya di Lab AIMP. Semenjak saya menyadari bahwa sudah begitu jauh saya ketinggalan kereta, maka jalan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah mendekam di lab AIMP. Karena ketika saya berada di AIMP maka saya memiliki waktu belajar yang banyak serta pertemuanku dengan pembimbing serta teman-teman yang jago coding dan memiliki persepsi luas semakin intens terjadi. Saya lebih memilih untuk berada di lab AIMP ketimbang berada di kos-kosan. Karena godaan untuk mengerjakan tesis saat berada di AIMP begitu kuat dibandingkan saat saya berada di kos-kosan.

Untuk kalian yang baru di AIMP, tentu saja pilihan untuk selalu berada di lab AIMP atau kos-kosan ini perlu kalian pertimbangkan. Dan saya pikir tempat terbaik untuk menyelesaikan tesis adalah di lab AIMP, karena di kos-kosan bagi saya adalah tempat istrahat dan cara terbaik yang bisa membuat kalian untuk bisa selalu berada di AIMP saya pikir tidak perlu lagi diajarkan. Karena setiap dari kalian pasti punya cara tersendiri untuk membuat diri masing-masing betah berada di lab AIMP.

Kesalahan kedua yang sering saya lakukan adalah cepat merasa puas dengan apa yang sudah saya lakukan. Hal ini kemudian mengantarkanku menjadi seorang yang selalu abai dengan hal lain yang harus saya kerjakan selanjutnya. Hingga akhirnya saya harus membayar mahal apa yang saya lakukan ini dengan harus tergesa-gesa mengurus segala sesuatunya yang diperlukan sebelum melaksanakan ujian hasil ataupun tutup. Saya selalu meremehkan hal-hal kecil, abai terhadap waktu yang selalu saja hampir menghalangiku untuk meraih cita-cita besar yang telah menjadi tujuanku sejak awal yaitu selesai tepat waktu dan bisa menelurkan publikasi jurnal internasional.

Memang masih begitu banyak kesalahan yang pernah saya lakukan ketika saya berada pada posisi kalian, namun dua hal sederhana yang telah saya sebutkan diatas tentu saja sudah cukup untuk menjadi pelajaran bagi kalian. Saya berharap kalian bisa terus selalu belajar dan menaruh minat yang tinggi untuk mempelajari hal-hal baru diluar apa yang telah saya sebutkan diatas. Karena hal itu bisa menjadikan kalian tangguh dalam menghadapi proses penyelesaian studi di kampus merah.

Pada akhirnya saya ingin menyatakan bahwa, di AIMP-lah kemudian saya bisa tahu diri, tahu kemampuan saya seperti apa hingga akhirnya kemudian saya belajar dan menyelesaikan studi tepat pada waktunya serta bisa melakukan hal-hal luar biasa lainya seperti menghasilkan tulisan yang bisa dipublikasi di jurnal internasional.

Dititik ini saya beserta teman-teman lainya angkatan 2013 tentu sudah merasa berhasil menjadi anak kandung yang dilahrikan oleh AIMP dan kedepanya tentu saja kalian harus bisa lebih dari pada kami. Hari ini kita telah menumbuhkan AIMP semoga sejak hari ini pula sampai hari terakhir dari proses perjalanan kita di kampus merah, AIMP tetap bisa terjaga.

Semua yang saya tulis ini adalah hal sederhana. Ketika saya selesai menulis surat ini, kemudian saya berandai-andai. Dalam angan saya membayangkan, seandainya sebelumnya saya pernah membaca “surat” ini mungkin dulu jalan saya akan bisa lebih sangat mudah. Bagaimana dengan kalian..?

(Makassar, 08-09-2015, Dari Kamar Kecil Tak Bersekat)

Pulau Badi, Dan Harapan Yang Tak Pernah Pupus

12079444_10206692719013865_2460750311655266194_n

Sabtu, 10 Oktober 2015 dibawah terik matahari saya memacu sepeda motorku dengan kencang agar bisa sampai di pelabuhan poetere secepatnya. Disana telah menunggu beberapa rekan yang sejak lama menantikan kedatanganku. Jelas saja mereka pasti telah lelah menanti, karena kesepakatan untuk bertemu disana adalah jam 10.00, namun saya muncul dua jam kemudian. Ada rasa bersalah dalam hati karena saya datang terlambat. Dalam hati membatin mungkin saja mereka akan menggerutuiku jika saya tiba nanti. Namun dugaanku itu meleset. Karena yang terjadi ternyata senyum manis dari rekan-rekan saya menyambut kedatanganku dengan hangat.

Sesaat setelah saya tiba dipelabuhan poetere, perahu yang kami tumpangi langsung menarik jangkarnya segera dan berlayar menuju pulau Badi. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam diriku. Karena saya menyadari bahwa diujung pemberhentian perahu ini saya akan dipertemukan dengan sebuah pulau yang konon kabarnya sangat digemari oleh para pelancong yang ingin menikmati keindahan lautnya dengan biota terumbu karang yang masih bagus serta kejernihan air lautnya laksana kaca bening tembus dipandang mata.

Namun hal yang paling menggugah jiwa dari perjalanan ini tentu saja bukan karena adanya keinginan untuk menikmati keindahan panorama pulaunya, akan tetapi karena sebuah tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan dan keilmuan kepada anak-anak yang ada dipulau Badi. Ada sebuah kewajiban moral sebagai anak bangsa guna menyalakan semangat dan cita-cita mereka, generasi penerus bangsa yang berdiam di pulau itu. Ada sebuah panggilan jiwa untuk menjaga mimpi-mimpi mereka sehingga putra-putri pulau Badi bisa memiliki pandangan yang luas tentang dunia sehingga mereka kelak memiliki keberanian untuk melangkahkan kaki meninggalkan pulau itu menuju belahan dunia lain yang ada di muka bumi ini.

Satu jam lebih 20 menit, perahu kecil yang dinahkodai oleh salah satu pelaut tangguh asal pulau Badi akhirnya tiba dan bersandar didermaga panjang yang terbuat dari kayu. Angin sepoi-sepoi dan senyum menawan dari anak-anak pulau yang berjejer di atas pelabuhan kayu yang sedari tadi menanti kedatangan perahu kami semakin membuat suasana menjadi adem. Teriknya matahari yang bersinar seolah tak terasa lagi. Hamparan laut yang jernih dengan pemandangan karang yang bisa terlihat dari atas serta wajah-wajah mungil anak-anak pulau seolah menjadi tameng penghalau teriknya matahari siang itu.

Tidak jauh dari pelabuhan saya melihat ada rumah kayu yang berukuran tidak terlalu besar. Ternyata disanalah tempat kami nantinya akan meladeni anak-anak bangsa yang berdiam di pulau badi guna berbagi dan belajar bersama serta mencoba untuk mengurai arti kehidupan ini. Satu persatu kamipun mulai naik keatas pelabuhan dan meninggalkan perahu yang ditumpangi.

Setelah beberapa saat saya dan beberapa rekan yang menjadi volunteer di kegiatan ini berjalan menyusuri beberapa lorong kecil maka tibalah kami dirumah yang dijadikan sebagai tempat peristrahatan. Sekilas tidak ada yang istimewa dari rumah itu. Bangunanitu hanya berdindingkan kayu pada lantai duanya, minim ornamen dan barang-barang mewah. Namun keramahan dan penerimaan yang sangat baik dari penghuninya membuat saya berpikir bahwa itulah hal paling istimewa yang ada dirumah kecil itu.

Pukul 03.30 saya beserta rekan-rekan dari 1000 guru Makassar kemudian meningalkan rumah dan menuju ke pusat pembelajaran atau smart center yang bertempat di samping pelabuhan tadi. Sungguh diluar dugaan saya, layaknya seorang raja yang sedang berjalan ditengah masyarakatnya, anak-anak dipulau itu dari kejauhan memanggil-manggil kami dan bersorak gembira akan kedatangan kami. Tanpa diinstruksikan anak-anak yang sedang bermain-main tadi kemudian saling mengajak satu sama lain untuk sama-sama menuju ke smart center guna menerima pelajaran dari kami. Ada yang datang sambil berlari seolah kaki-kaki mungil anak-anak itu tidak merasakan panasnya tanah pasir tempat mereka berpijak.

Melihat betapa cerianya anak-anak ini dalam hati saya bergumam, tidakkah anak-anak ini tahu bahwa bangsa ini sedang carut marut. Para wakil rakyatnya sibuk saling menyikut. Korupsi sedang merajalela, dan dunia pendidikan sedang sakit karena sekolah tak lagi murah. Dimana-mana terjadi pembunuhan. Para pemuka agama tidak lagi sibuk menebar ayat-ayat kedamaian namun lebih memilih menebar dakwah kebencian.

Hati ini sejenak menjadi sesak karena memikirkan hal itu. Saya tidak tahu kebenaran seperti apa yang harus saya kabarkan kepada anak-anak ini. Haruskah saya menyampaikan dongeng kepada mereka. Dongeng tentang negeri seperti yang sering diukirkan banyak penyair dalam karya mereka bahwa negeri ini damai, tenteram, subur, kaya dan makmur?.

Lama saya berpikir, sembari mendengarkan lantunan lagu-lagu yang bersyair kebahagiaan dari anak-anak polos itu kemudian saya teringat salah satu sabda Nabi yang menyatakan bahwa ”sampaikanlah kebaikan meskipun Cuma satu ayat”. Hati ini kemudian perlahan menjadi sejuk. Sesak yang tadinya hampir menggerogoti dadaku kini perlahan mulai mereda.

Saya kemudian tersadar bahwa meskipun apa yang akan kami ajarkan sore itu hanya sebatas merangkai kertas menjadi burung, mewarnai kertas menjadi sebuah tulisan cantik, menggulung Koran bekas menjadi frame foto, mengartikan kata demi kata bahasa Indonesia menjadi bahasa inggris, mengajarkan mereka hitungan sederhana hingga memahami bahwa 10 kurang 2 adalah 8 namun saya yakin seyakin-yakinya kalau hal tersebut bisa bernilai sedikit kebaikan terhadap anak-anak itu.

Dengan rasa optimis yang besar, saya berharap apa yang telah kami ajarkan kepada mereka hari itu bisa memberikan keyakinan kepada mereka bahwa hari esok akan selalu ada dan pendidikan serta kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mahal karena hal itu bisa dimiliki oleh setiap orang termasuk mereka yang hanya tinggal pada hamparan tanah berbatu yang dilapisi pasir dan dikelilingi oleh lautan.

Minggu, 11 oktober 2015 pukul 09.00, kami mulai meninggalkan pulau Badi dan kembali menumpangi perahu kecil yang menjadi tumpangan kami sebelumnya. Terlihat beberapa anak datang berlarian ke pelabuhan sembari melambaikan tangan dan tersenyum penuh kegembiraan sembari meneriakan kalimat “kak, datang lagi disini”. Saya hanya bisa membalas senyum mereka dan berdoa dalam hati ”ya Allah, kelak jadikanlah mereka generasi yang peka dan bisa meresakan kesusahan orang lain, agar persaudaraan diantara sesama umat manusia tak akan pernah terputus sehingga bumi ini bisa terus damai dalam bingkai kebersamaan”.

(Makassar, 12 Oktober 2015 Di Ruang Kecil Tak Bersekat)

Ramadhan, Sosial Media dan Sikap Kita

Tidak terasa bulan sya’ban telah kita tinggalkan dan memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah. Bulan dimana segala amalan yang dilakukan dilipat gandakan pahalanya. Sebagai hamba yang mengharapkan ridho allah.swt tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sungguh menjadi hal yang sangat luar biasa bagi kita karena bisa berjumpa dengan bulan yang sangat mulia ini. Jika dihitung-hitung, begitu banyaknya orang-orang yang kurang beruntung karena tidak lagi bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan ini. Mereka telah lebih duluan meninggalkan dunia ini menghadap sang pencipta.

Oleh karena itu maka sangat merugilah kita yang masih berkesempatan berjumpa dengan bulan ramadhan ini jika tidak bisa mengoptimalkan detik demi detik di setiap hari yang ada dengan melakukan amal kebajikan seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasullulah.saw

Realitas Pengguna Sosial Media Di Indonesia

Tentu kita menyadari bahwa social media telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-sehari. Kenyataan ini tidak bisa lagi dipungkiri meskipun masih ada yang beranggapan kalau social media hanyalah selingan untuk mengisi waktu senggang baik saat berada di rumah ataupun ditempat kerja.

Lihat saja data yang dirilis oleh HarianTI.com menyebutkan bahwa terdapat 63 juta orang yang menjadi pengguna internet di Indonesia dimana 95 % merupakan adalah pengguna social media. Lebih rinci lagi Dick Costolo yang merupakan CEO Twitter menyebutkan bahwa Desember 2014 ada 50 juta orang yang menggunakan twitter di Indonesia dari 284 juta pengguna aktif yang ada diseluruh dunia.

Selain itu, menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.

Selain Twitter,  jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah  Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna.

Bijak Dalam Bersosial Media

Kita telah melihat dengan jelas begitu banyaknya pengguna aktif sosial media. Namun terkadang kita tidak menyadarai dan selalu lupa untuk menghitung berapa nilai waktu yang telah kita investasikan untuk bersosial media.

Jika kita berpikir secara kritis, seharusnya kita bisa lebih teliti untuk menghitung waktu. Karena waktu merupakan harta yang tidak ternilai harganya.

Kita mesti menyadari kalau setiap waktu yang kita lewati tidak akan pernah lagi kembali sedetikpun. Jika kita kehilangan benda lain yang kita miliki seperti handphone, dll maka tidak menutup kemungkinan kita bisa mencarinya kembali. Beda dengan waktu. Ketika ia telah berlalu,maka taka nada satu orangpun yang bisa memutarnya kembali.

Sebagai seorang muslim,tentu saja kita lebih memahami nilai dari waktu ini. Terlebih lagi ketika kita melihat bagaimana Allah SWT bersumpah dengan waktu dan menurunkan ayat khusus yang membincang tentang nilai yang terkandung dalam waktu. Dalam firmanya Allah berkata “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menaati kesabaran.”(QS. Al-Ashr :1-3)

Dalam ayat ini Allah SWT jelas menggambarkan kepada kita betapa istimewanya waktu. Allah SWT mengingatkan kita dengan ayat tersebut betapa besar kerugian seseorang bila menyia-nyiakan waktunya apalagi hanya sekedar berbasa-basi mengupdate status yang tidak jelas arah dan tujuanya atau cuma sekedar mengomentari status yang ada dihalaman social media orang lain. Alangkah meruginya seseorang yang hanya menggunakan waktunya selain dari tiga perkara yang disebutkan tadi, apalagi ketika waktu itu disia-siakan dibulan yang penuh berkah ini.

Islam sudah mengajarkan kepada kita semua bahwa waktu yang digunakan dalam tiga koridor pemanfaatan waktu seperti yang difirmakan Allah SWT dalam surah Al-Ashr akan memberikan kebaikan dan manfaat yang luar biasa bagi yang melakukannya. Dan begitu sebaliknya maka celakalah mereka yang memanfaatkan waktunya diluar koridor pemanfaatan waktu seperti yang telah Allah SWT sebutkan dalam firmanya.

Maka dari itu, dalam bersosial media alangkah lebih baiknya jika kita mengisi ruang percakapan kita dengan hal-hal yang bermanfaat dan lebih mendekatkan kita dengan Allah SWT dan sekaligus mengajak orang lain kejalan yang baik. Sehingga dengan cara ini,maka tidak menutup kemungkinan jalan kita menuju surga akan terbuka lebar. Begitu sebaliknya, jika cacian, umpatan dan kebohongan yang kita sebarkan lewat status yang kita bagikan lewat social media maka tidak menutup kemungkinan hal itu akan membawa si pemilik akun kejurang kenistaan.

Namun ,meskipun misalnya dalam bersosial media kita telah mengisinya dengan tiga perkara pokok seperti yang digambarkan dalam surah Al-Ashr, lantas tidak kemudian menjadikan kita untuk terus menerus menghabiskan waktu didepan layar komputer/laptop bersama akun-akun sosila media kita. Proporsional dalam pembagian waktu tetap menjadi tuntutan karena pekerjaan utama kita bukan cuma mengurus akun social media,tetapi masih ada kewajiban-kewajiban lain yang mesti kita jalankan sebagai khalifah dimuka bumi apalagi kita masih berkesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan ini maka sudah sepatutnya kita merajinkan diri untuk berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya karena tidak ada jaminan pada Ramadhan selanjutnya masih bisa kita jumpai.

(Dimuat di Harian Fajar 18 Juni 2015)

Tumbal Kesemrawutan Lalu Lintas Kota Makassar

Selasa, 25 agustus 2015 kabar duka kembali terdengar. Seorang wartawan Koran ini, surialang bage dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan yang dialaminya di jalan urip sumuharjo. Dari kesaksian beberapa orang yang melihat langsung kejadian tersebut menyebutkan bahwa kecelakaan itu disebabkan karena motor korban tertabrak oleh truk roda enam pengangkut pasir.

Orang awam yang baru mendengar berita ini pasti akan kaget dan sulit untuk percaya kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah karena korban yang salah akibat mengendarai motornya ugal-ugalan ataukah karena memang ada hal lain yang menjadi penyebab utama kecelakaan ini.

Tentu saja akan banyak persepsi yang timbul terkait dengan kecelakaan yang dialami korban dijalan urip sumuharjo. Namun jika melihat realitas yang ada maka setiap orang yang pernah atau sering melintasi jalur jalan tersebut mungkin saja akan memberikan jawaban yang seragam, bahwasanya kecelakaan itu terjadi akibat kesemrawutan lalu lintas.

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi ketika kita melintasi jalan tersebut hampir semua jenis kendaraan mulai dari truk beroda enam sampai dengan mobil truk yang sulit dihitung berapa jumlah rodanya dengan leluasa hilir-mudik seolah jalan itu adalah milik mereka sendiri tanpa memperdulikan pengguna jalan yang lain. Dengan seenaknya mereka berkendara secara ugal-ugalan tanpa memikirkan apakah cara berkendara yang mereka lakukan itu bisa membahayakan pengendara lain atau tidak.

Sungguh ironi, kota yang diproyeksikan menjadi kota dunia yang nyaman namun kondisi lalu lintasnya masih jauh dari apa yang diharapkan. Jalan raya masih sangat angker dan setiap saat para pengendara selalu dihantui ketakutan jangan sampai menjadi tumbal selanjutnya akibat tabrakan truk yang lalu lalang di jalan raya dengan bebasnya.

Perlu Penangan Serius

Saat tulisan ini mulai saya buat, ternyata SKPD masih saja berdebat terkait konsideran draft perwali (fajar, 26 agustus 2015). Perwali yang mengatur tentang operasi mobil truk sejak tahun 2014 mulai diwacanakan untuk direvisi ternyata sampai saat ini masih didiamkan seolah-olah kondisi lalu lintas sedang baik-baik saja. Padahal korban telah banyak berjatuhan akibat pembiaran yang dilakukan oleh pihak berwenang dan tidak menindaki dengan tegas mobil truk yang berkeliaran dijalan raya.

Segera merevisi perwali yang mengatur lalu lintas kendaraan mobil truk sudah seharusnya dilakukan oleh pemerintah tanpa menunggu-nunggu lagi. Disamping itu, Dinas perhubungan yang ditugaskan untuk mengeksekusi peraturan ini dilapangan harus melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Sikap acuh tanpa perduli dengan keadaan lalu lintas yang ada sekarang akan semakin membahayakan nyawa pengguna jalan raya. Kecelakaan yang menimpa wartawan Koran ini yang terjadi saban hari sudah sepatutnya menjadi pelajaran berharga bagi dinas perhubungan untuk kembali giat turun kejalan dan menindaki mobil truk nakal yang tidak mengindahkan tata aturan berlalu lintas. Dinas perhubungan seharusnya mengupayakan segala cara untuk mensterilkan jalan raya dari kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan pengguna jalan.

Jika memang Makassar betul-betul ingin menciptakan kenyamanan kelas dunia untuk warganya maka sudah seharusnya persoalan lalu lintas ini segera dibenahi tanpa menunda lagi waktu revisi aturan yang ada. Karena keselamatan pengguna jalan raya tentunya lebih penting dibandingkan dengan hal lain yang menjadi penghambat sehingga revisi aturan perwali terhambat.

Butuh Solusi Alternatif

Terlepas dari belum direvisinya perwali untuk regulasi waktu operasi truk dalam kota, lemahnya penegakan aturan yang dilakukan oleh pihak berwenang terkait pengawasan keluar masuknya kendaraan truk didalam kota Makassar tentunya menjadi sentral maslah dalam persoalan ini.

Tentu saja hal ini akan menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengawasi secara berkesinambungan dengan meminimalisir terjadinya kecolongan sehingga mobil truk tidak bisa keluar masuk dengan seenaknya didalam kota.

Dari hasil diskusi penulis dengan beberapa peneliti di bidang sistem transportasi cerdas yang memusatkan penelitianya di Laboratorium AIMP universitas hasanuddin menjelaskan bahwa sesungguhnya pengawasan lalu lintas kendaraan yang selama ini dilakukan manusia bisa digantikan dengan perangkat teknologi seperti CCTV pengawas yang terintegrasi dengan metode kecerdasan buatan.

Perangkat teknologi ini tidak hanya merekam atau memonitoring lalu lintas kendaraan namun bisa menjalankan fungsi pengawasan layaknya manusia yang bisa mengidentifikasi secara detail setiap mobil yang keluar masuk dalam kota.

Dengan mengimplementasikan perangkat teknologi ini maka bisa dijamin bahwa pengawasan yang berjalan secara intens dan bisa sangat membantu petugas untuk mengontrol lalu litas kendaraan truk yang keluar masuk dalam kota.

Lebih dari itu, implementasi teknologi cerdas ini bukan saja menjadi solusi alternative untuk membantu mengawasi lalu lintas kendaraan truk agar tidak berkeliaran dalam kota yang bisa mengancam nyawa pengedara lainya namun hal ini merupakan pembuktian dari apa yang dicanangkan oleh pemerintah yang mencita-citakan Makassar menjadi kota cyber.

(Di muat pada Harian Fajar, 31 Agustus 2015)