Pulau Badi, Dan Harapan Yang Tak Pernah Pupus

12079444_10206692719013865_2460750311655266194_n

Sabtu, 10 Oktober 2015 dibawah terik matahari saya memacu sepeda motorku dengan kencang agar bisa sampai di pelabuhan poetere secepatnya. Disana telah menunggu beberapa rekan yang sejak lama menantikan kedatanganku. Jelas saja mereka pasti telah lelah menanti, karena kesepakatan untuk bertemu disana adalah jam 10.00, namun saya muncul dua jam kemudian. Ada rasa bersalah dalam hati karena saya datang terlambat. Dalam hati membatin mungkin saja mereka akan menggerutuiku jika saya tiba nanti. Namun dugaanku itu meleset. Karena yang terjadi ternyata senyum manis dari rekan-rekan saya menyambut kedatanganku dengan hangat.

Sesaat setelah saya tiba dipelabuhan poetere, perahu yang kami tumpangi langsung menarik jangkarnya segera dan berlayar menuju pulau Badi. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam diriku. Karena saya menyadari bahwa diujung pemberhentian perahu ini saya akan dipertemukan dengan sebuah pulau yang konon kabarnya sangat digemari oleh para pelancong yang ingin menikmati keindahan lautnya dengan biota terumbu karang yang masih bagus serta kejernihan air lautnya laksana kaca bening tembus dipandang mata.

Namun hal yang paling menggugah jiwa dari perjalanan ini tentu saja bukan karena adanya keinginan untuk menikmati keindahan panorama pulaunya, akan tetapi karena sebuah tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan dan keilmuan kepada anak-anak yang ada dipulau Badi. Ada sebuah kewajiban moral sebagai anak bangsa guna menyalakan semangat dan cita-cita mereka, generasi penerus bangsa yang berdiam di pulau itu. Ada sebuah panggilan jiwa untuk menjaga mimpi-mimpi mereka sehingga putra-putri pulau Badi bisa memiliki pandangan yang luas tentang dunia sehingga mereka kelak memiliki keberanian untuk melangkahkan kaki meninggalkan pulau itu menuju belahan dunia lain yang ada di muka bumi ini.

Satu jam lebih 20 menit, perahu kecil yang dinahkodai oleh salah satu pelaut tangguh asal pulau Badi akhirnya tiba dan bersandar didermaga panjang yang terbuat dari kayu. Angin sepoi-sepoi dan senyum menawan dari anak-anak pulau yang berjejer di atas pelabuhan kayu yang sedari tadi menanti kedatangan perahu kami semakin membuat suasana menjadi adem. Teriknya matahari yang bersinar seolah tak terasa lagi. Hamparan laut yang jernih dengan pemandangan karang yang bisa terlihat dari atas serta wajah-wajah mungil anak-anak pulau seolah menjadi tameng penghalau teriknya matahari siang itu.

Tidak jauh dari pelabuhan saya melihat ada rumah kayu yang berukuran tidak terlalu besar. Ternyata disanalah tempat kami nantinya akan meladeni anak-anak bangsa yang berdiam di pulau badi guna berbagi dan belajar bersama serta mencoba untuk mengurai arti kehidupan ini. Satu persatu kamipun mulai naik keatas pelabuhan dan meninggalkan perahu yang ditumpangi.

Setelah beberapa saat saya dan beberapa rekan yang menjadi volunteer di kegiatan ini berjalan menyusuri beberapa lorong kecil maka tibalah kami dirumah yang dijadikan sebagai tempat peristrahatan. Sekilas tidak ada yang istimewa dari rumah itu. Bangunanitu hanya berdindingkan kayu pada lantai duanya, minim ornamen dan barang-barang mewah. Namun keramahan dan penerimaan yang sangat baik dari penghuninya membuat saya berpikir bahwa itulah hal paling istimewa yang ada dirumah kecil itu.

Pukul 03.30 saya beserta rekan-rekan dari 1000 guru Makassar kemudian meningalkan rumah dan menuju ke pusat pembelajaran atau smart center yang bertempat di samping pelabuhan tadi. Sungguh diluar dugaan saya, layaknya seorang raja yang sedang berjalan ditengah masyarakatnya, anak-anak dipulau itu dari kejauhan memanggil-manggil kami dan bersorak gembira akan kedatangan kami. Tanpa diinstruksikan anak-anak yang sedang bermain-main tadi kemudian saling mengajak satu sama lain untuk sama-sama menuju ke smart center guna menerima pelajaran dari kami. Ada yang datang sambil berlari seolah kaki-kaki mungil anak-anak itu tidak merasakan panasnya tanah pasir tempat mereka berpijak.

Melihat betapa cerianya anak-anak ini dalam hati saya bergumam, tidakkah anak-anak ini tahu bahwa bangsa ini sedang carut marut. Para wakil rakyatnya sibuk saling menyikut. Korupsi sedang merajalela, dan dunia pendidikan sedang sakit karena sekolah tak lagi murah. Dimana-mana terjadi pembunuhan. Para pemuka agama tidak lagi sibuk menebar ayat-ayat kedamaian namun lebih memilih menebar dakwah kebencian.

Hati ini sejenak menjadi sesak karena memikirkan hal itu. Saya tidak tahu kebenaran seperti apa yang harus saya kabarkan kepada anak-anak ini. Haruskah saya menyampaikan dongeng kepada mereka. Dongeng tentang negeri seperti yang sering diukirkan banyak penyair dalam karya mereka bahwa negeri ini damai, tenteram, subur, kaya dan makmur?.

Lama saya berpikir, sembari mendengarkan lantunan lagu-lagu yang bersyair kebahagiaan dari anak-anak polos itu kemudian saya teringat salah satu sabda Nabi yang menyatakan bahwa ”sampaikanlah kebaikan meskipun Cuma satu ayat”. Hati ini kemudian perlahan menjadi sejuk. Sesak yang tadinya hampir menggerogoti dadaku kini perlahan mulai mereda.

Saya kemudian tersadar bahwa meskipun apa yang akan kami ajarkan sore itu hanya sebatas merangkai kertas menjadi burung, mewarnai kertas menjadi sebuah tulisan cantik, menggulung Koran bekas menjadi frame foto, mengartikan kata demi kata bahasa Indonesia menjadi bahasa inggris, mengajarkan mereka hitungan sederhana hingga memahami bahwa 10 kurang 2 adalah 8 namun saya yakin seyakin-yakinya kalau hal tersebut bisa bernilai sedikit kebaikan terhadap anak-anak itu.

Dengan rasa optimis yang besar, saya berharap apa yang telah kami ajarkan kepada mereka hari itu bisa memberikan keyakinan kepada mereka bahwa hari esok akan selalu ada dan pendidikan serta kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mahal karena hal itu bisa dimiliki oleh setiap orang termasuk mereka yang hanya tinggal pada hamparan tanah berbatu yang dilapisi pasir dan dikelilingi oleh lautan.

Minggu, 11 oktober 2015 pukul 09.00, kami mulai meninggalkan pulau Badi dan kembali menumpangi perahu kecil yang menjadi tumpangan kami sebelumnya. Terlihat beberapa anak datang berlarian ke pelabuhan sembari melambaikan tangan dan tersenyum penuh kegembiraan sembari meneriakan kalimat “kak, datang lagi disini”. Saya hanya bisa membalas senyum mereka dan berdoa dalam hati ”ya Allah, kelak jadikanlah mereka generasi yang peka dan bisa meresakan kesusahan orang lain, agar persaudaraan diantara sesama umat manusia tak akan pernah terputus sehingga bumi ini bisa terus damai dalam bingkai kebersamaan”.

(Makassar, 12 Oktober 2015 Di Ruang Kecil Tak Bersekat)

Iklan

Satu pemikiran pada “Pulau Badi, Dan Harapan Yang Tak Pernah Pupus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s