Sebelum Engkau Memintaku Untuk Bela Negara

belanegara

Membaca tulisan bang Yusran yang diperuntukan untuk tuan dan jenderal penggagas wajib militer dan bela Negara hampir membuat air mata ini menetes. Rasa-rasanya hampir semua yang dipaparkan bang Yusran dalam tulisanya begitu nyata terpampang didepan mata dan menjadi pemandangan yang tidak asing dalam keseharian kita semua.

Entah dibelahan bumi mana di negeri ini yang masyarakatnya betul-betul terbebas dari kemiskinan. Lihat saja hampir disetiap sudut jalan tempat kita menolehkan wajah, maka disitu juga kita akan melihat pengemis ataupun gelandangan dari berbagai kalangan mulai dari yang anak-anak sampai orang tua renta yang senantiasa menengadahkan tanganya mengharap belas kasih dan uluran tangan dari orang-orang kaya.

Belum lagi misalnya ditambah dengan hilangnya kenyamanan hidup akibat rasa takut karena teror kejahatan yang setiap saat menghantui. Lihat saja hampir semua kota yang ada dinegeri ini tidak ada yang luput dari kejahatan. Jalan raya, pasar dan hampir semua tempat umum lainya sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman untuk dikunjungi. Hampir setiap hari kita mendengarkan berita tentang tindak kejahatan lewat media massa ataupun media elektronik. Ada yang dibacok kemudian dirampas hartanya dan ada pula yang meregang nyawa karena berusaha mempertahankan harta bendanya.

Oh iya, kejadian ini hampir setiap waktu saya dengarkan terjadi di kota tempat saya tinggal sekarang, Makassar. Begal disiang bolong tanpa memandang bulu, laki-laki ataupun perempuan menjadi korbanya. Kisahnya memang memilukan dan yang lebih tragisnya lagi para begal ini hampir tak tersentuh oleh aparat Negara. Hanya 2 dari 10 pelaku yang tertangkap sedangkan sisanya masih bebas berkeliaran menebar teror dimana-mana. Mengintai mangsanya laksana seekor elang yang mengintai tikus, kapan tikusnya lengah maka sang elang akan menerkamnya lalu dimakan.

Kondisi-kondisi ini kemudian menjadikan kita bertanya-tanya apakah mungkin wajib militer dan bela Negara itu menjadi sebuah keharusan yang mesti dijalani setiap warga Negara sementara Negara itu sendiri hampir tak pernah hadir bagi mereka yang mengalami berbagai kesulitan tadi. Negara hampir tak pernah hadir menuntaskan kemiskinan yang menggerogoti masyarakat negeri ini serta memberikan rasa nyaman bagi warga negaranya.

Jangan-jangan benarlah apa yang di tuliskan bang Yusran dalam blognya bahwa kicauan wajib militer dan bela Negara oleh tuan dan jenderal hanyalah omong kosong belaka. Wacana wajib militer dan bela Negara itu hanya sebatas proyek dengan nilai milyaran rupiah yang kemudian ditujukan menambah pundi-pundi kekayan tuan dan jenderal yang sedang asyik duduk sambil ongkang-ongkang kaki diatas kursi empuknya.

Sampai saat ini saya masih terus bertanya-tanya apakah sesungguhnya yang menjadi dasar akan diterapkanya wajib militer dan bela Negara ini. Kalau misalnya hal ini ditujukan untuk mempertahankan Negara dari serangan musuh maka, musuh manakah yang dimaksud. Kalau yang dimaksud itu musuh dari luar maka saya akan menimpalinya karena sampai saat ini saya sama sekali tidak melihat adanya ancaman musuh yang berasal dari luar. Justru yang saya saksikan saat ini kalau musuh itu datangnya dari dalam. Bisa jadi musuh itu berasal dari kalian-kalian yang menggagas program wajib militer dan bela Negara ini.

Tidak usahlah dulu repot-repot menggagas program wajib militer dan bela Negara, cukup bumi hanguskan saja dulu musuh-musuh yang ada dalam rumah kita sendiri. Berangus koruptor sampai keakar-akarnya,tumpas premanisme dan hancurkan mafia hukum demi terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu semualah yang menjadikan kami miskin, melarat dan ketakutan sepanjang masa. Jika kami bisa keluar dari himpitan kesulitan ini maka mungkin adanya kami akan hadir untuk membela Negara meskipun Negara tidak meminta kami.

Makassar, 14 Oktober 2015 Di Ruang Kecil Tak Bersekat

Catanan :

Tulisan diatas disadur dari tulisan bang Yusran darmawan di blog timur-angin.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s