Desa Kahaya Dan Sepenggal Kisah Nestapa Anak Negeri

10730920_10203448501627609_8538402737842656388_n

Waktu itu, November 2014. Saat itu musim hujan masih berlangsung. Saya menyaksikan pepohonan yang berjejeran diatas bukit begitu rindang karena balutan dedaunan hijau yang muncul dari setiap rantingnya. Begitu pula dengan hamparan padi yang tumbuh begitu subur membentang disetiap jengkal tanah yang dipetak laksana permadani.

Selain itu, tanah kahaya juga menawarkan hasil bumi yang beranekaragam seperti buah markisa manis, pisang dan umbi-umbian. Melihat ini semua tentu kita akan berpikir betapa suburnya tanah kahaya dan begitu beruntungnya orang-orang yang mendiami tanah itu. Hampir semua kebutuhan pangan mereka bisa terpenuhi tanpa harus mengeluarkan uang untuk membelinya. Tidak seperti orang-orang kota yang setiap hari harus mengeluarkan uang untuk membeli sayur, buah ataupun beras.

Hampir dua jam lamanya setelah menyusuri bukit yang terjal dan curam akhirnya sampailah kami pada salah satu sekolah yang menjadi pusat kegiatan Traveling and teaching ini. Rasanya hati ini terpukul ketika melihat pemandangan sekolah yang hampir tidak pantas disebut sebagai sebuah sekolah. Dalam hati bergumam ternyata dibalik suburnya tanah kahaya ada kisah nestapa yang selama ini tidak pernah kita ketahui.

Ditanah itu anak-anak kahaya tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak seperti orang-orang kota. Banyak dari mereka yang putus sekolah karena berbagai macam halangan yang memang tidak bisa ditolerir. Mulai dari sulitnya akses jalan menuju sekolah, bangunan sekolah yang tidak layak serta tenaga guru yang sangat minim.

Miris rasanya melihat pemandangan ini. Hati ini ingin berontak dan berteriak, “dimana pemerintah”. Tahukah mereka tentang ini. Ataukah mereka tahu namun tidak perduli karena sibuk menumpuk harta untuk mengenyangkan perut dan membiayai perjalan luar negeri mereka bersama anak istri dan kolega-koleganya.

Cobalah untuk datang dan lihat anak-anak kahaya ini tuan. Masa depan mereka terancam sirna. Saya yakin, untuk membangun sekolah mereka yang hampir roboh, memperbaiki akses jalanan mereka serta menghadirkan guru-guru yang berkualitas dengan gaji yang manusiawi disana itu tidak akan menghabiskan uang dalam jumlah triliunan.

Ah..rasanya tidak sanggup saya berlama-lama berdiri didepan kelas itu dan bertatap muka dengan mereka. Ada rasa yang berkecamuk dalam dada karena memikirkan banyak hal sehingga sulit rasanya bibir ini untuk mengukir senyuman dihadapan mereka. Sembari memikirkan pemerintah yang abai dan khianat pikiranku terbang jauh melayang menyusuri lorong-lorong memori yang ada dikepalaku hingga sampai pada satu ingatan masa lalu saat saya menangis meminta kepada ibuku agar dibelikan sepatu merk “All Star”. Saat itu saya menangis sejadi-jadinya agar permintaanku dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka aku akan urung untuk bersekolah.

Mengingat kejadian itu rasanya aku ingin menampar diri ini. Betapa bodohnya aku pada waktu itu yang masih memilih-milih merek sepatu tertentu sebagai kompensasi agar aku kesekolah. Sementara didepan mataku saat itu saya menyaksikan anak-anak kahaya yang hampir semuanya tak menggunakan alas kaki dan hampir tak mengenal jenis dan merek sepatu namun setiap harinya mereka masih mau berjalan menapaki kerikil tajam dan berbatu menuju sekolah tanpa kompensasi apapun.

Hanya dengan bermodalkan semangat dan harapan mereka rela menyusuri lembah pegunungan menuju satu-satunya sekolah yang ada ditanah mereka. Entah seperti apa jadinya masa depan anak-anak kahaya ini. Sampai sejauh mana semangat dan harapan mereka akan terus menyala. Akankah mereka mampu untuk keluar dari tanah mereka melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya guna meraih cita yang telah lama mereka rajut. Ataukah keadaan akan memadamkan semangat dan harapan mereka sehingga selamanya mereka terkurung dibalik bukit-bukit yang laksana tembok alam itu bersama cita-cita mulia mereka. Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Setelah beberapa jam kami bertatapan muka dengan anak-anak kahaya itu, tibalah saatnya bagi kami untuk meninggalkan mereka. Tidak ada kata-kata perpisahan yang terucap dari bibir ini untuk mereka, hanya lantunan doa yang aku panjatkan “ Ya allah, jika memang pemerintah tak mau perduli lagi dengan mereka, maka aku memohon padamu ketuklah hati siapun yang masih tersisa rasa kemanusiaan dalam dirinya yang rela tanpa pamrih mau untuk menyumbangkan waktu, pikiran dan kelebihan hartanya untuk anak-anak kahaya ini agar pendidikan mereka tidak terputus dan cita-cita mereka bisa terwujud..Aamiin”.

(Makassar, 19 Oktober 2015 Diruang Kecil Tak Bersekat)

Iklan

Satu pemikiran pada “Desa Kahaya Dan Sepenggal Kisah Nestapa Anak Negeri

  1. Padahal ada kan tuh ya di undang-undang yang bilang
    “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.”

    Mungkin harus ditambahkan dengan kata ‘yang layak dan berkualitas’.
    (_ _”)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s