Mengenal Indonesia Dari Andre Vltchek

 

belanegaraMembaca tulisan ANDRE VLTCHEK dalam tulisanya yang diterjemahkan oleh Rossie Indira dengan judul “Bangkai Indonesia yang Mengerikan – 50 tahun setelah kudeta”, rasanya begitu sangat mengiris hati. Dari tulisan ini kemudian saya mengenal lebih jauh lagi tentang negeri yang amat ku cintai ini.

Dalam tulisanya sangat jelas Andre menggambarkan kenyataan pahit tentang negeri ini yang hampir setiap hari kita saksikan dan rasakan namun kita terkesan abai dengan semuanya sampai-sampai lupa bahwa memang kita berada dalam sebuah negara yang lagi terpuruk yang tanpa kita sadari perlahan-lahan menuju jurang kehancuran.

Dibutuhkan sebuah revolusi, memulai lagi dari awal untuk memperbaiki bangsa ini agar bisa kembali seperti dulu saat Soekarno menjadi nahkodanya dimana bangsa ini disegani oleh dunia.

Silahkan baca di sini badak merah

Paris, Kota Romantis Yang Berubah Tragis

094132100_1447495789-20151114-Karangan-Bunga-Korban-Bom-Perancis-Reuters1

Saya sempat tertegun membaca berita yang dimuat media online tentang kekacauan yang terjadi  di kota Paris. Kota itu kembali menjadi trending topic diseantero jagat raya sesaat setelah bom meledak diikuti dengan rentetan tembakan di beberapa pusat keramaian yang ada disana. Entah atas dasar apa para pelaku pengeboman dan penembakan melakukan tindakan brutal itu. Bukankah semua tahu bahwa menghilangkan nyawa orang merupakan tindakan yang ditentang oleh semua pihak dan sama sekali tidak dibenarkan dalam agama apapun.

Sembari menyeruput kopi pahit yang baru saya seduh digelas kecil berwarna kuning itu, tiba-tiba seorang kawan mengajukan Tanya “Kenapa ada orang yang begitu tega menghilangkan nyawa orang lain. Bukankah itu adalah tindakan yang salah..?” sesaat saya mencoba berpikir untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini. Pikiranku kembali jauh menerawang mengingat kembali peristiwa yang menimpa beberapa Negara yang ada di Timur tengah sana yang tentu saja motifnya sama namun kondisinya lebih mengenaskan dibandingkan apa yang terjadi di kota paris saat ini.

Oh iya kawan, jika tidak salah mungkin hari ini nurani mereka sedang kerontang sehingga tidak bisa lagi membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Bisa jadi pikiran mereka sedang sakit dan tidak bisa lagi dipergunakan sebagaimana mestinya sehingga sikap mereka menjadi tidak terkontrol. Atau bisa saja akal mereka sudah keropos dan tak bisa lagi digunakan dengan baik sehingga perilaku mereka lebih rendah dari binatang.

Kawan, dunia ini memang sudah tak nyaman lagi untuk ditinggali. Cobalah tengok disekeliling kita. Betapa sulitnya hari ini kita membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Mana orang beragama yang betul-betul menjalankan perintah agamanya diatas fondasi kasih sayang dan mana yang hanya sekedar menggunakan agama sebagai topeng untuk melegitimasi tindakan dan perbuatan zalimnya terhadapa orang lain yang dianggapnya tidak seagama.

Lihatlah kota paris ini, kota yang dulunya romantic namun kini berubah menjadi tragis. Lihatlah mereka yang meregang nyawa disana. Mereka itu manusia yang punya hak hidup. Mereka tidak berhak menjadi korban sebagai imbas dari kejadian manapun yang terjadi di muka bumi ini.

apakah kawan tahu, sudah berapa banyak kota didunia ini yang dulunya indah dipenuhi oleh orang-orang yang menghabiskan hari-harinya dengan penuh suka cita kini berubah menjadi kota yang kelam penuh dengan kesedihan dan rasa takut?. Kalau saya sebutkan satu per satu, dan menceriterakan bagaimana sejarah kota-kota itu mungkin kawan akan mengutuk keras kekejaman orang-orang jahat yang telah menciptakan nereka di kota-kota itu. Dan kini, nereka itu akan kembali diciptakan di kota Paris.

Jika kawan berpikir bahwa mereka adalah manusia, saya berharap agar kawan membuang jauh-jauh pemikiran itu karena dari sifat keji yang mereka lakukan maka tidak pantaslah predikat manusia disematkan pada mereka.  Mungkin lebih pantasnya mereka dikatakan sebagai iblis yang memang gemar menciptakan kerusakan dimuka bumi.

Sudahlah kawan, tidak usah lagi bertanya tentang kota Paris yang hari ini sedang berkabung atas tewasnya masyarakat sipil lebih dari 100 orang akibat ledakan bom dan tembakan brutal dari orang-orang jahat yang tidak mencintai kedamaian.

Tapi, marilah kita kembali saling mengajak untuk bercermin dan melihat siapa diri kita sebenarnya. Apakah kita masih melihat diri kita sebagai manusia yang penuh welas asih shingga layak disebut manusia, ataukah telah banyak topeng kebencian yang menutupi diri kita, sehingga sudah sangat sulit rasanya  untuk mendefinisikan siapa kita sebenarnya.

“Makassar, 15-11-2015 dari ruang kecil tak bersekat”

Satu Hari di Pulau tarupa

12191806_10206785828981556_524009027470575542_n

Kamis 8 oktober 2015, saat matahari mulai memancarkan hangatnya di atas gugusan kepulaun takabonerate, saya beserta rombongan sukarelawan yang tergabung dalam kelas inspirasi selayar untuk pulau tarupa telah bersiap-siap turun dari perahu. Dari tepi pantai tempat kapal kami berlabuh sesaat setelah menginjakan kaki ditanah berpasir tidak lama kemudian saya mulai melihat beberapa orang anak berseragam pramuka tanpa alas kaki berlari menuju kearah kami. Tanpa diperintah mereka langsung membantu mengangkat barang-barang kami termasuk salah satunya buah semangka yang sedang saya bawa serta.

Anak-anak ini seolah tahu bagaimana menyambut orang baru yang datang ditempat mereka. Naluri mereka untuk membantu orang lain seakan-akan telah terlatih dan melekat pada kepribadian mereka. Sungguh sifat yang jarang saya temui pada anak-anak yang tinggal didaerah perkotaan saat ini. Anak-anak yang besar ditengah-tengah kepungan perangkat teknologi canggih sehingga tidak jarang membentuk mereka menjadi pribadi yang asik sendiri dan minim berinteraksi dengan orang lain.

Tidak lama berjalan, saya beserta rombongan tiba di titik kumpul (pos balai taman nasional takabonerate) yang menjadi tempat melepas rehat sejenak sebelum menuju SD Inpres tarupa untuk melaksanakan tugas, menginspirasi anak-anak bangsa. Satu hal yang menarik selama melewati jalanan setapak di pulau itu. Setiap orang yang kami jumpai baik tua ataupun muda seakan-akan tidak segan melemparkan senyumanya kepada kami. Senyuman-senyuman itu terasa begitu tulus tanpa rekayasa sedikit pun.

Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini saat mereka mengumbar senyum yang lepas tanpa beban kepada kami. Apakah ini semacam tanda bahwa kedatangan kami memberikan arti yang bermakna buat mereka, entahlah.

Yang pasti saya merasakan kalau senyuman itu merupakan sebuah isyarat yang mencoba untuk memahamkan kami bahwa meskipun mereka tinggal dikepulauan terpencil jauh dari hingar-bingarnya kota namun mereka tetap menjunjung tinggi sikap keramah tamahan kepada orang lain. Seolah-olah lewat senyuman itu mereka ingin berkata “hei orang kota, lihatlah kami yang tinggal dipulau kecil yang nyaris tidak memiliki sumber air tawar ini, meskipun hidup kami serba terbatas,pekerjaan kami hanya nelayan tapi kami masih bisa untuk tetap tersenyum dan menghargai orang lain”.

Sambil mempersiapkan beberapa perlengkapan yang akan digunakan dikelas saat bertatap muka dengan siswa, tidak terasa Waktu telah menunjukan pukul 09.00. Saatnya untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak sekolah dasar pulau tarupa telah tiba. Satu persatu kelas dimasuki. Mulai dari kelas 6 yang digabung dengan kelas 5 sampai dengan kelas terakhir yaitu kelas 1 yang digabung dengan kelas 2. Saya dan sejumlah relawan pengajar lainya bertukaran berdiri didepan kelas untuk menginspirasi mereka agar punya keinginan bisa bercita-cita menjadi seperti kami yang hadir didepan mereka hari itu.

Namun , setelah saya bercerita panjang lebar tentang profesi saya ternyata mereka tidak tertarik sedikit pun dan cita-cita mereka hanya ingin menjadi guru dan polisi. Bagi mereka polisi dan guru adalah profesi yang paling mulia. Bercita-cita untuk menjadi Polisi dan guru merupakan harga mati dan tidak bisa tergantikan dengan cita-cita terhadap profesi  manapun seperti yang kami tawarkan.

Mungkin saja besarnya keinginan Mereka untuk menjadi polisi dan guru karena mereka terlanjur memahami bahwa polisi adalah pengayom dan pelindung masyarakat serta guru sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan pernuh perhatian. Bagi mereka nilai-nilai kebenaran yang senantiasa dijunjung tinggi oleh polisi serta rasa welas asih yang selalu dihadirkan oleh guru diruang-ruang kelas merupakan barang berharga yang tidak bisa tergantikan dengan apapun.

Selama 3 jam kami menghabiskan waktu di sekolah dasar pulau tarupa. Waktu yang sangat singkat dan hampir tidak dirasakan saat ia berlalu. Diakhiri dengan foto bersama di sudut lapangan sekolah yang kecil sambil mengacungkan tangan sembari berteriak “salam inspirasi”

***

Sambil berlalu menuju gerbang, anak-anak itu tak henti-hentinya bersorak kegirangan. Senyum yang senantiasa terpancar dari bibir mungil mereka seolah ingin menyampaikan kepada kami bahwa mereka sedang baik-baik saja. Meskipun mereka tak berseragam saat kesekolah, kaki mungkil mereka tak terbalut oleh sepatu dan ruang-ruang belajar mereka tak senyaman ruang belajar anak-anak kamu borjuis yang ada dikota.

Memang ada banyak hal yang terduga disana. Begitu banyak hal luar biasa yang terjadi diluar apa yang pernah dipikirkan sebelumnya. Hari itu saya dan rekan-rekan kelas inspirasi selayar telah melakukan satu hal yaitu merawat harapan mereka dengan memberikan wawasan baru lewat perkenalan dari profesi masing-masing kami para inspiratory. namun hari itu juga saya bisa belajar banyak hal dari mereka tentang bagaimana menjalani dan memaknai kehidupan. Bahwa seperti apapun kondisi kehidupan, jangan pernah menghalangimu untuk tersenyum dan menebar kasih saying kepada orang lain.

“Makassar, 11-11-2015, di kamar kecil tak bersekat”