Satu Hari di Pulau tarupa

12191806_10206785828981556_524009027470575542_n

Kamis 8 oktober 2015, saat matahari mulai memancarkan hangatnya di atas gugusan kepulaun takabonerate, saya beserta rombongan sukarelawan yang tergabung dalam kelas inspirasi selayar untuk pulau tarupa telah bersiap-siap turun dari perahu. Dari tepi pantai tempat kapal kami berlabuh sesaat setelah menginjakan kaki ditanah berpasir tidak lama kemudian saya mulai melihat beberapa orang anak berseragam pramuka tanpa alas kaki berlari menuju kearah kami. Tanpa diperintah mereka langsung membantu mengangkat barang-barang kami termasuk salah satunya buah semangka yang sedang saya bawa serta.

Anak-anak ini seolah tahu bagaimana menyambut orang baru yang datang ditempat mereka. Naluri mereka untuk membantu orang lain seakan-akan telah terlatih dan melekat pada kepribadian mereka. Sungguh sifat yang jarang saya temui pada anak-anak yang tinggal didaerah perkotaan saat ini. Anak-anak yang besar ditengah-tengah kepungan perangkat teknologi canggih sehingga tidak jarang membentuk mereka menjadi pribadi yang asik sendiri dan minim berinteraksi dengan orang lain.

Tidak lama berjalan, saya beserta rombongan tiba di titik kumpul (pos balai taman nasional takabonerate) yang menjadi tempat melepas rehat sejenak sebelum menuju SD Inpres tarupa untuk melaksanakan tugas, menginspirasi anak-anak bangsa. Satu hal yang menarik selama melewati jalanan setapak di pulau itu. Setiap orang yang kami jumpai baik tua ataupun muda seakan-akan tidak segan melemparkan senyumanya kepada kami. Senyuman-senyuman itu terasa begitu tulus tanpa rekayasa sedikit pun.

Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini saat mereka mengumbar senyum yang lepas tanpa beban kepada kami. Apakah ini semacam tanda bahwa kedatangan kami memberikan arti yang bermakna buat mereka, entahlah.

Yang pasti saya merasakan kalau senyuman itu merupakan sebuah isyarat yang mencoba untuk memahamkan kami bahwa meskipun mereka tinggal dikepulauan terpencil jauh dari hingar-bingarnya kota namun mereka tetap menjunjung tinggi sikap keramah tamahan kepada orang lain. Seolah-olah lewat senyuman itu mereka ingin berkata “hei orang kota, lihatlah kami yang tinggal dipulau kecil yang nyaris tidak memiliki sumber air tawar ini, meskipun hidup kami serba terbatas,pekerjaan kami hanya nelayan tapi kami masih bisa untuk tetap tersenyum dan menghargai orang lain”.

Sambil mempersiapkan beberapa perlengkapan yang akan digunakan dikelas saat bertatap muka dengan siswa, tidak terasa Waktu telah menunjukan pukul 09.00. Saatnya untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak sekolah dasar pulau tarupa telah tiba. Satu persatu kelas dimasuki. Mulai dari kelas 6 yang digabung dengan kelas 5 sampai dengan kelas terakhir yaitu kelas 1 yang digabung dengan kelas 2. Saya dan sejumlah relawan pengajar lainya bertukaran berdiri didepan kelas untuk menginspirasi mereka agar punya keinginan bisa bercita-cita menjadi seperti kami yang hadir didepan mereka hari itu.

Namun , setelah saya bercerita panjang lebar tentang profesi saya ternyata mereka tidak tertarik sedikit pun dan cita-cita mereka hanya ingin menjadi guru dan polisi. Bagi mereka polisi dan guru adalah profesi yang paling mulia. Bercita-cita untuk menjadi Polisi dan guru merupakan harga mati dan tidak bisa tergantikan dengan cita-cita terhadap profesi  manapun seperti yang kami tawarkan.

Mungkin saja besarnya keinginan Mereka untuk menjadi polisi dan guru karena mereka terlanjur memahami bahwa polisi adalah pengayom dan pelindung masyarakat serta guru sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan pernuh perhatian. Bagi mereka nilai-nilai kebenaran yang senantiasa dijunjung tinggi oleh polisi serta rasa welas asih yang selalu dihadirkan oleh guru diruang-ruang kelas merupakan barang berharga yang tidak bisa tergantikan dengan apapun.

Selama 3 jam kami menghabiskan waktu di sekolah dasar pulau tarupa. Waktu yang sangat singkat dan hampir tidak dirasakan saat ia berlalu. Diakhiri dengan foto bersama di sudut lapangan sekolah yang kecil sambil mengacungkan tangan sembari berteriak “salam inspirasi”

***

Sambil berlalu menuju gerbang, anak-anak itu tak henti-hentinya bersorak kegirangan. Senyum yang senantiasa terpancar dari bibir mungil mereka seolah ingin menyampaikan kepada kami bahwa mereka sedang baik-baik saja. Meskipun mereka tak berseragam saat kesekolah, kaki mungkil mereka tak terbalut oleh sepatu dan ruang-ruang belajar mereka tak senyaman ruang belajar anak-anak kamu borjuis yang ada dikota.

Memang ada banyak hal yang terduga disana. Begitu banyak hal luar biasa yang terjadi diluar apa yang pernah dipikirkan sebelumnya. Hari itu saya dan rekan-rekan kelas inspirasi selayar telah melakukan satu hal yaitu merawat harapan mereka dengan memberikan wawasan baru lewat perkenalan dari profesi masing-masing kami para inspiratory. namun hari itu juga saya bisa belajar banyak hal dari mereka tentang bagaimana menjalani dan memaknai kehidupan. Bahwa seperti apapun kondisi kehidupan, jangan pernah menghalangimu untuk tersenyum dan menebar kasih saying kepada orang lain.

“Makassar, 11-11-2015, di kamar kecil tak bersekat”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s