Mencari Guru Alternatif

ss

Masih terasa lelahnya saat menapaki jalan berbukit dan menanjak di salah satu daerah terpencil yang ada di kabupaten bulukumba tepatnya desa Kahaya satu tahun yang silam. Perjalanan yang hampir memakan waktu 3 jam dari titik pemberhentian mobil yang tentu saja tidak bisa melaju lebih jauh lagi karena kontur jalanan dan medan yang harus dilewati sungguh sangat tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan roda 4.

Jauh disebelah bukit yang menjulang tinggi itu disana terdapat sebuah sekolah dasar yang menampung sejumlah murid. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang berasal dari desa itu sendiri dan beberapa orang berasal dari desa sebelah yang dipisahkan oleh bentangan alam yang ditumbuhi oleh pepohonan rimbun serta sungai yang dialiri oleh air yang begitu jernih.

Perjalanan itu membekas dengan kuat diingatan saya. Bukan karena indahnya pemandangan alam yang ditawarkan oleh desa itu. Tapi karena disana saya menyaksikan bagaimana perjuangan anak-anak desa yang setiap hari harus naik turun bukit menuju satu-satunya sekolah dasar yang ada disana namun apa yang mereka perjuangkan seolah sia-sia karena harapan mereka untuk mendapatkan pembelajaran yang memadai seolah tidak pernah terkabulkan. Intensitas kehadiran guru yang tidak memadai menjadi faktor penyebab utamanya.

Potret Pendidikan Daerah Pedalaman

Di negeri ini, bukan menjadi rahasia umum lagi kalau guru berkualitas dengan status sarjana pendidikan hanya sebagian kecil yang mau betul-betul mengabdikan diri di daerah terpencil. Kalaupun ada sekolah terpencil yang mencatut beberapa nama guru lulusan kampus-kampus ternama sebagai tenaga pengajarnya itu hampir bisa dipastikan mereka hanya datang mengajar sewaktu-waktu.

Lihat saja apa yang terjadi di desa kahaya. Intensitas kehadiran guru-guru seperti itu sangat mengecewakan. Memang sulitnya akses yang dilalui menjadi salah satu factor penyebab utama malasnya para guru yang hendak mengajar kesana.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib anak-anak yang tinggal dipedalaman, jauh dari kota dengan akses jalanan yang rusak jika hanya mengharapakan sentuhan pendidikan dari guru berstatus sarjana pendidikan. Mungkin mereka tidak akan pernah bisa merasakan nikmatnya pendidikan berkualitas.

Kalau keadaanya seperti ini maka sudah bisa dipastikan bahwa apa yang didapatkan oleh anak-anak yang bersekolah didaerah pedalaman hanyalah secuil ilmu saja. Sungguh sangat menyedihkan. Tapi itulah kenyataan yang harus diterima oleh sekolah-sekolah pedalaman dengna akses jalan yang buruk.

kondisi seperti ini jika dibiarkan berlarut-larut maka lama kelamaan negeri ini akan banyak kehilangan generasinya. Tidak jarang kita melihat begitu banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak memadainya tenaga pendidik yang mengajar disekolah mereka secara intensif.

Butuh Solusi Alternatif

Seyogianya, guru bukanlah mereka yang hanya menyandang gelar sarjana pendidikan seperti yang dipahami kebanyakan orang awam pada umumnya. Karena pada dasarnya setiap orang adalah guru. Begitulah yang diajarkan oleh ki hajar dewantara yang merupakan pelopor pendidikan negeri ini.

Untuk mengatasi persoalan ini tentu saja kita semua harus turun tangan. Begitulah ungkapan anies baswedan yang merupakan bapak menteri pendidikan dan kebudayaan negeri ini. Semakin banyak yang turun tangan terlibat menjadi tenaga pendidik, berbagi inpirasi dan menyalakan semangat anak-anak yang ada didaerah-daerah pedalaman di seluruh pelosok negeri ini maka ketakutan akan hilangnya generasi bangsa kita bisa terhapuskan.

Kekurangan guru didaerah terpencil tentu saja tidak akan menjadi persoalan lagi, jika semua orang yang punya keperdulian atas terselenggaranya pendidikan dinegeri ini bahu membahu untuk sama-sama mewakafkan waktunya  untuk menjadi guru bagi anak-anak pelosok yang kurang mendapatkan pendidikan memadai.

Menjalankan aksi sosial bersama komunitas-komunitas yang memiliki minat tinggi untuk melakukan pengajaran dengan turun langsung terlibat sebagai sukarelawan adalah salah satu solusi alternatif yang sementara bisa menjawab persoalan pendidikan yang ada dinegeri ini.

Memang kegiatan seperti ini hanya berjalan satu atau dua hari. Namun secara tidak langsung apa yang dilakukan ini bisa memberikan motivasi dan dorongan yang kuat bagi anak-anak pedalaman untuk tetap menjaga mimpi-mimpi mereka. Dengan ini pula maka keinginan mereka untuk tetap bersekolah tetap bisa terpelihara.

Selain itu, dengan kegiatan seperti ini paling tidak akan membuka pemikiran anak-anak pedalaman bahwasanya masih ada orang-orang yang perduli dengan mereka. Meskipun mereka jarang bersentuhan dengan pelajaran wajib disekolah yang memang jarang didapatkan karena minimnya kehadiran tenaga pengajar disana paling tidak ada hal lain yang bisa dipelajari yaitu tentang bagaimana menjaga harapan yang masih ada agar tidak hilang. Sehingga cita-cita mereka untuk menjadi generasi terbaik bangsa ini bisa tercapai.

Makassar, 04-12-2015 “diruang kecil tak bersekat”

Iklan

Satu pemikiran pada “Mencari Guru Alternatif

  1. “Menjalankan aksi sosial bersama komunitas-komunitas yang memiliki minat tinggi untuk melakukan pengajaran dengan turun langsung terlibat sebagai sukarelawan adalah salah satu solusi alternatif yang sementara bisa menjawab persoalan pendidikan yang ada di negeri ini.”

    ^ sepakat, Bung. Relawan di dunia pendidikan buat saya adalah profesi yang sangat mulia (di samping karena keren dan cool ^_^). Namun sudah seharusnya aksi ini tetap menjadi ‘alternatif’. Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan berkuantitas tetap menjadi kewajiban pemerintah berapapun banyaknya relawan-relawan yang siap tempur mengabdi demi kemajuan negeri ini. Jangan sampai pemerintah keenakan dan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada pihak lain. CMIIW

    *salam damai dan kompak selalu ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s