Ironi Kaum Muda di Era Kebebasan

86 tahun yang lalu tepatnya 28 okober 1928 kaum muda mengikrarkan sebuah sumpah yang kemudian dikenal dengan nama sumpah pemuda. Satu nusa,satu bangsa,dan satu bahasa adalah intisari dari sumpah yang mereka ikrarkan. Sepintas melihat penggalan kalimat-kalimat ini memanglah sederhana namun makna yang tersimpan didalamnya begitu sangat dalam.

Jika di cermati lebih jauh maka seyogIanya kita akan memahami bahwa Ikrar sumpah pemuda ini merupakan isyarat kebangkitan kaum muda untuk melakukan revolusi di negeri yang sedang carut marut ini. Kaum muda dituntut unuk menjadi “agen of change” dengan melakukan gebrakan-gebrakan yang brilian demi mengeluarkan bangsa ini dari lilitan persoalan yang semakin rumit. Kaum muda diharapakan bisa mengawal kemerdekaan dengan senantiasa meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuanya sehingga bisa terus-menerus melahirkan karya-karya yang berguna bagi nusa dan bangsa sebagai konsekuensi logis dan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan.

Namun kondisi kaum muda hari ini begiu sangat memprihatinkan dan banyak kita jumpai justru apa yang mereka lakukan terkadang bertolak belakang dengan semangat sumpah pemuda.

Era kebebasan saat ini justru membawa banyak kaum muda pada jalan yang salah. Kasus narkoba,tawuran antar pelaja,tawuran antar mahasiswa,kasus geng motor seolah tidak ada habisnya terjadi dan telah menjadi “trending action” dikalangan kaum muda hari ini.

Ironisnya,kejadian seperti ini justru menjadi hal yang lumrah ditengah-tengah kaum muda saat ini dan seakan telah berubah menjadi sebuah budaya yang tidak bisa dihindarkan lagi dari kehidupan kalangan kaum muda kita.

Ada sebuah ungkapan yang berkembang dikalangan kaum muda saat ini bahwa “urusan Negara adalah tanggung jawab pemerintah sedangkan urusan kaum muda hanyalah bersenang-senang menikmati kemerdekaan”. Sadar atau tidak pola mepikiran semacam ini telah mencerminan betapa kaum muda kita hari ini sudah tidak memahami lagi peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari pelopor perubahan untuk senantiasa mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. Jika kondisi ini dibiarkan maka cepat atau lambat maka bangsa ini akan kehilangan generasi emasnya yang menjadi penerus untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Momentum Perubahan

Berkaca dari berbagai revolusi yang terjadi didunia ini seperti Revolusi di timur tengah yang dipelopori oleh kaum muda memberikan gambaran bahwa memang sebenarnya kaum muda itu memiliki power yang bisa melakukan perubahan besar dalam suatu bangsa.

Seperti  yang diungkapkan oleh Ortega Y Gasset yang memercayai “kaum muda” sebagai agen perubahan maka seharusnya kaum muda bisa bangkit dan kembali pada jalur yang telah ditakdirkan oleh Tuhan sebagai agen perubahan untuk kemaslahatan bangsa dan Negara ini.

Memang sudah terlalu lama bangsa ini berada dalam bayang-bayang kemerosotan moral khususnya kaum mudanya. Paham liberalisme yang telah menggerogoti banyak kaum muda dan telah berhasil menggiring mereka menjadi individualistis dan apatis sehingga perilaku gotong royong yang telah lama menjadi budaya dan karakter bangsa mulai redup dan mulai ditinggalkan. Sejalan dengan keadaan itu,system kapitalis yang turut andil memporak porandakan hampir semua aspek kehidupan masyarakat semakin memperparah keadaan. Kondisi ini memang paraha namun terus terhanyut dalam keadaan ini bukanlah tindakan yang tepat. Segera bangkit dan mulai mengejar ketertinggalan adalah jawaban yang harus segera dilakukan.

Terpilihnya bapak Joko widodo sebagai presiden republik Indonesia yang ke tujuh telah merepresentasikan kebangkitan kaum muda di pentas nasional. Bapak Jokowi sebagai simbol kebangkitan kaum muda telah memberikan energy baru bagi segenap kaum muda sehingga bisa kembali meng”instal ulang” pola pikir dan tingkah laku yang sebelumnya buruk dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama menjadi baik dan bermoral.

Hadirnya bapak Jokowi ini sangat diharapkan mampu meng”update”mentalitas dan karakter kaum muda dalam rangka membangun kembali generasi muda yang berkpribadian baik dan bermental bagus. Revolusi mental yang digagas oleh bapak Jokowi sebagai “jalan utama” tidak lain ditujukan untuk memperbaiki bobroknya metalitas bangsa sehingga bisa kembali pada nilai dasar yang dianut oleh bangsa ini.

Mengutip apa yang diungkapkan oleh bapak proklamator Indonesia “berikan aku satu orang pemuda maka akan ku guncangkan dunia” meniscayakan bahwa betapa kekuatan kaum muda ini begitu sangat fantastis dan bisa menjadi harapan masa depan bangsa.

Pada akhirnya momentum 28 Oktober yang telah kita lewati dan diperingati sebagai hari kebangkitan pemuda serta terpilihnya bapak Jokowi sebagai presiden yang mewakili generasi muda bangsa ini sudah sepatutnya menjadi awal bagi kebangkitan kaum muda yang diharapakan mampu mengawal arah perubahan bangsa menuju Indonesia hebat yang bisa mandiri dalam ekonomi,berdaulat dalam politik serta berkepribadian dalam budaya.

(Tulisan ini dimuat juga di Gorontalo Pos 1 November 2014)

 

Masa Depan Buku di Era Digital

shutterstock_174085379
Gambar Ilustrasi

“aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Demikianlah seuntai kalimat yang pernah diucapkan oleh sang proklamator bangsa ini, Bung Hatta ketika mendekam dalam tahanan penjajah. Beliau rela dipenjara asalkan buku-buku menemani kesendirianya dalam tahanan.

Sangat menarik ketika kita membincang tentang buku. Karena lewat untaian cerita sejarah masa lalu yang tercatat rapi pada setiap lembaran-lembaran bukulah sehingga  kita bisa memahami identitas kita hari ini. Karena bukulah kita menjadi manusia-manusia cerdas yang bisa menciptakan peradaban untuk mempertahankan eksistensi kehidupan dimuka bumi yang fana ini.

Dengan buku kita bisa mendaras berbagai macam pengetahuan mulai dari yang berhubungan dengan sains, ilmu sosial, budaya, dan lain-lain. Dengan buku kemudian kita bisa belajar sehingga dapat menjalani dan menata kehidupan ini dengan baik. Kita mampu menembus ruang angkasa, menjelajahi dunia yang maha luas serta bisa menyelami lautan yang sangat dalam.

Buku Membangun Peradaban

Mungkin kita bisa berkaca dari salah satu negara yang saat ini menjadi patron perkembangan teknologi dan ekonomi di kawasan asia yaitu Jepang. Disana kita bisa saksikan bagaimana tingginya  minat baca yang dimiliki oleh generasinya baik itu yang tua, muda ataupun anak-anak. Mereka sangat gemar membaca buku baik itu saat mereka berada diatas kendaraan umum, ditempat-tempat tongkrongan seperti café, dihalte tempat menunggu kendaraan umum terlebih lagi saat berada dilingkungan kampus. Hampir tidak pernah kita menemukan mereka duduk kosong tanpa membaca buku.

Kegemaran masyarakat jepang membaca buku inilah yang  akhirnya menjadikan negara ini menjadi maju dan mampu membangun kembali peradabannya. Hanya dalam kurun waktu yang tidak lama, Jepang kemudian bisa bangkit dari kehancuran pasca dijatuhkanya bom atom di nagasaki dan hiroshima saat perang dunia II berkecamuk.

Selain itu, kita juga bisa belajar dari para founding father negeri ini. selain bung hatta, soekarno juga yang merupakan presiden pertama negeri ini adalah merupakan seorang kutu buku. Buku telah menginspirasi dan membuka wawasan seorang soekarno untuk membawa negeri ini terlepas dari kungkungan penjajahan bangsa asing yang telah membuat rakyat menderita.

Cukup banyak pelajaran yang bisa kita petik dari dari proses terbentuknya sebuah peradaban. Hampir semua yang menggerakan perbuahan itu adalah mereka yang terilhami dari apa yang telah dibacanya lewat buku. Untuk itu maka sudah sepatutnya bagi kita agar bisa membuka hati serta pemikiran dengan memotivasi diri agar rajin membaca buku. Sudah seharusnya buku dijadikan sebagai jendela untuk melihat masa depan dan membangun peradaban yang lebih baik dari sebelumnya serta menjadikan buku sebagai jembatan untuk mencintai ilmu pengetahuan yang begitu luas adanya.

Realitas Masyarakat Digital

Era digital hari ini telah mengantarkan kita pada satu keadaan yang luar biasa. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan kita hampir setiap saat terkoneksi dengan banyak hal yang bisa kita akses melalui perangkat elektronik seperti komputer ataupun gadget. Namun sangat disayangkan ketika melihat sebagian dari kita terjebak dalam kebablasan dalam berteknologi. Hal ini kemudian yang memicu lahirnya generasi yang apatis terhadap segala hal termasuk malas membaca buku.

Lihat saja hampir diseluruh tempat tongkrongan yang ada saat ini sangat jarang kita menemukan orang yang sedang nongkrong sambil membaca buku. Hampir bisa dipastikan mereka yang sedang duduk disana kalau tidak sedang main game pasti sedang mengakses sosial media dan konten-konten lain yang hampir tidak ada manfaatnya.

Begitu juga halnya dengan pemandangan yang ada disekolah ataupun kampus. Sangat sedikit kita menjumpai mereka yang betah untuk nongkrong di perpustakaan. Tempat itu seolah menjadi tempat angker yang pantang untuk didatangi. Sehingga buku-buku yang ada diperpustakaan hanya  menjadi pajangan dan dipenuhi dengan debu yang seolah tidak ada artinya sama sekali.

Sangat disayangkan. Disaat bangsa ini sedang dilanda oleh persoalan-persoalan ruwet tapi justru generasinya terlena dan menyibukkan diri dengan aktifitas yang jauh dari buku. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam didepan komputer yang telah terkoneksi dengan internet untuk mengakses hal-hal yang tidak penting seperti bermain game online dan bersosial media serta  bersikap masa bodoh dengan persoalan yang ada.

Solusi Alternatif

Ada yang berpendapat bahwa kebutuhan umat manusia harus disesuaikan dengan konstalasi perkembangan zaman. Artinya bahwa, jika hari ini masyarakat telah menggandrungi aktifitas yang serba online, maka sudah sepatutnya keberadaan buku juga harus bisa terdigitalisasi sehingga dengan mudah bisa diakses secara online.

Hanya saja yang jadi persoalan adalah, seberapa besar keinginan kita untuk membaca buku digital. Dapatkah kita berkosentrasi secara penuh dan tenggelam dalam isi setiap baris buku yang kita baca? Sementara ketika kita tekoneksi dengan internet maka pada saat itu kita tidak hanya terhubung pada satu jenis konten saja, namun kita terkoneksi dengan banyak hal. Sehingga tidak menutup kemungkinan konsentrasi kita akan terganggu dan kehilangan focus saat membaca .

Memang sangatlah sulit untuk menebak bagaimana nasib buku dimasa depan. Dalam keadaan yang multi bentuk seperti ini justru penulis sendiri meragukan keberadaanya apakah ia bisa semakin digandrungi banyak orang atau malah ditinggalkan karena memang saat kita terkoneksi dengan internet maka semua hal yang kita ragukan bisa segera terjawab dengan hanya mengetikkan beberapa kalimat pada mesin pencari tanpa perlu membaca buku. Mungkin hanya dengan tetap menjaga kesadaran diri dan selalu mematri semangat dalam diri untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik maka keinginan membaca bisa terus bergejolak didalam dada bagaimanapun bentuk bukunya, digital ataupun  manual.

(Tulisan ini dimuat juga di Buton Pos 14 Januari 2016)

Mewaspadai Proganda LGBT Di Dunia Maya

Propaganda LGBT
Gambar Ilustrasi

Hangatnya perbincangan tentang LGBT di tengah-tengah masyarakat kita saat ini rasanya sudah sampai dititik nadir. Pasalnya bukan Cuma dari kalangan akademisi, praktisi dan agamawan saja yang membahasnya, namun  ibu-ibu rumah tangga-pun menjadikan topic LGBT ini sebagai bahan cerita mereka.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadikan LGBT menjadi trending topic di tanah air kita. Pertama, karena LGBT tidak sesuai dengan norma yang dianut oleh bangsa ini meskipun jika kita perhatikan ada beberapa Negara yang melegalkannya seperti Amerika. Kedua, karena persoalan LGBT terkait dengan masalah hak asasi menusia yang tentu saja hal ini menjadi seksi untuk dipergunjingan. Ketiga, karena adanya propaganda yang disinyalir sebagai upaya untuk mencari ‘kawan baru’ dan telah merambah di dunia maya.

Kaitanya dengan point ketiga maka tentu persoalan ini perlu untuk diperhatikan secara serius. Pasalnya propaganda LGBT yang menggunakan jalur internet ini tentu saja sangat berbahaya. Jika kita melihat data yang dirilis oleh APJII bahwa pada tahun 2015 kemairn bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai angka 100 juta dan pada tahun 2016 angka itu disinyalir akan terus mengalami peningkatan, maka hal ini mengindikasikan betapa besarnya peluang bagi kaum LGBT untuk menambah ‘kawan baru’. Apalagi hampir 80% penggunaan internet diakses melalui gadget, maka itu tentunya akan semakin memudahkan penyebaran propaganda LGBT. Mengingat betapa hampir semua manusia yang ada di bumi Indonesia ini mulai dari yang tua sampai anak-anak pasti memeiliki gadget yang bisa mengakses jaringan internet.

Anak Kita Calon Korban

Tentunya telah banyak tesis-tesisi ilmiah yang membahas tentang apa dan bagaimana LGBT itu. Begitu juga dalam kitab-kitab umat beragama jelas dan sangat gamblang diterangkan. Oleh karena itu maka semua pasti sudah mahfum dengan bahaya yang ditimbulkanya.

Oleh karena itu maka penting kiranya untuk membincang tentang bagaimana jadinya jika propaganda LGBT ini menyebar melalui saluran maya yang hampir semua orang bisa mengaksesnya termasuk anak-anak. Tentu ini menjadi sebuah perkara yang amat serius dan meresahkan para orang tua. Apalagi  dewasa ini hampir semua anak-anak Indonesia telah memiliki perangkat gadget yang berarti bahwa kesempatan berselancar didunia maya itu semakin terbuka leba. Kalaupun ada anak-anak yang belum memiliki gadget itu jumlahnya sangat sedikit.

Bagaimana jadinya jika anak-anak itu terpapar atau tergoda dengan propaganda LGBT yang mengajarkan bahwa hubungan sesam jenis adalah sebuah keniscayaan. Tentu ini sangat berbahaya. Mengingat masa kanak-kanak adalah saat dimana mereka begitu mudah untuk mengikuti sesuatu yang baru. Pada saat ini seorang anak memiliki kecenderungan untuk mencari hal-hal yang menarik sehingga keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru mereka lihat atau baca itu sangat tinggi.

Tentu hal ni tidak bisa dibiarkan. Karena setiap orang tua pasti tidak ada yang menginginkan anak mereka untuk menjadi LGBT. Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka untuk tumbuh menjadi manusia yang normal mengikuti norma dan aturan langit yang tertulis jelas pada kitab-kitab setiap umat beragama.

Orang Tua Sebagai Tameng Utama

Untuk menangkal persoalan ini tentu bukanlah perkara gampang. Mengingat betapa era digital telah memaksakan sebuah keadaan bahwa setiap orang harus memiliki gadget termasuk anak-anak. Selain itu kepemilikan gadget ini telah menjadi sebuah kebutuhan bagi seseorang .

Memang di zaman digital ini, membekali anak dengan gadget atau perangkat teknologi yang sejenisnya adalah sebuah keharusan yang harus dipenuhi. Karena hal itu digunakan sebagai sarana komunikasi antara anak dan orang tua. Namun bagaimana jadinya jika gadget itu disalah gunakan oleh si anak, tentu akan menjadi repot. Mengingat propaganda LGBT yang bisa menghancurkan mental anak itu terpampang dengan nyata di dunia maya baik itu dihalaman-halaman sosial media ataupun konten-konten website.

Oleh karena itu maka alternative yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah memberikan pendidikan dan pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakan perangkat gadget secara cerdas. Karena menjauhkan anak-anak dari perangkat digital tentu saja bukan merupakan sebuah solusi konkrit

Membekali mereka dengan wejangan kebaikan, memahamkan mereka akan norma-norma agama serta menjelaskan aturan main yang harus diikuti saat berselancar didunia maya maka tentu saja hal itu bisa saja menghindarkan meraka dari pengaruh propaganda LGBT.  Disamping itu menjelaskan kepada mereka akan dampak buruk dari LGBT itu tentu menjadi sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua terhadap anaknya. Dengan demikian saat seorang anak mampu memahaminya dengan baik maka bisa dipastikan bahaya propaganda LGBT ini bisa dihindari.

Selain itu yang paling penting juga bagi orang tua adalah jangan mencotohkan kepada anaknya bagaimana menggunakan perangkat digital dengan baik dan benar. Karena pepatah lama mengatakan bahwa seorang anak itu terkadang malas untuk mendengarkan bicara atau omongan orang tuanya tapi seorang anak tidak akan pernah lupa dengan apa yang dia lihat dari orang tuanya.

(Tulisan ini dimuat juga di Buton Pos 7 Maret 2016)

TIK dan Masa Depan Hutan Kita

poster kelas 5
Gambar Ilustrasi

Membaca tulisan ibu Ellyyana said yang dimuat Koran ini pada senin 21 maret 2016 kemarin rasanya begitu miris dan tentu sangat mengkhawatirkan. Disitu disebutkan bahwa berdasarkan data forest watch  Indonesia, selama kurun 2009-2013 laju kehilangan hutan alam di Indonesia mencapai 1,13 juta hectare pertahun. Yang menjadi penyebab utama hilangnya hutan ini adalah karena masih sangat tingginya angka deforestasi yang salah satunya berkaitan dengan konveresi hutan untuk hutan tanam industry (HTI). Dari hutan tanam industry inilah pasokan bahan baku untuk perusahaan-perusahaan pembuatan kertas diperoleh.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, bagaimana jika kebutuhan bahan baku untuk pembuatan kertas diperusahaan-perusahaan itu tidak bisa terpenuhi dari hutan tanam indsutry, maka tentunya ini akan menjadi masalah. Tentu masih hangat diingatan kita beberapa tahun yang lalu saat menteri kehutanan di duduki oleh MS Kaban, lahirlah Keputusan Departemen Kehutanan yang memberikan kelonggaran terhadap perusahaan untuk menggunakan kayu yang ditebang dari hutan-hutan alam agar bisa menutupi defisit pasokan dari hutan tanaman industry sebagai bahann baku pembuatan kertas.

Dari kondisi ini tentunya sudah bisa dibayangkan betapa besarnya resiko yang ditimbulkan dibalik pembuatan kertas. Begitu banyak pohon yang harus ditebang dan tentunya jika hal ini berlangsng lama serta tidak terkendali maka bisa merusak hutan kita.

Tentunya kita tidak menghendaki hal itu terjadi, meskipun memang hutan kita saat ini sudah mengalami kerusakan. Namun, sebelum kerusakanya bertambah parah ada baiknya kita segera melakukan upaya-upaya yang bisa menekan terjadinya kerusakan itu terus berlanjut salah satunya yaitu dengan meminimalkan penggunaan kertas dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pemanfaatan TIK Sebagai Solusi

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan kita akan kertas begitu sangat tinggi. Hampir disemua proses kehidupan yang kita jalani sehari-hari selalu saja diperhadapakan dengan penggunaan kertas. Di dunia kampus misalnya. Bagi seorang mahasiswa yang duduk dibangku perkuliahan, mulai sejak mendaftar pertama kali memasukkan berkas sampai akhirnya mengerjakan tugas akhrinya untuk mencapai gelar sarjana pasti tidak bisa menghindari penggunaan kertas.

Kalau dihitung-hitung mungkin saja seorang mahasiswa selama proses perkuliahanya akan menghabiskan lebih kurang 20 rim kertas. Jika satu orang saja sudah bisa menggunakan kertas dengan jumlah demikian maka ada berapa banyak kertas yang digunakan oleh seluruh mahasiswa yang ada diseluruh belahan dunia ini. Sementara untuk menghasilkan 1 rim kertas dibutuhkan 1 pohon usia 5 tahun, maka adab erapa banyak pohon yang harus ditebang untuk itu.

Belum lagi misalnya jika kita melihat bagaimana pemanfaatan kertas dilingkungan peerkantoran baik itu swasta ataupun negeri. Tentu untuk menghitung berapa banyak kertas dan pohon yang harus digunakan rasanya akan sangat sulit. Namun sebetulnya jika kita semua mau tentu saja bukan hal yang tidak mungkin penggunaan kertas bisa diminimalisir lewat pemanfaatan perangkat teknologi dan informasi.

Era digital yang ditandai dengan hadirnya berbagai macam aplikasi dan perangkat teknologi canggih tentu saja ini bisa menjadi alternatif utama yang bisa menggantikan pemanfaatan kertas untuk hal-hal tertentu. Misalnya, dilingkungan kampus. Pelaksanaan ujian yang sebelumnya menggunakan kertas bisa digantikan dengan menggunakan aplikasi e-learning dimana pelaksanaan ujianya mengerjakan soal-soal yang sudah terpampang dillayar komputer tanpa perlu menggunakan kertas lagi. Selain itu pengumpulan tugas-tugas kuliah dalam bentuk makalah tidak perlu lagi dilakukan, namun lebih diarahkan pada pengumpulan tugas dalam bentuk e-paper.

Selain itu, untuk instasi swasta dan negeri bisa memulai upaya peminimalisiran penggunaan kertas dengan membiasakan menggunakan aplikasi pengiriman data secara online dalam menangani berkas-berkas kantor antara unit kerja yang satu dengan yang lainya ketimbang harus menggunakan berkas fisik yang diprint menggunakan kertas berlembar-lembar banyaknya.

Masih banyak lagi hal lain yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan perangkat teknologi saat ini dalam rangka meminimalisir penggunaan kertas, tinggal bagaimana kita mau melakukanya atau tidak. Disamping itu untuk mewujudkan ini tentu perlu campur tangan pemerintah sebagai penentu kebijakan. Dengan mengeluarkan aturan yang mengharuskan segala aktifitas penggunaan kertas baik itu dilingkungan swasta ataupun negeri untuk diminimalisir dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang sudah ada saat ini.

Memang hal-hal ini terlihat sederhana, namun jika semua orang mau melakukanya maka tentu saja akan sangat besar terasa dampaknya. Agak sulit memang untuk mengubah kebiasaan lama dimana kita begitu gemar menggunakan kertas untuk hal-hal yang remeh temeh sekalipun. Perlu kesadaran yang kuat bagi kita untuk memulai langkah kecil dengan seminimal mungkin menggunakan kertas hanya untuk hal-hal yang memang tidak bisa digantikan dengan menggunakan perangkat teknologi misalnya.

Namun jika penggunaan kertas dalam aktivitas kita sehari-hari bisa dijembatani dengan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, maka alangkah baiknya pilihan inilah yang harus digunakan. Jangan sampai kegemaran kita dalam menggunakan kertas membuat kita lupa bahwa itu bersumber dari pohon terakhir yang telah ditebang demi memenuhi hasrat manusia yang tidak bisa mengambil pelajaran dari betapa banyaknya kejadian mengerikan yang terjadi akibat hilangnya hutan yang ada dimuka bumi ini. Semoga kita sadar.

(Tulisan ini dimuat juga di koran Fajar 23 Maret 2016)

 

Kaum Ibu Di Era Digital

Family Sitting On Sofa At Home With Laptop
Gambar Ilustrasi (Sumber : resources.uknowkids.com)

Momentum hari ibu yang jatuh tepat tanggal 22 desember beberapa hari yang lalu sejenak mengalihkan aktivitas para netizen untuk menuliskan ungkapan-ungkapan penuh cinta tentang ibu dihalaman sosial media yang mereka miliki. Tidak ketinggalan istri orang nomor satu dinegeri ini ibu iriana jokowi lewat akun twitternya @irianajokowi menulis “mari muliakan ibu,karena ibu adalah lambang surga yang bisa kita lihat dan terlihat didunia.selamat hari ibu”. Begitu juga halnya dengan mantan presiden kita susilo bambang yudhoyono yang terbilang begitu aktif di sosial media lewat akun twitternya @SBYudhoyono,ia menulis “jangan sia-siakan kesempatanmu untuk menyampaikan kasih sayang kepada ibu,muliakan dan lindungilah kaum perempuan. Selamat hari ibu”. Selain itu,para artis yang ada dinegeri ini juga turut melakukan hal yang sama menuliskan kata-kata sanjungan untuk ibu lewat akun sosial media yang mereka miliki.

Menggemanya ungkapan selamat hari ibu dari semua lapisan masyarakat sehingga tidak mengherankan  hal ini menjadi trending topic dunia di tiwitter. Kicauan yang berisi tentang doa dan pengharapan agar sang ibu selalu disayangi dan dikasihi oleh yang maha kuasa seolah menjadi kata berantai dari semua netizen yang ada dimuka bumi ini.

Mungkin sebagian dari kita akan merasa bangga dan bahagia kalau ucapan selamat hari ibu menjadi trending topic dunia. Kita merasa telah berhasil mengangkat derajat mereka karena telah mengantarkan nama ibu menjadi puncak pembicaraan di sosial media. Tapi apakah bagi kaum ibu semua keadaan ini sudah bisa membuat mereka bangga? Tentu saja jawabanya tidak sama sekali. Karena kebanggaan kaum ibu terwujud ketika mereka telah melihat anak-anaknya menjadi manusia yang sukses dan bermoral.

Realitas Kaum Ibu Saat Ini

Sejak kita terlahir dimuka bumi ini orang yang paling setia melindungi dan selalu ada untuk kita adalah ibu. Maka dari itu orang yang pertamakali paling bertanggung jawab atas pendidikan dasar bagi seorang anak adalah ibunya.

Namun,terkadang kaum ibu salah kaprah dalam mendidik anaknya. Masih banyak kita menjumpai kaum ibu saat ini mendidik anaknya hanya sebatas untuk memberikan pemahaman dasar kepada anaknya tanpa melihat kondisi dan keadaan yang akan dihadapi oleh anak-anakanya disaat ini dan dimasa depan nanti.

Masih banyak kaum ibu yang tidak memahami bahwa seiring berjalannya waktu tuntutan pendidikan dasar untuk seorang anak terus saja berubah,apalagi saat ini telah memasuki era digital dimana anak-anak mau tidak mau dalam proses tumbuh kembangnya akan diperhadapkan dengan beragam produk digital yang tentu saja jika tanpa pendampingan dan penanaman pendidikan yang kuat dari sang ibu tentang bagaiamana menggunakan teknologi digital dengan baik dan benar maka akan sulit untuk menghindarkan sang anak dari pengaruh buruk perangkat-perangkat digital tersebut.

Jika kita mengutip apa yang pernah dinasehatkan oleh imam Ali R.A bahwa didiklah anakmu sesuai zamannya karena sungguh yang mereka hadapi masa yang berbeda dengan masa yang kita hadapi, maka sudah sepatutnya kaum ibu untuk kembali memperhatikan apa yang akan mereka ajarkan kepada anak-anaknya.

Segera Belajar atau Gagal Mendidik Anak

Semakin maraknya penggunaan perangkat teknologi digital oelh anak-anak saat ini sehingga tidak jarang kita menjumpai ada yang kebablasan dalam menggunakannya. Kondisi ini tentu saja akan mengundang pertanyaan bagi kita semua,kenapa hal seperti itu bisa terjadi?. Tentu saja jawabanya adalah karena mereka belum memiliki pemahaman yang baik tentang teknologi digital yang mereka gunakan. Dan yang memperparah keadaan adalah karena sang ibu yang bertugas untuk mendampingi dan mendidik anak-anaknya juga tidak memiliki pemahaman sama sekali tentang bagaimana seharusnya teknologi digital itu digunakan .

Hari ini kita melihat begitu banyak kaum ibu yang begitu saja pasrah dengan keadaan ini. Ada dari mereka merasa  sudah tidak mampu dalam mendidik anak-anaknya mengikuti perkembangan zaman,sehingga menyerahkan begitu saja pendidikan dasar untuk anak-anaknya kepada pihak sekolah atau lembaga sejenis. Tapi hal ini tentu saja adalah tindakan yang keliru,karena sekolah tidak bisa memberikan pemahaman yang lebih kepada anak-anak. Terbatasnya waktu anak-anak berada disekolah adalah kendala utamanya. Disamping itu,sekolah hanya berfungsi untuk mengajarkan pengetahuan ,bukan untuk mendidik dan memahamkan sang anak. Tugas kaum ibulah untuk mendidik dan memahamkan anak-anaknya tentang segala sesuatunya.

Kaum ibu harus segera belajar dengan memperkaya pengetahuan dan pemahamannya tentang teknologi digital kemudian segera memberikan pemahaman yang baik terhadap anak-anaknya. Sudah tidak ada lagi alasan bagi kaum ibu untuk tidak segera memperbaharui pengetahuanya agar bisa mendidik dengan baik dan benar jika mereka menginginkan anak-anaknya bisa tumbuh dan besar dengan pemahaman yang baik pula atas apa yang mereka lihat dan rasakan saat ini,khususnya yang berkaitan dengan pemanfaat teknologi digital. Jika pendampingan dan pendidikan yang baik tidak segera dilakukan maka kecenderungan anak-anak untuk tumbuh menjadi budak teknologi tak akan terelakan lagi,begitu sebailknya jika kaum ibu mampu mendampingi dan mendidik anak-anaknya dengan pamahaman yang cukup terhadap teknologi digital masa kini maka bukan hal yang mustahil anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan bermoral dan yang pasti tidak berpotensi untuk menjadi budak teknologi.

(Tulisan ini dimuat juga di koran Fajar 30 Desember 2014)

SIstem Transportasi Cerdas Untuk Makassar

slide_3
Gambar Ilustrasi

Beberapa pekan yang lalu saya sempat membaca salah satu opini yang ditulis oleh Dr. Indrabayu yang merupakan kordinator peneliti Kecerdasan Buatan Dan Multimedia Universitas Hasanuddin tentang revolusi sistem transportasi di Indonesia yang dimuat pada 30 april 2015. Dalam tulisanya dijelaskan bahwa salah satu solusi tepat untuk mengatasi persoalan transportasi di Indonesia adalah dengan menerapakan sistem transportasi cerdas untuk mengoptimalkan fungsi rambu-rambu lalu lintas terutama pengaturan traffic light agar bisa berfungsi secara optimal.

Kemarin, (26 Mei 2015) dalam pemberitaan yang dimuat oleh Koran ini menyebutkan bahwa persoalan kemacetan yang terjadi dimakassar disebabkan karena tidak optimalnya fungsi traffic light. Hal ini dapat dilihat pada beberapa titik ruas jalan traffic light tidak bekerja dengan semestinya. Kendaraan masih lenggang tetapi traffic light sudah menunjukkan tanda merah dimana kendaraan harus berhenti, dan dilain sisi juga terjadi hal yang sebaliknya. Kendaraan sudah padat dan menumpuk akan tetapai traffic light tidak segera menunjukkan tanda hijau sebagai perintah agar kendaraan segera berlalu.

Dari persoalan ini, maka sangat tepat rasanya untuk kemudian menerapkan sistem cerdas untuk traffic light sehingga dalam prosesnya bisa bekerja optimal dan berjalan sesuai dengan kondisi yang semestinya diinginkan yaitu mengatur lalu lintas kendaraan dengan baik agar penumpukan kendaraan yang berujung pada kemacetan tidak lagi terjadi.

Sistem Cerdas Untuk Traffic Light

Tentunya kita akan bertanya, seperti apa sistem cerdas untuk traffic light itu. Apakah ketika nanti diimplementasikan bisa betul-betul memberikan hasil yang baik dalam hal ini bisa mengurasi kemacetan yang ada.

Sistem cerdas adalah sistem yang menerapkan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan disini menurut H. A. Simon [1987] merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang dalam pandangan manusia adalah cerdas. Jadi, “kecerdasan buatan” inilah yang diciptakan untuk kemudian diintegrasikan dengan sistem traffic light. Sistem ini dibuat agar dapat berpikir layaknya manusia. Sistem ini juga dibuat agar dapat “berperilaku” seperti manusia, juga mampu menyerap pengalaman dan mampu bertindak berdasarkan pengalaman tersebut, sehingga sistem ini seolah-olah mempunyai kehendak sendiri dan mampu berpikir seperti halnya manusia. Dengan tujuan untuk membuat traffic light dapat bekerja secara otomatis dalam mengontrol lalu lintas kendaraan.

Sudah begitu banyak contoh kota-kota dunia yang telah menerapkan sistem ini. Jika kita kembali merujuk dari apa yang pernah dituliskan oleh Dr.Indrabayu dalam opininya 30 april 2015 tentang pengalamanya sewaktu berada di Clayton town Australia bahwa sejak tahun 2001 kota ini telah mengimplementasikan sistem transportasi cerdas dan hasilnya bisa kita lihat sendiri betapa teraturnya sistem transportaasi yang ada disana khususnya cara kerja traffic light dalam mengontrol lalu lintas kendaraan.

Bukan Cuma itu, sistem transportasi cerdas di Australia telah dikembangkan lebih jauh lagi dan mencakup semua aspek sistem transportasi yang ada disana. Mulai dari kontol pelaku pelanggaran lalu lintas akibat memacu kendaraanya melebihi batas kecepatan yang ditentukan secara otomatis menggunakan sistem cerdas sampai pada bagaimana kemudian masyarakat disana melakukan pembayaran sewa kendaraan umum secara otomatis menggunakan kartu cerdas.

Sistem Cerdas Dan Budaya Tertib

Implementasi sistem cerdas untuk traffic light tentu saja bukan tentang bagaimana kemudian traffic light bisa bekerja dengan baik secara otomatis dalam mengatur lalu lintas dijalan raya. Akan tetapi, sistem cerdas ini bisa dikembangkan juga untuk mengontrol perilaku manusia pengguna kendaraan dijalan raya agar bisa berperilaku tertib dalam berkendara.

Kita bisa bayangkan jika kemudian sistem cerdas ini bisa dikembangkan seperti apa yang dilakukan oleh pemerintah Australia dalam mengontrol segala tindak tanduk pengguna kendaraan dijalan raya. Ketika ada yang melanggar maka secara otomatis sistem cerdas yang terintegrasi dengan traffic light bisa langsung mengidentifikasi kendaraan si pelaku pelanggaran lalu lintas baik itu dengan pengenalan plat kendaraan atau wajh si pemilik kendaraan. Dengan ini sehingga maka pelaku pelanggaran lalu lintas tidak bisa lagi mengelak terhadap apa yang sudah dilakukan karena bukti yang otentik dari pemilik kendaraan dengan jelas tersimpan dengan rapi pada database sistem yang sudah dibuat.

Kemudian lebih jauh lagi, jika sistem traffic light ini sudah terintegrasi dengan dinas lalu lintas maka secara otomatis bisa saja tagihan denda atas pelanggaran yang kita lakukan dijalan raya secara tidak sengaja akan kita dapatkan.

Sehingga dari sini kita bisa memahami bahwa sistem cerdas merupakan solusi ideal dalam mengatasi persoalan lalu lintas, khususnya persoalan macet di kota Makassar dan tentu saja jika sistem ini dikembangkan kearah yang lebih kompleks maka tertib berlalu lintas serta kesadaran masyarakat bisa bertumbuh.

Apalagi Makassar hari ini bercita-cita untuk menjadi kota dunia berbasis smart city, maka sudah sepantutnya tatanan kota khususnya property lalu lintas dijalan raya seperti traffic light bisa didesain bukan hanya untuk menyelesaikan masalah kemacetanya, tetapi juga bisa mengupgrade moral masyarakatnya sehingga bisa terbangun tatanan kehidupan masyarakat yang bermental baik dan tidak bobrok.

(Tulisan ini dimuat juga di koran Fajar 27 Mei 2015)

Tumbal Kesemrawutan Lalu Lintas Di Kota Makassar

2970344_20130624011312
Gambar Ilustrasi

Selasa, 25 agustus 2015 kabar duka kembali terdengar. Seorang wartawan Koran ini, surialang bage dikabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan yang dialaminya di jalan urip sumuharjo. Dari kesaksian beberapa orang yang melihat langsung kejadian tersebut menyebutkan bahwa kecelakaan itu disebabkan karena motor korban tertabrak oleh truk roda enam pengangkut pasir.

Orang awam yang baru mendengar berita ini pasti akan kaget dan sulit untuk percaya kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah karena korban yang salah akibat mengendarai motornya ugal-ugalan ataukah karena memang ada hal lain yang menjadi penyebab utama kecelakaan ini.

Tentu saja akan banyak persepsi yang timbul terkait dengan kecelakaan yang dialami korban dijalan urip sumuharjo. Namun jika melihat realitas yang ada maka setiap orang yang pernah atau sering melintasi jalur jalan tersebut mungkin saja akan memberikan jawaban yang seragam, bahwasanya kecelakaan itu terjadi akibat kesemrawutan lalu lintas.

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi ketika kita melintasi jalan tersebut hampir semua jenis kendaraan mulai dari truk beroda enam sampai dengan mobil truk yang sulit dihitung berapa jumlah rodanya dengan leluasa hilir-mudik seolah jalan itu adalah milik mereka sendiri tanpa memperdulikan pengguna jalan yang lain. Dengan seenaknya mereka berkendara secara ugal-ugalan tanpa memikirkan apakah cara berkendara yang mereka lakukan itu bisa membahayakan pengendara lain atau tidak.

Sungguh ironi, kota yang diproyeksikan menjadi kota dunia yang nyaman namun kondisi lalu lintasnya masih jauh dari apa yang diharapkan. Jalan raya masih sangat angker dan setiap saat para pengendara selalu dihantui ketakutan jangan sampai menjadi tumbal selanjutnya akibat tabrakan truk yang lalu lalang di jalan raya dengan bebasnya.

Perlu Penangan Serius

Saat tulisan ini mulai saya buat, ternyata SKPD masih saja berdebat terkait konsideran draft perwali (fajar, 26 agustus 2015). Perwali yang mengatur tentang operasi mobil truk sejak tahun 2014 mulai diwacanakan untuk direvisi ternyata sampai saat ini masih didiamkan seolah-olah kondisi lalu lintas sedang baik-baik saja. Padahal korban telah banyak berjatuhan akibat pembiaran yang dilakukan oleh pihak berwenang dan tidak menindaki dengan tegas mobil  truk yang berkeliaran dijalan raya.

Segera merevisi perwali yang mengatur lalu lintas kendaraan mobil truk sudah seharusnya dilakukan oleh pemerintah tanpa menunggu-nunggu lagi. Disamping itu, Dinas perhubungan yang ditugaskan untuk mengeksekusi peraturan ini dilapangan harus melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Sikap acuh tanpa perduli dengan keadaan lalu lintas yang ada sekarang akan semakin membahayakan nyawa pengguna jalan raya. Kecelakaan yang menimpa wartawan Koran ini yang terjadi saban hari sudah sepatutnya menjadi pelajaran berharga bagi dinas perhubungan untuk kembali giat turun kejalan dan menindaki mobil truk nakal yang tidak mengindahkan tata aturan berlalu lintas. Dinas perhubungan seharusnya mengupayakan segala cara untuk mensterilkan jalan raya dari kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan pengguna jalan.

Jika memang Makassar betul-betul ingin menciptakan kenyamanan kelas dunia untuk warganya maka sudah seharusnya persoalan lalu lintas ini segera dibenahi tanpa menunda lagi waktu revisi aturan yang ada. Karena keselamatan pengguna jalan raya tentunya lebih penting dibandingkan dengan hal lain yang menjadi penghambat sehingga revisi aturan perwali terhambat.

Butuh Solusi Alternatif

Terlepas dari belum direvisinya perwali untuk regulasi waktu operasi truk dalam kota, lemahnya penegakan aturan yang dilakukan oleh pihak berwenang terkait pengawasan keluar masuknya kendaraan truk didalam kota Makassar tentunya menjadi sentral maslah dalam persoalan ini.

Tentu saja hal ini akan menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengawasi secara berkesinambungan dengan meminimalisir terjadinya kecolongan sehingga mobil truk tidak bisa keluar masuk dengan seenaknya didalam kota.

Dari hasil diskusi penulis dengan beberapa peneliti di bidang sistem transportasi cerdas yang memusatkan penelitianya di Laboratorium AIMP universitas hasanuddin menjelaskan bahwa sesungguhnya pengawasan lalu lintas kendaraan yang selama ini dilakukan manusia bisa digantikan dengan perangkat teknologi seperti CCTV pengawas yang terintegrasi dengan metode kecerdasan buatan.

Perangkat teknologi ini tidak hanya merekam atau memonitoring lalu lintas kendaraan namun bisa menjalankan fungsi pengawasan layaknya manusia yang bisa mengidentifikasi secara detail setiap mobil yang keluar masuk dalam kota.

Dengan mengimplementasikan perangkat teknologi ini maka bisa dijamin bahwa pengawasan yang berjalan secara intens dan bisa sangat membantu petugas untuk mengontrol lalu litas kendaraan truk yang keluar masuk dalam kota.

Lebih dari itu, implementasi teknologi cerdas ini bukan saja menjadi solusi alternative untuk membantu mengawasi lalu lintas kendaraan truk agar tidak berkeliaran dalam kota yang bisa mengancam nyawa pengedara lainya namun hal ini merupakan pembuktian dari apa yang dicanangkan oleh pemerintah yang mencita-citakan Makassar menjadi kota cyber.

(Tulisan ini dimuat juga di Koran Fajar 31 Agustus 2015)