Ironi Kaum Muda di Era Kebebasan

86 tahun yang lalu tepatnya 28 okober 1928 kaum muda mengikrarkan sebuah sumpah yang kemudian dikenal dengan nama sumpah pemuda. Satu nusa,satu bangsa,dan satu bahasa adalah intisari dari sumpah yang mereka ikrarkan. Sepintas melihat penggalan kalimat-kalimat ini memanglah sederhana namun makna yang tersimpan didalamnya begitu sangat dalam.

Jika di cermati lebih jauh maka seyogIanya kita akan memahami bahwa Ikrar sumpah pemuda ini merupakan isyarat kebangkitan kaum muda untuk melakukan revolusi di negeri yang sedang carut marut ini. Kaum muda dituntut unuk menjadi “agen of change” dengan melakukan gebrakan-gebrakan yang brilian demi mengeluarkan bangsa ini dari lilitan persoalan yang semakin rumit. Kaum muda diharapakan bisa mengawal kemerdekaan dengan senantiasa meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuanya sehingga bisa terus-menerus melahirkan karya-karya yang berguna bagi nusa dan bangsa sebagai konsekuensi logis dan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan.

Namun kondisi kaum muda hari ini begiu sangat memprihatinkan dan banyak kita jumpai justru apa yang mereka lakukan terkadang bertolak belakang dengan semangat sumpah pemuda.

Era kebebasan saat ini justru membawa banyak kaum muda pada jalan yang salah. Kasus narkoba,tawuran antar pelaja,tawuran antar mahasiswa,kasus geng motor seolah tidak ada habisnya terjadi dan telah menjadi “trending action” dikalangan kaum muda hari ini.

Ironisnya,kejadian seperti ini justru menjadi hal yang lumrah ditengah-tengah kaum muda saat ini dan seakan telah berubah menjadi sebuah budaya yang tidak bisa dihindarkan lagi dari kehidupan kalangan kaum muda kita.

Ada sebuah ungkapan yang berkembang dikalangan kaum muda saat ini bahwa “urusan Negara adalah tanggung jawab pemerintah sedangkan urusan kaum muda hanyalah bersenang-senang menikmati kemerdekaan”. Sadar atau tidak pola mepikiran semacam ini telah mencerminan betapa kaum muda kita hari ini sudah tidak memahami lagi peran dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari pelopor perubahan untuk senantiasa mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. Jika kondisi ini dibiarkan maka cepat atau lambat maka bangsa ini akan kehilangan generasi emasnya yang menjadi penerus untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Momentum Perubahan

Berkaca dari berbagai revolusi yang terjadi didunia ini seperti Revolusi di timur tengah yang dipelopori oleh kaum muda memberikan gambaran bahwa memang sebenarnya kaum muda itu memiliki power yang bisa melakukan perubahan besar dalam suatu bangsa.

Seperti  yang diungkapkan oleh Ortega Y Gasset yang memercayai “kaum muda” sebagai agen perubahan maka seharusnya kaum muda bisa bangkit dan kembali pada jalur yang telah ditakdirkan oleh Tuhan sebagai agen perubahan untuk kemaslahatan bangsa dan Negara ini.

Memang sudah terlalu lama bangsa ini berada dalam bayang-bayang kemerosotan moral khususnya kaum mudanya. Paham liberalisme yang telah menggerogoti banyak kaum muda dan telah berhasil menggiring mereka menjadi individualistis dan apatis sehingga perilaku gotong royong yang telah lama menjadi budaya dan karakter bangsa mulai redup dan mulai ditinggalkan. Sejalan dengan keadaan itu,system kapitalis yang turut andil memporak porandakan hampir semua aspek kehidupan masyarakat semakin memperparah keadaan. Kondisi ini memang paraha namun terus terhanyut dalam keadaan ini bukanlah tindakan yang tepat. Segera bangkit dan mulai mengejar ketertinggalan adalah jawaban yang harus segera dilakukan.

Terpilihnya bapak Joko widodo sebagai presiden republik Indonesia yang ke tujuh telah merepresentasikan kebangkitan kaum muda di pentas nasional. Bapak Jokowi sebagai simbol kebangkitan kaum muda telah memberikan energy baru bagi segenap kaum muda sehingga bisa kembali meng”instal ulang” pola pikir dan tingkah laku yang sebelumnya buruk dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama menjadi baik dan bermoral.

Hadirnya bapak Jokowi ini sangat diharapkan mampu meng”update”mentalitas dan karakter kaum muda dalam rangka membangun kembali generasi muda yang berkpribadian baik dan bermental bagus. Revolusi mental yang digagas oleh bapak Jokowi sebagai “jalan utama” tidak lain ditujukan untuk memperbaiki bobroknya metalitas bangsa sehingga bisa kembali pada nilai dasar yang dianut oleh bangsa ini.

Mengutip apa yang diungkapkan oleh bapak proklamator Indonesia “berikan aku satu orang pemuda maka akan ku guncangkan dunia” meniscayakan bahwa betapa kekuatan kaum muda ini begitu sangat fantastis dan bisa menjadi harapan masa depan bangsa.

Pada akhirnya momentum 28 Oktober yang telah kita lewati dan diperingati sebagai hari kebangkitan pemuda serta terpilihnya bapak Jokowi sebagai presiden yang mewakili generasi muda bangsa ini sudah sepatutnya menjadi awal bagi kebangkitan kaum muda yang diharapakan mampu mengawal arah perubahan bangsa menuju Indonesia hebat yang bisa mandiri dalam ekonomi,berdaulat dalam politik serta berkepribadian dalam budaya.

(Tulisan ini dimuat juga di Gorontalo Pos 1 November 2014)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s