Masa Depan Buku di Era Digital

shutterstock_174085379
Gambar Ilustrasi

“aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Demikianlah seuntai kalimat yang pernah diucapkan oleh sang proklamator bangsa ini, Bung Hatta ketika mendekam dalam tahanan penjajah. Beliau rela dipenjara asalkan buku-buku menemani kesendirianya dalam tahanan.

Sangat menarik ketika kita membincang tentang buku. Karena lewat untaian cerita sejarah masa lalu yang tercatat rapi pada setiap lembaran-lembaran bukulah sehingga  kita bisa memahami identitas kita hari ini. Karena bukulah kita menjadi manusia-manusia cerdas yang bisa menciptakan peradaban untuk mempertahankan eksistensi kehidupan dimuka bumi yang fana ini.

Dengan buku kita bisa mendaras berbagai macam pengetahuan mulai dari yang berhubungan dengan sains, ilmu sosial, budaya, dan lain-lain. Dengan buku kemudian kita bisa belajar sehingga dapat menjalani dan menata kehidupan ini dengan baik. Kita mampu menembus ruang angkasa, menjelajahi dunia yang maha luas serta bisa menyelami lautan yang sangat dalam.

Buku Membangun Peradaban

Mungkin kita bisa berkaca dari salah satu negara yang saat ini menjadi patron perkembangan teknologi dan ekonomi di kawasan asia yaitu Jepang. Disana kita bisa saksikan bagaimana tingginya  minat baca yang dimiliki oleh generasinya baik itu yang tua, muda ataupun anak-anak. Mereka sangat gemar membaca buku baik itu saat mereka berada diatas kendaraan umum, ditempat-tempat tongkrongan seperti café, dihalte tempat menunggu kendaraan umum terlebih lagi saat berada dilingkungan kampus. Hampir tidak pernah kita menemukan mereka duduk kosong tanpa membaca buku.

Kegemaran masyarakat jepang membaca buku inilah yang  akhirnya menjadikan negara ini menjadi maju dan mampu membangun kembali peradabannya. Hanya dalam kurun waktu yang tidak lama, Jepang kemudian bisa bangkit dari kehancuran pasca dijatuhkanya bom atom di nagasaki dan hiroshima saat perang dunia II berkecamuk.

Selain itu, kita juga bisa belajar dari para founding father negeri ini. selain bung hatta, soekarno juga yang merupakan presiden pertama negeri ini adalah merupakan seorang kutu buku. Buku telah menginspirasi dan membuka wawasan seorang soekarno untuk membawa negeri ini terlepas dari kungkungan penjajahan bangsa asing yang telah membuat rakyat menderita.

Cukup banyak pelajaran yang bisa kita petik dari dari proses terbentuknya sebuah peradaban. Hampir semua yang menggerakan perbuahan itu adalah mereka yang terilhami dari apa yang telah dibacanya lewat buku. Untuk itu maka sudah sepatutnya bagi kita agar bisa membuka hati serta pemikiran dengan memotivasi diri agar rajin membaca buku. Sudah seharusnya buku dijadikan sebagai jendela untuk melihat masa depan dan membangun peradaban yang lebih baik dari sebelumnya serta menjadikan buku sebagai jembatan untuk mencintai ilmu pengetahuan yang begitu luas adanya.

Realitas Masyarakat Digital

Era digital hari ini telah mengantarkan kita pada satu keadaan yang luar biasa. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan kita hampir setiap saat terkoneksi dengan banyak hal yang bisa kita akses melalui perangkat elektronik seperti komputer ataupun gadget. Namun sangat disayangkan ketika melihat sebagian dari kita terjebak dalam kebablasan dalam berteknologi. Hal ini kemudian yang memicu lahirnya generasi yang apatis terhadap segala hal termasuk malas membaca buku.

Lihat saja hampir diseluruh tempat tongkrongan yang ada saat ini sangat jarang kita menemukan orang yang sedang nongkrong sambil membaca buku. Hampir bisa dipastikan mereka yang sedang duduk disana kalau tidak sedang main game pasti sedang mengakses sosial media dan konten-konten lain yang hampir tidak ada manfaatnya.

Begitu juga halnya dengan pemandangan yang ada disekolah ataupun kampus. Sangat sedikit kita menjumpai mereka yang betah untuk nongkrong di perpustakaan. Tempat itu seolah menjadi tempat angker yang pantang untuk didatangi. Sehingga buku-buku yang ada diperpustakaan hanya  menjadi pajangan dan dipenuhi dengan debu yang seolah tidak ada artinya sama sekali.

Sangat disayangkan. Disaat bangsa ini sedang dilanda oleh persoalan-persoalan ruwet tapi justru generasinya terlena dan menyibukkan diri dengan aktifitas yang jauh dari buku. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam didepan komputer yang telah terkoneksi dengan internet untuk mengakses hal-hal yang tidak penting seperti bermain game online dan bersosial media serta  bersikap masa bodoh dengan persoalan yang ada.

Solusi Alternatif

Ada yang berpendapat bahwa kebutuhan umat manusia harus disesuaikan dengan konstalasi perkembangan zaman. Artinya bahwa, jika hari ini masyarakat telah menggandrungi aktifitas yang serba online, maka sudah sepatutnya keberadaan buku juga harus bisa terdigitalisasi sehingga dengan mudah bisa diakses secara online.

Hanya saja yang jadi persoalan adalah, seberapa besar keinginan kita untuk membaca buku digital. Dapatkah kita berkosentrasi secara penuh dan tenggelam dalam isi setiap baris buku yang kita baca? Sementara ketika kita tekoneksi dengan internet maka pada saat itu kita tidak hanya terhubung pada satu jenis konten saja, namun kita terkoneksi dengan banyak hal. Sehingga tidak menutup kemungkinan konsentrasi kita akan terganggu dan kehilangan focus saat membaca .

Memang sangatlah sulit untuk menebak bagaimana nasib buku dimasa depan. Dalam keadaan yang multi bentuk seperti ini justru penulis sendiri meragukan keberadaanya apakah ia bisa semakin digandrungi banyak orang atau malah ditinggalkan karena memang saat kita terkoneksi dengan internet maka semua hal yang kita ragukan bisa segera terjawab dengan hanya mengetikkan beberapa kalimat pada mesin pencari tanpa perlu membaca buku. Mungkin hanya dengan tetap menjaga kesadaran diri dan selalu mematri semangat dalam diri untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik maka keinginan membaca bisa terus bergejolak didalam dada bagaimanapun bentuk bukunya, digital ataupun  manual.

(Tulisan ini dimuat juga di Buton Pos 14 Januari 2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s