Mewaspadai Proganda LGBT Di Dunia Maya

Propaganda LGBT
Gambar Ilustrasi

Hangatnya perbincangan tentang LGBT di tengah-tengah masyarakat kita saat ini rasanya sudah sampai dititik nadir. Pasalnya bukan Cuma dari kalangan akademisi, praktisi dan agamawan saja yang membahasnya, namun  ibu-ibu rumah tangga-pun menjadikan topic LGBT ini sebagai bahan cerita mereka.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadikan LGBT menjadi trending topic di tanah air kita. Pertama, karena LGBT tidak sesuai dengan norma yang dianut oleh bangsa ini meskipun jika kita perhatikan ada beberapa Negara yang melegalkannya seperti Amerika. Kedua, karena persoalan LGBT terkait dengan masalah hak asasi menusia yang tentu saja hal ini menjadi seksi untuk dipergunjingan. Ketiga, karena adanya propaganda yang disinyalir sebagai upaya untuk mencari ‘kawan baru’ dan telah merambah di dunia maya.

Kaitanya dengan point ketiga maka tentu persoalan ini perlu untuk diperhatikan secara serius. Pasalnya propaganda LGBT yang menggunakan jalur internet ini tentu saja sangat berbahaya. Jika kita melihat data yang dirilis oleh APJII bahwa pada tahun 2015 kemairn bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai angka 100 juta dan pada tahun 2016 angka itu disinyalir akan terus mengalami peningkatan, maka hal ini mengindikasikan betapa besarnya peluang bagi kaum LGBT untuk menambah ‘kawan baru’. Apalagi hampir 80% penggunaan internet diakses melalui gadget, maka itu tentunya akan semakin memudahkan penyebaran propaganda LGBT. Mengingat betapa hampir semua manusia yang ada di bumi Indonesia ini mulai dari yang tua sampai anak-anak pasti memeiliki gadget yang bisa mengakses jaringan internet.

Anak Kita Calon Korban

Tentunya telah banyak tesis-tesisi ilmiah yang membahas tentang apa dan bagaimana LGBT itu. Begitu juga dalam kitab-kitab umat beragama jelas dan sangat gamblang diterangkan. Oleh karena itu maka semua pasti sudah mahfum dengan bahaya yang ditimbulkanya.

Oleh karena itu maka penting kiranya untuk membincang tentang bagaimana jadinya jika propaganda LGBT ini menyebar melalui saluran maya yang hampir semua orang bisa mengaksesnya termasuk anak-anak. Tentu ini menjadi sebuah perkara yang amat serius dan meresahkan para orang tua. Apalagi  dewasa ini hampir semua anak-anak Indonesia telah memiliki perangkat gadget yang berarti bahwa kesempatan berselancar didunia maya itu semakin terbuka leba. Kalaupun ada anak-anak yang belum memiliki gadget itu jumlahnya sangat sedikit.

Bagaimana jadinya jika anak-anak itu terpapar atau tergoda dengan propaganda LGBT yang mengajarkan bahwa hubungan sesam jenis adalah sebuah keniscayaan. Tentu ini sangat berbahaya. Mengingat masa kanak-kanak adalah saat dimana mereka begitu mudah untuk mengikuti sesuatu yang baru. Pada saat ini seorang anak memiliki kecenderungan untuk mencari hal-hal yang menarik sehingga keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru mereka lihat atau baca itu sangat tinggi.

Tentu hal ni tidak bisa dibiarkan. Karena setiap orang tua pasti tidak ada yang menginginkan anak mereka untuk menjadi LGBT. Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka untuk tumbuh menjadi manusia yang normal mengikuti norma dan aturan langit yang tertulis jelas pada kitab-kitab setiap umat beragama.

Orang Tua Sebagai Tameng Utama

Untuk menangkal persoalan ini tentu bukanlah perkara gampang. Mengingat betapa era digital telah memaksakan sebuah keadaan bahwa setiap orang harus memiliki gadget termasuk anak-anak. Selain itu kepemilikan gadget ini telah menjadi sebuah kebutuhan bagi seseorang .

Memang di zaman digital ini, membekali anak dengan gadget atau perangkat teknologi yang sejenisnya adalah sebuah keharusan yang harus dipenuhi. Karena hal itu digunakan sebagai sarana komunikasi antara anak dan orang tua. Namun bagaimana jadinya jika gadget itu disalah gunakan oleh si anak, tentu akan menjadi repot. Mengingat propaganda LGBT yang bisa menghancurkan mental anak itu terpampang dengan nyata di dunia maya baik itu dihalaman-halaman sosial media ataupun konten-konten website.

Oleh karena itu maka alternative yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah memberikan pendidikan dan pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakan perangkat gadget secara cerdas. Karena menjauhkan anak-anak dari perangkat digital tentu saja bukan merupakan sebuah solusi konkrit

Membekali mereka dengan wejangan kebaikan, memahamkan mereka akan norma-norma agama serta menjelaskan aturan main yang harus diikuti saat berselancar didunia maya maka tentu saja hal itu bisa saja menghindarkan meraka dari pengaruh propaganda LGBT.  Disamping itu menjelaskan kepada mereka akan dampak buruk dari LGBT itu tentu menjadi sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua terhadap anaknya. Dengan demikian saat seorang anak mampu memahaminya dengan baik maka bisa dipastikan bahaya propaganda LGBT ini bisa dihindari.

Selain itu yang paling penting juga bagi orang tua adalah jangan mencotohkan kepada anaknya bagaimana menggunakan perangkat digital dengan baik dan benar. Karena pepatah lama mengatakan bahwa seorang anak itu terkadang malas untuk mendengarkan bicara atau omongan orang tuanya tapi seorang anak tidak akan pernah lupa dengan apa yang dia lihat dari orang tuanya.

(Tulisan ini dimuat juga di Buton Pos 7 Maret 2016)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s