Tuhan, 10 Hari Terakhir Ramadhan ini Boleh Dong Saya Izin Belanja

Seandainya Tuhan itu bisa dihubungi lewat telepon, lewat email, lewat surat atau lewat sosial media mungkin akan banyak orang yang mengajukan permohonan izin untuk meninggalkan aktifitas beribadah di 10 hari terakhir Ramadhan. Namun sayang, hal itu tidak mungkin dilakukan. Akhirnya kita mulai meninggalkan  Masjid begitu saja dan memilih menghabiskan waktu di pusat-pusat perbelanjaan.

Tentu asumsi ini bukanlah hayalan penulis semata. Akan tetapi didasarkan pada realitas yang terjadi saat ini. Dimana kita bisa sama-sama menyaksikan sendiri betapa sesaknya pusat-pusat perbelanjaan mulai dari pusat perbelanjaan modern sampai dengan pasar-pasar tradisional. Sementara disisi lain kita melihat masjid-masjid yang dulunya ramai orang-orang yang beribadah kini mulai kosong melompong.

Inilah fenomena yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Padahal jika kita perhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh para ustadz diatas mimbar saat berceramah, hampir semua yang didakwahkan itu berisi tentang ajakan untuk meningkatkan kualitas ibadah apalagi menjelang 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan apa yang telah di contohkah Rasulullah Muhammad saw.

Namun rupanya, ceramah tinggallah ceramah. Kebiasaan untuk menyibukkan diri dengan rutinitas berbelanja di akhir Ramadhan sepertinya sulit untuk ditinggalkan. Kebiasaan ini sepertinya sudah menjadi budaya dari sebagian kita.

Kita seperti kehilangan kesadaran dan tergoda oleh besarnya diskon yang ditawarkan di pusat-pusat perbenjaan. Padahal jika kita cermati harga diskon yang ditawarkan oleh para pedagang itu tidaklah jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tapi lagi-lagi karena ini sudah menjadi kebiasaan kita, maka kita tidak lagi memperdulikan hal-hal semacam itu.

Seandainya kita memahami bahwa kehidupan ini hanyalah sementara, dan menyadari betapa besarnya diskon pahala yang diberikan oleh Allah swt dibulan Ramadhan ini, mungkin budaya meninggalkan masjid di 10 malam terakhir serpti itu Ramadhan bisa dihilangkan. Kita akan lebih memfokuskan diri dengan ibadah sesuai dengan anjuran Rasulullah saw.

Akan tetapi, jauh panggang dari api. Kehendak hati kita untuk lebih memilih hadir dipusat perbelanjaan itu lebih besar ketimbang meramaikan Masjid untuk menunaikan ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah.swt.

Semoga saja kebiasaan meng-alpakan diri disetiap akhir Ramadhan yang sudah membudaya seperti ini bukanlah menjadi tanda-tanda akan datangnya hari akhir. Kalaupun memang demikian adanya maka di 10 hari terakhir ramadhan ini izinkanlah hamba meminta,  “dengan penuh kerendahan hati dan demi kemuliaan-Mu wahai zat yang membolak-balikan hati manusia, tetapkanlah hatiku agar senantiasa cenderung mengingat-Mu. Dan janganlah engku sibukkan hatiku dengan perkara yang dapat menjuhkanku dari-Mu. Dan Jadikanlah hamba termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa terpaut hatinya dengan Masjid, bukan pusat perbelanjaan yang penuh dengan diskon bohong-bohongan”.

Makassar, 27-06-2016

Iklan