Sesaat Sebelum Ujian Tengah Semester Berlangsung

untitled

“Sebelum pelaksanaan ujian dimulai, menjelaskan aturan main yang berlaku dalam pelaksanaan ujian merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap dosen ”

* **

Saat saya menyampaikan kepada mahasiswa bahwa ujianya open book dan open internet sontak seisi ruangan menjadi riuh. Mereka menyambutnya dengan gegap gempita. Tanpa pikir panjang merekapun menyepakati apa yang saya utarakan.

Disela-sela kegembiraan itu tiba-tiba salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan. “Pak, kalau sudah seperti itu, lantas seperti apa aturan mainya. Apakah bisa kerja sama, apakah bisa copy paste jawaban yang kami dapatkan di internet atau buku yang menjadi referensi bacaan yang telah bapak berikan?”.

Teman-temanya pun tiba-tiba mengarahkan pandangan ke arah mahasiswa yang bertanya tadi. Tidak sedikit yang menatapnya dengan tatapan sinis diikuti sedikit umpatan kekesalan atas pertanyaan temanya itu.

sayapun bisa memahami kenapa mereka melakukan itu pada temanya. Saya bisa mengerti apa yang mereka maksud. Tentu mereka berharap bahwa pengerjaan soal-soal ujian nanti bisa dikerjakan secara bersama-sama, saling mencontek dan langsung mengcopy paste setiap jawaban baik itu yang didapat dari internet, dari teman  yang ada disampingnya ataupun dari buku referensi yang telah saya berikan.

Melihat hal itu sayapun langsung mendinginkan situasi dan melanjutkan penjelasan tentang aturan main pelaksanaan ujian itu. Seakaan berat mereka mendengar keputusan saya kalau ujian harus dilakukan secara mandiri. Tidak boleh kerja sama apalagi mengcopy mentah-mentah setiap jawaban yang didaptkan di internet ataupun buku-buku referensi.

Belum selesai saya menjelaskan, seorang mahasiswa langsung mengajukan satu pertanyaan. “Lantas bagaimana caranya kami menjawab satu pertanyaan yang jawabanya sudah jelas-jelas ada dalam buku atau internet?”

Sambil melangkah mendekati mahasiswa itu, sayapun menjelaskan bahwa jawaban yang didapatkan dari internet atau buku harus ditulis dengan teknik parafrase. Dengan teknik ini kalian dituntut untuk bisa menguraikan  kembali teks yang kalian dapatkan di internet ataupun buku referensi itu dengan bahasa kalian masing-masing atau dengan susunan kata yang lain. Kalian harus bisa memberikan penekanan yang berbeda dengan apa yang terdapat pada teks aslinya itu namun maknanya sama dengan subtansinya.

Kuncinya adalah, kalian harus membaca banyak rujukan terkait dengan persoalan yang diberikan. Semakin banyak kalian membaca, maka semakin banyak pengetahuan yang kalian dapatkan. Dengan demikian akan memudahkan kalian untuk menarik satu kesimpulan yang bisa di jadikan jawaban atas soal yang ditanyakan.

Kalian tidak boleh berhenti pada satu rujukan saja. Carilah sebanyak-banyaknya rujukan selama itu masih relefan dengan soal yang ditanyakan. Setelah itu pahamilah ide pokoknya kemudian ceritakan kembali dengan bahasa kalin sendiri tanpa menghilangkan maknanya yang sesungguhnya. Memang awalnya kalian kesulitan, namun pada akhirnya akan terbiasa dengan teknik seperti ini.

“Lantas apa manfaatnya kalau kami memahami teknik parafrase ini ? “. Mahasiswa itu kembali melanjutkan pertanyaanya.

Manfaatnya sangat banyak. Selain membiasakan kalian untuk mengesplorasi pengetahuan yang ada serta menajamkan kemampuan kalian dalam melakukan analisis, teknik ini juga bisa menghindarkan kalian dari salah satu dosa terbesar bagi kaum akademis yaitu PLAGIAT.

Kelas tiba-tiba menjadi hening. Ada yang mengangguk pertanda mengerti dengan apa yang saya jelaskan, namun ada juga yang menatapku dengan tatapan kosong.

( Bersambung …)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s