Kamera Pertamaku Yang Dicuri Orang

Hari itu, sabtu tanggal 23 Agustus 2014. Saya balik ke kamar kos menjelang pagi setelah bermalam di kampus bersama teman-teman kuliah untuk menyelesaikan tugas akhir yang semakin mendesak. Seperti biasanya, saat tiba di kamar kos, saya langsung merebahkan diri diatas tempat tidur. Sambil memandang langit-langit kamar saya mencoba memejamkan mata dan menenangkan pikiran yang sudah sangat kelelahan.

Namun, tiba-tiba pikiran saya menjadi buyar setelah menyadari kalau saat masuk kedalam kamar tadi, saya sama sekali tidak mengeluarkan kunci dari dalam tas untuk membuka pintu.  Saya langsung loncat dari atas tempat tidur dan memeriksanya. Betul dugaan saya, tidak ada kunci yang tergantung dipintu. Kuncinya masih ada didalam tas. Kalau saya sendiri yang membuka pintu kamar pasti kuncinya saya biarkan tergantung disana.

Fiuhhhh. Saya langsung menghela nafas dalam-dalam. “Jangan-jangan ada pencuri masuk dikamar dan mengambil kameraku”. Dalam hati saya langsung berpikir demikian. Pasalnya, hanya kamera satu-satunya barang berharga yang tersimpan didalam kamar. Sayapun mencoba mengecek laci meja tempat saya menaruh kamera tersebut.

“Kamerakuuuuuuuuuuuuuuuu!” Spontan saya berteriak saat mengetahui kalau isi laci itu sudah kosong melompong. Tulang-tulang terasa mau rontok dan badanpun terasa lemas seperti mau pingsan. Sedih, marah dan emosi berkecamuk didalam dada. Hati ini perih rasanya seperti teriris sembilu lalu dicampur dengan cabe merah dan perasan jeruk purut.

Air matapun rasanya mau tumpah. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Pencuri itu telah membawa pergi salah satu barang berharga yang saya miliki, kamera Canon D1100 yang saya beli dari hasil jerih payah saat bekerja sebagai pegawai honorer di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Muna. Barang itu adalah salah satu tanda mata dari hasil keringat yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit selama 2 tahun, dari tahun 2010 sampai tahun 2012.

Demi membeli kamera ini saya rela berhemat dan menangguhkan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan lain yang sebetulnya lebih penting dari ini. Saya rela hanya mengkonsumsi mie instan berhari-hari,yang penting bisa menyisihkan sebagian gajiuntuk ditabung agar kelak bisa membeli kamera ini. Saya juga terkadang melakukan pekerjaan lain di luar aktivitas kantor agar bisa segera mencukupkan budget untuk membeli kamera ini.

Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki kelebihan harta atau materi,kehilangan benda seperti ini dianggap biasa saja. Hilang hari ini, besok sudah bisa beli lagi. Akan tetapi, bagi saya kejadian ini cukup membuat saya terpukul dan menderita sakit kepala berhari-hari lamanya karena terus menerus memikirkanya.

Coba saja dibayangkan, kamera yang saya dambakan sudah sejak lama, bahkan sejak saya masih duduk dibangku SMA dan untuk mendapatkanya butuh perjuangan yang luar biasa, namun ternyata baru genap 2 tahun dibeli dan digunakan tiba-tiba hilang diambil orang. Rasa-rasanya langit ini seperti mau runtuh.

Saya kadang bertanya-tanya dalam hati, jika saja pencuri ini ditimpa kasus yang sama apakah ia akan merasakan seperti yang saya rasakan? Apakah ia akan bersedih lalu menagis sekencang-kencangnya dan berharap agar ia bisa mendapatkan barangya kembali?Ataukah memang seseorang yang menjadi pencuri itu tidak memiliki hati nurani, sehingga walaupun ia kehilangan sesuatu ia tidak akan bersedih dan tidak memikirkanya sama sekali.

Entahlah, rasanya sulit untuk mencoba memahami isi kepala seorang pencuri. Yang jelas, apa yang ia telah perbuat itu adalah sebuah kesalahan besar yang sangat sulit untuk diterima dan dimaafkan. Karena biar bagaimanapun juga, kamera yang saya miliki itu dibeli dengan uang halal yang saya peroleh dengan susah payah, membanting tulang siang dan malam.

img_5127
(Foto Kenangan Saya dan Kamera)

     * * *

Hari ini, 3 tahun sudah kamera kesayangan saya hilang tanpa jejak. Perlahan saya mulai mengikhlaskanya dan mencoba untuk memahami pelajaran apa yang hendak disampaikan oleh Allah.SWT kepada saya. Mungkin saja ini merupakan ujian yang harus saya terima agar bisa menjadi orang yang ikhlas.

Memang terasa berat bagi saya untuk merelakan apa yang telah terjadi. Pasalnya, kamera itu sudah menjadi teman setia disetiap acara ataupun kegiatan yang saya lakukan. Kamera itu selalu saya bawa untuk mengabadikan setiap momen-momen penting yang saya lewati.

Namun, meskipun demikian, sayapun akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu yang saya miliki ini hanyalah titipan dari sang maha pencipta. Tidak selamanya ia akan menjadi milik saya. Akan ada waktunya ia akan hilang, berpindah tangan ataupun rusak (meskipun caranya terkadang tidak seperti yang diharapkan) kemudian Allah.SWT akan menggantikanya dengan sesuatu yang lebih baik.