Pasar Senggol di Simpang Jalan Cendrawasih

Saya bekerja di STMIK Kharisma Makassar, di Jalan baji AtekaNo. 24. Tidak jauh dari tempat ini, jika kita keluar menuju arah barat lalu berbelok ke arah selatan Jl. Cendrawasih sejauh lebih kurang 100 meter, tepat di seberang jembatan yang mengangkangi sebuah sungai kecil, kita pasti dapat melihat tumpukan rangka kayu dan besi yang diletakkan di pinggir jalan sebelah kiri. Kita juga dapat langsung melihat ada simpang jalan masuk selebar tiga meter. Lebih kurang 200 meter, di sepanjang jalan itu, di samping kiri dan kanan berjejer kios-kios dengan ukuran dan bentuk yang tidak beraturan. Ada yang besarnya 2 x 2 meter, ada yang berukuran 1 X 3 meter dengan bentuk memanjang kebelakang, bahkan ada yang hanya berukuran 1.5 x 1.5  Meter.

Rata-rata atap dari kios-kios itu sudah bocor karena berkarat sehingga harus dilapisi dengan potongan-potongan plastik yang ditindih dengan kayu balok agar tidak diterbangkan angin. Di tempat  inilah lokasi Pasar Senggol yang selalu ramai dibicarakan orang itu berada. Disini harga barang-barang seperti pakaian dan pernak pernik lainnya relatif lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall atau toko-toko besar yang banyak terdapat di ruas-ruas jalan besar Kota Makassar.

Jika kita melintas pada siang haridi tempat ini,sama sekali tidak tampak ada aktivitas orang-orang yang melakukan transaksi  jual beli. Kita hanya bisa melihat kios-kios kosong tanpa ada barang yang dipajang sedikit pun. Para pemilik kios juga tidak ada disitu. Suasananya pun tampak lengang. Kendaraan bebas berlalu lalang disitu. Saya sendiri, setiap saat melewati tempat itu selalu membayangkan, jika ada orang yang baru berkunjung ke Makassar dan hendak mencari pasar Senggol disiang hari, pasti ia akan kesulitan untuk menemukanya.

IMG20170226124538.jpg
Dok pribadi : Lokasi Pasar Senggol di Siang Hari

Berbeda halnya jika kita ke tempat ini pada malam hari. Kondisinya berubah drastis. Suasananya menjadi sangat ramai. Tempat itu dibanjiri cahaya dari lampu kios yangkelap-kelip dan berwarna warni serta lampu neon dari beberapa papan reklame yang berdiri kokoh disekitar tempat itu. Jalanan yang sebelumnya lebar dan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat,  kini menjadi sempit dan bahkan kendaraan roda dua sekalipun tidak akan bisa melewatinya. Tepat ditengah-tengah jalanan itu para penjual membangun kios-kios yang tidak permanen dari rangka kayu dan besi serta beratapkan tenda yang terbuat dari plastik tebal yang biasanya berwarna biru. Kios-kips tersebut bahkan meluber sampai ke jalan poros.

IMG20170226203802.jpg
Dok pribadi : Kios-Kios Semi Permanen di Pinggir Jalan Poros

Setiap malam, orang-orang yang datang ke sana untuk mencari barang yang ingin dibelinya berbondong-bondong seperti air mengalir yang tidak ada putus-putusnya. Jumlahnya sangat banyak. Ada orang tua, anak muda dan anak-anak. Saat tiba di sana, mereka tidak langsung membeli barang begitu saja. Mereka terlebih dahulu berkeliling dari satu kios ke kios lainya untuk membanding-bandingkan harga. Nantilah harganya cocok, baru dibeli.

Malam itu saya datang kesana untuk sekadar mencarikaos kaki dan ikat pinggang berwarna hitam. Namun, belum semua kios saya datangi, kepala saya sudah mulai pusing melihat orang-orang yang hilir mudik didepanku. Akhirnya saya memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu. Beruntung, saat saya keluar, persis di depan pinggir jalan poros, di dekat saya memarkir motor, ada satu orang yang menjual barang itu. Ia menggantungkannya pada seutas tali rafia yang kedua ujungnya dikaitkan pada tiang-tiang kios yang terbuat dari kayu dan besi.

Bagi mereka yang tidak terbiasa berbelanja ditempat seperti ini pasti tidak akan bisa bertahan lama saat berada didalam. Kerumunan orang yang ada di sana membuat sirkulasi udara menjadi tidak lancar. Akhirnya, udara di dalam menjadi pengap dan panas. Belum lagi ditambah dengan aroma keringat ratusan orang yang sedang berdesak-desakan mencari kebutuhannya, hal ini semakin menyulitkan kita untuk bernafas. Namun, bisa saja kita menghindari situasi seperti ini saat berbelanja. Kita bisa pergi ke sana saat sore hari. Pada waktu ini para pedagang sudah mulai mengisi kiosnya dengan barang dagangan. Kita bisa dengan leluasa memilih barang.

IMG20170226204057.jpg
Dok pribadi : Pengunjung yang Sedang Belanja

Hari ini, sudah 10 tahun lamanya sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di pasar Senggol. Hampir tidak ada yang berubah dari tempat itu. Bentuk fisik kios-kiosnya, lokasi parkir kendaraan para pengunjung, cara pedagang disana menyapa para pembeli, semuanya masih sama. Begitu juga dengan kemacetan. Saat melintasi di daerah itu, jangan berharap untuk bisa dengan mudah memacu kendaraan dengan mulus tanpa hambatan.

IMG20170226204355.jpg
Dok pribadi : Kemacetan Jl. Cendrawasih di Depan Pasar Senggol

Kadang saya berpikir, apakah mungkin pemerintah kota tidak mengetahui keadaan ini?Padahal kemacetan diruas jalan cendrawasih yang merupakan dampak dari semrawutnya pasar senggol yang ada disana sudah terjadi sejak lama. Seharusnya, jika betul-betul menginginkan kota ini menjadi kota dunia, maka penataan lokasi-lokasi seperti itu perlu segera dilakukan.

Memang, masyarakat di sana sudah terbiasa dengan kondisi itu. Akan tetapi, jika kondisi ketidakteraturan  terus dibiarkan, akan jadi apa kota ini? Lagi pula dengan membuat pasar itu lebih teratur, saya pikir  tidak akan mengubahsubstansi dari pasar senggol itu sendiri. Karena akan lebih enak rasanya jika orang-orang yang datang belanja di sana bersenggolan dalam kondisi pasar yang tertata rapi, ketimbang harus berdesak-desakan dalam ruang sempit dengan kondisi yang semrawut.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Pasar Senggol di Simpang Jalan Cendrawasih

  1. Ping-balik: Terima Kasih yang Hilang dan 14 Tulisan Lainnya (Review) | Mujahid Zulfadli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s