Startup Makassar : Peluang dan Tantanganya

 

 

timthumb
Sumber Gambar : Teknokito.com

 

Pada awal tahun 2016 lalu saya sempat mengikuti sebuah acara seminar digitalpreneur yang diselenggarakan oleh Dillo Makassar. Salah satu pematerinya adalah seorang pelaku startup senior di tanah air yang biasa dipanggil Shinta Bubu. Dalam penjelasanya, Ia begitu fasih menceritakan tahap demi tahap proses yang dilalui saat membangun startupnya, sampai akhirnya meraih kesuksesan yang gemilang.

Pada kesempatan itu juga, ia menceritakan kisah sukses para pendiriTokopedia, Bukalapak, Go-jek dan Traveloka yang hari ini telah menjadi startup-startup unicorn di tanah air. Acara seminar ini pun berhasil menghipnotis ratusan peserta yang hadir disitu untuk membangun startup. Termasuk saya salah satunya.

Fenomena Startup

Sejak kemunculan Gojek, Tokopedia, Bukalapak ataupun Traveloka, demam startup mulai melanda hampir semua kota yang ada di tanah air. Startup-startup ini seolah menjadi api pembakar semangat bagi banyak orang untuk berlomba-lomba memulai membangun startupnya. Di Kota Makassar sendiri, fenomena munculnya pegiat startup ini tidak kalah ramainya.

Tentu saja, bukan tanpa alasan banyak orang yang kemudian tertarik untuk membangun startup. Rata-rata mereka yang menjadi alasan mereka adalah ingin menjadi sukses dan menghasilkan banyak uang atau sumber mencari nafkah Memang, sulitnya lapangan pekerjaan saat ini mendorong banyak orang untuk terjun ke dunia startup. Meskipun pada akhirnya, dari seratus orang yang membangun startupnya hanya ada satu atau dua orang yang berhasil.

Di Makassar sendiri, peluang bisnis berbasis digital ini sangat terbuka lebar. Sebagai pusat Indonesia Timur tentu sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai lahan pasar bagi para pelaku bisnis. Startup sebagai salah satu bentuk bisnis yang berbasis digital tentu sangat bisa mendapatkan pasar tersendiri di tengah-tengah masyarakat. Apalagi peradaban dunia abad 21 ini telah berubah menuju era digital. Sehingga, startup ini memang sangat sesuai dengan konsep bisnis masa kini. Mengingat, dewasa ini ekonomi tidak lagi berjalan karena sektor energi, modal, atau tenaga kerja, tapi karena ide, konsep, kreativitas, dan inovasi. Era ini dijiwai oleh cara berpikir dengan konsep 3 HT, yaitu high think, high tech, dan high touch. Jadi yang akan maju adalah bisnis yang memiliki konsep kuat dan memanfaatkan teknologi.

Selain itu, berbagai persoalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat hari ini juga dituntut agar bisa diselesaikan secara cepat dan tepat. Seperti masalah pelayanan masyarakat yang mengalami ketimpangan di berbagai sektor. Jadi sangat penting berbicara tentang startup karena mereka yang mempunyai ide, passion untuk berkontribusi dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan startup yang dihasilkan itu kemudian bisa membangun sebuah aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di Kota Makassar, persoalan-persoalan seperti ini masih sangat banyak. Untuk itu, maka peluang untuk membangun sebuah startup yang bisa berkontribusi pada penyelesaian masalah masih terbuka lebar. Namun sayang, sampai sekarang hal ini masih belum kelihatan. Progres pertumbuhan startup di kota ini pun masih belum kelihatan. Kalaupun ada yang membangun startup, bisa dipastikan hampir tidak memiliki nilai bisnis dan memberikan manfaat bagi penyelesaian masalah bagi Kota Makassar.

Saat saya mewawancarai Mbak Arin yang merupakan menejer Dillo Makassar pada hari rabu tanggal 26 April 2017 yang lalu ia menjelaskan bahwa,  peluang untuk mengembangkan startup di Kota Makassar ini cukup baik. Namun, yang menjadi persoalan adalah ekosistem startup di Kota Makassar masih belum bagus. Dengan demikian, maka progres bertumbuhnya startup di kota ini masih begitu-begitu saja.

Membangun Ekosistem Startup

Dalam wawancara saya yang hampir satu jam dengan Mbak Arin, ia juga menjelaskan bahwa para pegiat startup di Kota Makassar ini sangat banyak dan berasal dari berbagai kalangan, bukan hanya mereka yang memiliki pengetahuan IT. Untuk itu, ekosistem yang bisa mendukung mereka untuk berkolaborasi harus tercipta. Misalnya, dengan menyediakan Co-Working Space yang memadai dan sesuai dengan standar untuk menggembleng para perintis startup. Dengan demikian maka beragam ide-ide gila dan inovatif dapat dilahirkan .

Saya pun memahami apa yang disampaikan oleh Mbak Arin. Bukan hal yang mudah untuk menciptakan sebuah ide gila dan inovatif kemudian mengeksekusi itu sampai menjadi sebuah model bisnis yang bisa mendapatkan pasar di masyarakat. Butuh tempat yang tepat dan suasana yang kondusif agar seseorang bisa melakukan itu semua.

Intinya, dalam sebuah ekosistem startup dibutuhkan kolaborasi dan komitmen untuk maju bersama tanpa terjadi friksi senioritas dan birokrasi yang berbelit-belit. Dibutuhkan upaya, gairah, semangat bersama dalam melahirkan sebuah startup menjadi model bisnis yang berpengaruh dan memberikan nilai ekonomi besar dalam masyarakat. Selain itu, sebuah start up  harus bisa menjadi sebuah “problem solving “ bagi dimasyarakat. Seperti Go-jek misalnya yang bisa memberikan solusi atas peliknya eprsoalan trasnportasi yang ada di tanah air

Sebelum menutup wawancara, Mbak Arin juga menyampaikan kepada saya, bahwa sebetulnya para pelaku startup di Kota Makassar ini pintar-pintar. Hanya saja mind set mereka masih kurang bagus. Tidak jarang, banyak ide yang ingin mereka ekseskusi untuk menjadi sebuah model bisnis, namun ide itu sudah banyak yang jalankan. Mereka kurang kreatif dan terkadang tidak sabaran untuk segera menuai hasil. Padahal, membangun startup itu bukan hal yang mudah. Butuh waktu yang lama agar bisa meraih hasilnya. Diperlukan kesabaran dan harus melalui proses panjang sampai akrhirnya bisa mendapatkan pasarnya tersendiri. Ia juga menambahkan, bahwa startup ini adalah bisnis yang 99% gagal. Artinya, jika orang-orang yang menjalankan ini tidak memiliki mental yang kuat, malas belajar dan cepat menyerah maka otomatis akan gagal. Sebelum mengakhiri wawancara itu, Mbak Arin menyarankan saya untuk bertemu dengan para pelaku startup yang sudah mulai berhasil.

Saya pun menemui salah satu pegiat startup di Kota Makassar, Ahyar Muawal (Ceo WASDLAB) pembuat Kotak Narsis. Dari anak muda ini saya mendapatkan penjelaskan bagaimana awal mula ia merintis startupnya. Ia mengisahkan, jika tidak ada dukungan tempat kerja yang memadai mungkin saja mereka tidak bisa melahirkan sebuah ide yang kemudian bisa dieksekusi menjadi model bisnis dan bertahan sampai hari ini. Ia juga menambahkan,  pada dasarnya para perintis startup yang ada di Kota Makassar ini sangat banyak, hanya saja jarang ada yang bertahan untuk melalui proses panjang seperti yang mereka lalui. Manja dan cenderung menginginkan hasil yang instan menjadi karakter utama kebanyakan pelaku startup yang ada di Kota Makassar. Padahal, untuk membangun startup itu butuh kesabaran. Ia mencontohkan bagaimana proses yang dilalui saat membangun Kotak Narsis. Butuh waktu hampir lima tahun hingga saatnya bisa mendapatkan pasar tersendiri di Kota Makassar.

***

Pada satu kesempatan saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada salah seorang pendiri startup di Balikpapan, bang Hilman Fajrian  melalui email. Saya mengajukan pertanyaan ini karena startup yang ia rintis, Social Lab, merupakan startup tertua di Balikpapan dan sampai saat ini masih bertahan dan terus bertumbuh. Salah satu pertanyaan yang saya ajukan adalah bagaimana membangun dan mengembangkan startup agar bisa bertahan seperti yang ia lakukan. Jawabanya “ Startup akan menjadi sehat dan menjanjikan ketika ia dimulai secara alami, kesabaran, tumbuh secara kontinyu, dan berdaya tahan tinggi”

 

 

Sakit Itu Menyiksa dan Merugikan Saya

abc

(Sumber : https://inspirationsjunkie.wordpress.com)

Sehat itu patut untuk dirayakan dan disyukuri. Pasalnya, jika sakit maka akan ada hal yang terlewatkan seperti yang saya alami belum lama ini. Saat saya menderita flu, batuk dan demam hampir satu minggu lamanya, maka hampir tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan. Semangat pun menjadi kendur (tapi tidak sampai luntur). Saya hanya bisa berbaring lemas di atas kasur dan menjadi malas untuk melakukan apa-apa. Akhirnya, banyak kegiatan yang tidak jadi untuk di ikuti. Padahal, kegiatan-kegaitan ini begitu sangat penting dan mendesak. Salah satunya adalah kegiatan belajar di kelas Menulis Kepo yang diadakan pada setiap hari Jumat pukul 05.00 – 09.00 di warung kopi Brewbrother.

Karena sakit ini juga akhirnya membuat saya kehilangan selera untuk menyantap berbagai jenis makanan seperti biasanya. Bagaimana tidak, setiap makanan yang saya masukan kedalam  mulut semuanya terasa hambar. Meskipun  yang saya makan  itu adalah gula pasir, rasanya tetap saja tidak enak di lidah. Satu-satunya yang enak saya konsumsi adalah obat pemberian dokter. Obat ini terdiri dari dua macam. Pertama namanya Fludan yang berkhasiat untuk mengobati flu, batuk dan menurunkan demam. Sedangkan yang kedua namanya Becom-C. Manfaatnya sebagai suplemen makanan.

Saya sebetulnya kurang paham kenapa penyakit ini bisa menyerang tubuh secara beriringan. Awal mulanya tenggorokan saya yang terasa sakit. Selang satu hari kemudian hidung mulai ikut-ikutan tersumbat di ikuti dengan suhu badan yang perlahan mengalami peningkatan. Setelah itu, kepala mulai terasa berat, penglihatan menjadi buram dan otot-otot badan terasa sakit. Saya pun mulai panik dan menganggap mungkin ini penyakit yang serius.

Namun, setelah saya mendapatkan pemeriksaan dari dokter, saya pun mulai merasa lega. Ia menjelaskan bahwa kasus seperti yang saya alami adalah hal yang biasa terjadi. Sakit flu yang disertai batuk dan demam biasanya merupakan respon tubuh akibat tingginya intensitas kegiatan yang melibatkan fisik dan psikis tanpa di imbangi dengan istrahat yang cukup dan makanan bergizi. Apalagi ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, sehingga saat kondisi tubuh tidak fit maka akan sangat gampang terserang penyakit seperti itu.

Untuk itu, saya disarankan untuk banyak beristrahat dan mengkonsumsi multivitamin serta makanan bergizi seperti buah dan sayuran agar bisa cepat pulih kembali dan daya tubuh bisa jadi lebih baik. selama proses penyembuhanm saya juga disarankan untuk tidak mengkonsumi minuman dingin karena hal ini dapat memicu kembali terjadinya flu, batuk ataupun demam.

Memang benar apa yang dikatakan oleh dokter. Beberapa bulan terakhir ini aktivitas saya begitu padat. Hampir setiap hari saya harus berurusan dengan kegiatan akademik yang menjemukan. Mulai dari menyiapkan materi perkulihan, merampungkan dokumen untuk kebutuhan jabatan fungsional, pengisian BKD (Beban Kerja Dosen), menyusun tulisan ilmiah untuk diterbitkan pada jurnal nasional, serta kegiatan-kegaitan lain yang sangat menguras energi dan pikiran.

Sebetulnya kegiatan-kegatan ini adalah hal yang biasa di dunia kampus. Namun, karena saya belum lama menjadi seorang tenaga pengajar, sehingga belum terbiasa untuk melakukan itu semua. Apalagi, waktunya saling mepet. Akhirnya, saya terkadang lupa untuk mengistrahatkan badan dan mengerjakan itu semua sampai lupa makan dan begadang sampai subuh.

Setelah kejadian ini saya baru kembali sadar, bahwa pola aktivitas seperti itu adalah sesuatu yang keliru. Sepadat apapun kegiatan yang tengah dihadapi, istrahat yang cukup dan berhenti sejenak untuk mengisi lambung dengan makanan tepat pada waktunya adalah hal penting yang harus diperhatikan. Apabila lalai dengan hal ini maka ada harga mahal yang harus dibayar.

 

 

 

 

 

 

Pengembang Photo Booth Canggih Berbasis IOT

 

IMG20170401121418
Dok Pribadi : Ahyar Muawal (CEO WASDLAB) di Ruang Kerjanya

 

Menyediakan photo booth tentu akan menambah semaraknya suasana sebuah acara atau even. Namun, yang menjadi presoalan adalah biaya sewanya masih terbilang mahal dan layanan pada photo booth itu terkadang membuat orang tidak puas. Kondisi ini kemudian memotivasi Ahyar Muawal untuk menciptakan photo booth canggih yang berbasis Internet of Things (IOT) dengan biaya sewa yang murah.

Bersama teman-temanya di WASDLAB – studio penyedia layanan teknologi infomasi yang berbasis di Makassar – selama empat tahun terakhir sejak 2013 anak muda asal Makassar ini telah memulai sebuah upaya untuk mengembangkan photo booth  canggih berbasis IOT yang diberi nama Kotak Narsis. Kotak Narsis ini dirancang sedemikian rupa sehingga bisa memberikan pengalaman berbeda bagi mereka yang menggunakanya.

Jika selama ini, dengan photo booth biasa kita kerepotan untuk mengambil soft copy hasil foto kita, mengatur timer, menentukan jumlah kutipan serta kesulitan untuk langsung mengupload foto itu pada halaman sosial media yang kita miliki, maka tidak demikian kalau kita menggunakan Kotak Narsis. Dengan pengetahuan IT yang mumpuni karena sudah menamatkan pendidikan S1 dan S2 dibidang Informatika,  sosok yang biasa dipanggil Bang Ahyar ini mampu mengotomatiskan semua proses itu dalam Kotak Narsis.

“Yang pasti, Kotak Narsis yang kami kembangkan ini adalah yang pertama di Makassar. Bahkan saya berani mengklaimnya sebagai photo booth  berbasis IOT pertama yang ada di Indonesia”. Demikian yang diutarakan oleh pemuda yang baru berusia 25 tahun ini saat saya menemuinya pada hari senin tanggal 4 April 2017 di tempat kerjanya, Kampus STMIK Kharisma Makassar. Tidak sulit untuk menemui sang kreator Kotak Narsis  ini.  Tidak seperti jika ingin menemui pejabat tinggi yang mengharuskan kita untuk bersurat terlebih dahulu dan menunggu sampai berhari-hari sampai surat itu mendapat balasan, barulah bisa ditemui. Siapa saja bebas bertemu dengan anak muda ini. Ia sangat terbuka untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan tentang IT.

Lebih satu jam saya berdiskusi dengan Bang Ahyar. Ia menceritakan secara detail semua proses yang telah dilewati bersama teman-temanya, mulai dari tahap awal pembuatan di tahun 2013 sampai dengan tahap penyempurnaan pada tahun 2016. Semua proses itu dilalui dengan penuh ketekunan dan harapan bahwa kelak apa yang diciptakan itu akan membuahkan hasil yang manis.

“Tahun 2013 itu, Kotak Narsis prototype pertama sudah berhasil kami buat. Tapi disitu, sentuhan teknologinya masih kurang. Nanti pada tahun 2016 barulah fitur-fitur canggih berbasis IOT berhasil kami satu padukan di Kotak Narsis”.

“Teknologi apa saja yang pertama kali disematkan di Kotak Narsis waktu pertama kali dibuat”?

“Di awal tahun 2013 itu, kami baru fokus untuk membuat sistem otomatis pengiriman foto. Jadi, kami buat agar setiap orang yang berfoto disitu, hasilnya bisa langsung terkirim ke email dan terunggah secara otomatis di sosial media. Kami buat seperti ini, karena sepanjang yang kami ketahui, belum ada photo booth  di Makassar yang memiliki fitur seperti ini. Rata-rata photo booth  yang mereka miliki, sistem kerjanya masih manual. Kalau sudah berfoto, langsung dicetak. Setelah itu, selesaimi. Kita hanya membawa pulang hasil cetakanya. Kalau mau bawa pulang soft copy-nya, lama lagi prosesnya. Harus di burning dulu di CD atau di copy pake flash disk. Tapi itu kan tidak mungkinmi sempat untuk dilakukan, apalagi banyak orang disitu yang antri mau foto.”

Saya pun berdecak kagum dengan kelihaian anak muda ini dalam menangkap sebuah peluang lalu mengeksekusinya menjadi sesuatu yang bisa mendatangkan uang tanpa menunggu waktu lama. Saya yakin, orang lain juga pasti melihat hal yang sama seperti ini. Namun, mereka enggan dan lamban untuk mengkreasikanya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Memang benar apa yang dikatakan oleh orang bijak. Ketika sebuah peluang ada didepan mata, maka hal terbaik yang perlu dilakukan adalah segera mengeksekusinya. Tidak perlu memikirkan seperti apa hasilnya kedepan. Kita nikmati saja prosesnya. Kalau pun akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, paling tidak kita pernah mencoba itu dan bisa bisa mengambil pelajaran darinya.

Berinovasi Tanpa Henti

 Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari anak muda enerjik ini. Diantaranya adalah keuletan dan keinginan yang kuat untuk terus melakukan inovasi. Selama 4 tahun, ia bersama teman-temanya seolah tidak kenal lelah untuk terus menyempurnakan karya mereka itu. Hingga akhirnya, pada awal tahun 2017 Kotak Narsis dinobatkan sebagai usaha digital terbaik ke dua se Indonesia dalam ajang wirausaha mandiri yang diselenggarakan oleh PT Bank Mandiri.

“Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika hasil karya kami bisa mendapatkan pernghargaan seperti ini. Tidak sia-sia selama empat tahun kami terus menerus melakukan menyempurnakan terhadap Kotak Narsis ini.”

“Penyempurnaan seperti apa yang dimaksud?”

“Kami menambahkan frame yang memudahkan orang-orang untuk mengambil banyak gambar sesuai dengan yang diinginkan, menyisipkan teknologi pengenal suara sehingga saat hendak mengambil gambar tidak perlu lagi menyentuh apa-apa, cukup lewat suara maka kamera pada Kotak Narsis akan segera melakukan tugasnya untuk memotret. Kami juga membuat Kotak Narsis ini bisa mendeteksi senyuman agar setiap orang yang berfoto terdorong untuk memperlihatkan senyum narsisnya.”

“Lalu, kenapa Kotak Narsis ini bisa murah. Bukankah sesuatu yang canggih seperti ini biasanya dihargai mahal?”

“Pada dasarnya memang kami ingin membuat sesuatu yang berkualitas bagus dengan harga murah. Bukan Cuma murah, tapi bisa memberikan kemudahan bagi mereka yang menggunakanya. Kami menyematkan banyak teknologi di Kotak Narsis ini dan langsung terhubung dengan internet karena memang hari ini kita hidup di era digital. Kan lucu, eranya sudah digital tapi fasilitas yang kita gunakan masih manual.”

Setelah mendengar penjelasan anak muda ini, saya pun menyesal karena waktu menikah dulu telah mengeluarkan banyak uang untuk membayar photo booth lain padahal teknologinya begitu sederhana. Kalau saja dulu yang digunakan adalah Kotak Narsis ini,  saya tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Cukup dengan uang satu juta rupiah, saya sudah bisa memajangnya di pintu masuk ruang pernikahan dan orang-orang akan dengan leluasanya berfoto manja dan ceria.

Berani Membuat Sesuatu Yang Baru

 saya masih ingat betul wejangan yang disampaikan oleh salah seorang guru besar dari Universitas Indonesia dalam seminar Teknologi Informasi yang diselenggarakan di UMI tahun 2016 silam. Ia menyampaikan bahwa, jika kita ingin maju maka beranilah untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Jangan membuat sesuatu atau mengulangi apa yang sudah pernah dibuat oleh orang lain, karena hasilnya akan sia-sia.

Bang Ahyar dengan segenap kemampuanya berani untuk membuat warna baru itu. Ia dan teman-temanya membuat ­photo booth  berbasis IOT yang belum pernah dibuat oleh orang lain. Meskipun pada awal kemunculany banyak yang tidak melirik untuk menggunakan Kotak Narsis ini, namun seiring berjalanya waktu akhirnya banyak yang mulai tertarik.

Begitu banyak cerita lucu yang terjadi saat orang-orang menggunakan Kotak Narsis ini. Sepeti yang diceritakan oleh Aldi yang merupakan mahasiswa STMIK Kharisma Makassar kepada saya. Saat itu ia mengunjungi acara Bekraf Developer Day 15 Oktober 2016 yang bertempat di Hotel Clarion.

“Kaget’ka waktu pertama berfoto dengan Kotak Narsis. Canggih’ki fiturnya. Kalau berfoto langsung terupload ke sosial media. Foto’ta juga langsung terkirim di email. Tapi lebih kaget’ka lagi, waktu’ka tau kalau yang buat ini Kotak Narsis itu Kak Ahyar. Dosenku jie ternyata.”

Sambil tersenyum lebar Aldi menceritakan pengalamanya saat menggunakan Kotak Narsis. Ia terkagum-kagum dengan Kotak Narsis itu. ia tidak menyangka kalau Kotak Narsis berbeda dengan photo booth  lain yang ada di Makassar.

***

Hari sudah memasuki waktu shalat zuhur. Saya pun akhirnya berpamitan dengan Bang Ahyar. Ia pun mematikan laptonya dan bersiap-siap untuk pulang karena ada aktivitas lain yang harus dikerjakanya. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari diskusi singkat dengan anak muda itu, terutama tentang bagaimana kita mencitai setiap apa yang dikerjakan. Tanpa cinta tentu semua yang dikerjakan akan menjadi berat. Begitu sebaliknya, dengan cinta maka semuanya akan menjadi ringan dan mudah untuk dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengintip Suasana Program Gramedia Cuci Gudang 2017

Hari mulai beranjak sore. Saat masih asyik-asyiknya menikmati secangkir Milo coklat di beranda rumah, tiba-tiba saya teringat dengan brosur yang diberikan oleh satpam Gramedia saat berkunjung kesana saban hari. Brosur itu berisikan infomasi tentang program Gramedia Cuci Gudang. Dalam program tersebut, banyak buku-buku yang di jual dengan harga murah mulai dari Rp 5000 sampai Rp 45000.

Program Gramedia Cuci Gudang itu diselenggarakan sejak tanggal 1 April sampai dengan 16 April 2017, bertempat di Gedung Tribun Timur, Jl. Cendrawasih N0 430 Makassar. Karena saya penasaran dengan buku-buku yang di jual disana, saya pun langsung beranjak dari tempat duduk dan bergegas mengambil kunci motor untuk segera pergi ke Tribun timur.

Sambil membunyikan motor, saya bergumam dalam hati “Mumpung hari ini baru tanggal 4 April, mungkin saja disana belum banyak orang yang berkunjung”. Namun baru saja motor keluar dari garasi, tiba-tiba istri saya berteriak memanggil dari dalam rumah. Ternyata, ia juga ingin ikut untuk melihat-lihat buku yang di jual oleh Gramedia dalam program Cuci Gudang tahun 2017 ini.

Saat tiba di Tribun Timur, saya sempat kaget karena ruangan tempat penjualan buku itu telah disesaki oleh banyak orang. Prediksi saya bahwa orang yang akan datang dihari-hari awal berlangsungnya program promo buku murah seperti ini jumlahnya sedikit, ternyata meleset. Saya tidak membayangkan akan banyak orang yang antusias sejak awal dimulainya program cuci gudang ini oleh Gramedia.

Setelah memarkir motor, saya bersama istri pun langsung masuk kedalam ruangan tempat penjualan buku dan mulai bergerilya dari satu tumpukan buku ke tumpukan buku yang lain. Karena saat kesana sudah terlalu sore dan program cuci gudang itu hanya berlangsung sampai pukul 06.00 setiap harinya, akhirnya kami tidak sempat mengecek semua tumpukan buku yang ada dan belum bisa menemukan buku yang bagus untuk dibawa pulang. Kami pun hanya bisa menyaksikan pengunjung lain yang sudah mengantongi beberapa buku dan kemudian menyelesaikan pembayaran buku itu di meja kasir.

1

Gambar 1. Gedung Tribun Timur

1

Gambar 2. Lokasi Parkiran di Tribun Timur

1

Gmbar 3. Pintu Masuk Ruangan Tempat Penjualan Buku

1

Gambar 4. Tas Belanja Buku

1

Gambar 5. Tumpukan Buku Harga Rp. 5000

1

Gambar 6. Tumpukan Buku Harga Rp.10000

1

Gambar 7.Tumpukan Buku Harga Rp. 15000

1

Gambar 8. Tumpukan Buku Harga Rp. 20000

1

Gambar 9. Tumpukan Buku Harga Rp. 25000

1

Gambar 10. Tumpukan Buku Harga Rp.30000

1

Gambar 11. Al Quran Harga Promo

1

Gambar 12. Para Pencari Buku Murah

1

Gambar 13. Si Gondrong Sedang Menghadapi Salah Satu Tumpukan Buku

1

Gambar 14. Pembayaran Pembelian Buku di Kasir