Pengembang Photo Booth Canggih Berbasis IOT

 

IMG20170401121418
Dok Pribadi : Ahyar Muawal (CEO WASDLAB) di Ruang Kerjanya

 

Menyediakan photo booth tentu akan menambah semaraknya suasana sebuah acara atau even. Namun, yang menjadi presoalan adalah biaya sewanya masih terbilang mahal dan layanan pada photo booth itu terkadang membuat orang tidak puas. Kondisi ini kemudian memotivasi Ahyar Muawal untuk menciptakan photo booth canggih yang berbasis Internet of Things (IOT) dengan biaya sewa yang murah.

Bersama teman-temanya di WASDLAB – studio penyedia layanan teknologi infomasi yang berbasis di Makassar – selama empat tahun terakhir sejak 2013 anak muda asal Makassar ini telah memulai sebuah upaya untuk mengembangkan photo booth  canggih berbasis IOT yang diberi nama Kotak Narsis. Kotak Narsis ini dirancang sedemikian rupa sehingga bisa memberikan pengalaman berbeda bagi mereka yang menggunakanya.

Jika selama ini, dengan photo booth biasa kita kerepotan untuk mengambil soft copy hasil foto kita, mengatur timer, menentukan jumlah kutipan serta kesulitan untuk langsung mengupload foto itu pada halaman sosial media yang kita miliki, maka tidak demikian kalau kita menggunakan Kotak Narsis. Dengan pengetahuan IT yang mumpuni karena sudah menamatkan pendidikan S1 dan S2 dibidang Informatika,  sosok yang biasa dipanggil Bang Ahyar ini mampu mengotomatiskan semua proses itu dalam Kotak Narsis.

“Yang pasti, Kotak Narsis yang kami kembangkan ini adalah yang pertama di Makassar. Bahkan saya berani mengklaimnya sebagai photo booth  berbasis IOT pertama yang ada di Indonesia”. Demikian yang diutarakan oleh pemuda yang baru berusia 25 tahun ini saat saya menemuinya pada hari senin tanggal 4 April 2017 di tempat kerjanya, Kampus STMIK Kharisma Makassar. Tidak sulit untuk menemui sang kreator Kotak Narsis  ini.  Tidak seperti jika ingin menemui pejabat tinggi yang mengharuskan kita untuk bersurat terlebih dahulu dan menunggu sampai berhari-hari sampai surat itu mendapat balasan, barulah bisa ditemui. Siapa saja bebas bertemu dengan anak muda ini. Ia sangat terbuka untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan tentang IT.

Lebih satu jam saya berdiskusi dengan Bang Ahyar. Ia menceritakan secara detail semua proses yang telah dilewati bersama teman-temanya, mulai dari tahap awal pembuatan di tahun 2013 sampai dengan tahap penyempurnaan pada tahun 2016. Semua proses itu dilalui dengan penuh ketekunan dan harapan bahwa kelak apa yang diciptakan itu akan membuahkan hasil yang manis.

“Tahun 2013 itu, Kotak Narsis prototype pertama sudah berhasil kami buat. Tapi disitu, sentuhan teknologinya masih kurang. Nanti pada tahun 2016 barulah fitur-fitur canggih berbasis IOT berhasil kami satu padukan di Kotak Narsis”.

“Teknologi apa saja yang pertama kali disematkan di Kotak Narsis waktu pertama kali dibuat”?

“Di awal tahun 2013 itu, kami baru fokus untuk membuat sistem otomatis pengiriman foto. Jadi, kami buat agar setiap orang yang berfoto disitu, hasilnya bisa langsung terkirim ke email dan terunggah secara otomatis di sosial media. Kami buat seperti ini, karena sepanjang yang kami ketahui, belum ada photo booth  di Makassar yang memiliki fitur seperti ini. Rata-rata photo booth  yang mereka miliki, sistem kerjanya masih manual. Kalau sudah berfoto, langsung dicetak. Setelah itu, selesaimi. Kita hanya membawa pulang hasil cetakanya. Kalau mau bawa pulang soft copy-nya, lama lagi prosesnya. Harus di burning dulu di CD atau di copy pake flash disk. Tapi itu kan tidak mungkinmi sempat untuk dilakukan, apalagi banyak orang disitu yang antri mau foto.”

Saya pun berdecak kagum dengan kelihaian anak muda ini dalam menangkap sebuah peluang lalu mengeksekusinya menjadi sesuatu yang bisa mendatangkan uang tanpa menunggu waktu lama. Saya yakin, orang lain juga pasti melihat hal yang sama seperti ini. Namun, mereka enggan dan lamban untuk mengkreasikanya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Memang benar apa yang dikatakan oleh orang bijak. Ketika sebuah peluang ada didepan mata, maka hal terbaik yang perlu dilakukan adalah segera mengeksekusinya. Tidak perlu memikirkan seperti apa hasilnya kedepan. Kita nikmati saja prosesnya. Kalau pun akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, paling tidak kita pernah mencoba itu dan bisa bisa mengambil pelajaran darinya.

Berinovasi Tanpa Henti

 Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari anak muda enerjik ini. Diantaranya adalah keuletan dan keinginan yang kuat untuk terus melakukan inovasi. Selama 4 tahun, ia bersama teman-temanya seolah tidak kenal lelah untuk terus menyempurnakan karya mereka itu. Hingga akhirnya, pada awal tahun 2017 Kotak Narsis dinobatkan sebagai usaha digital terbaik ke dua se Indonesia dalam ajang wirausaha mandiri yang diselenggarakan oleh PT Bank Mandiri.

“Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika hasil karya kami bisa mendapatkan pernghargaan seperti ini. Tidak sia-sia selama empat tahun kami terus menerus melakukan menyempurnakan terhadap Kotak Narsis ini.”

“Penyempurnaan seperti apa yang dimaksud?”

“Kami menambahkan frame yang memudahkan orang-orang untuk mengambil banyak gambar sesuai dengan yang diinginkan, menyisipkan teknologi pengenal suara sehingga saat hendak mengambil gambar tidak perlu lagi menyentuh apa-apa, cukup lewat suara maka kamera pada Kotak Narsis akan segera melakukan tugasnya untuk memotret. Kami juga membuat Kotak Narsis ini bisa mendeteksi senyuman agar setiap orang yang berfoto terdorong untuk memperlihatkan senyum narsisnya.”

“Lalu, kenapa Kotak Narsis ini bisa murah. Bukankah sesuatu yang canggih seperti ini biasanya dihargai mahal?”

“Pada dasarnya memang kami ingin membuat sesuatu yang berkualitas bagus dengan harga murah. Bukan Cuma murah, tapi bisa memberikan kemudahan bagi mereka yang menggunakanya. Kami menyematkan banyak teknologi di Kotak Narsis ini dan langsung terhubung dengan internet karena memang hari ini kita hidup di era digital. Kan lucu, eranya sudah digital tapi fasilitas yang kita gunakan masih manual.”

Setelah mendengar penjelasan anak muda ini, saya pun menyesal karena waktu menikah dulu telah mengeluarkan banyak uang untuk membayar photo booth lain padahal teknologinya begitu sederhana. Kalau saja dulu yang digunakan adalah Kotak Narsis ini,  saya tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Cukup dengan uang satu juta rupiah, saya sudah bisa memajangnya di pintu masuk ruang pernikahan dan orang-orang akan dengan leluasanya berfoto manja dan ceria.

Berani Membuat Sesuatu Yang Baru

 saya masih ingat betul wejangan yang disampaikan oleh salah seorang guru besar dari Universitas Indonesia dalam seminar Teknologi Informasi yang diselenggarakan di UMI tahun 2016 silam. Ia menyampaikan bahwa, jika kita ingin maju maka beranilah untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Jangan membuat sesuatu atau mengulangi apa yang sudah pernah dibuat oleh orang lain, karena hasilnya akan sia-sia.

Bang Ahyar dengan segenap kemampuanya berani untuk membuat warna baru itu. Ia dan teman-temanya membuat ­photo booth  berbasis IOT yang belum pernah dibuat oleh orang lain. Meskipun pada awal kemunculany banyak yang tidak melirik untuk menggunakan Kotak Narsis ini, namun seiring berjalanya waktu akhirnya banyak yang mulai tertarik.

Begitu banyak cerita lucu yang terjadi saat orang-orang menggunakan Kotak Narsis ini. Sepeti yang diceritakan oleh Aldi yang merupakan mahasiswa STMIK Kharisma Makassar kepada saya. Saat itu ia mengunjungi acara Bekraf Developer Day 15 Oktober 2016 yang bertempat di Hotel Clarion.

“Kaget’ka waktu pertama berfoto dengan Kotak Narsis. Canggih’ki fiturnya. Kalau berfoto langsung terupload ke sosial media. Foto’ta juga langsung terkirim di email. Tapi lebih kaget’ka lagi, waktu’ka tau kalau yang buat ini Kotak Narsis itu Kak Ahyar. Dosenku jie ternyata.”

Sambil tersenyum lebar Aldi menceritakan pengalamanya saat menggunakan Kotak Narsis. Ia terkagum-kagum dengan Kotak Narsis itu. ia tidak menyangka kalau Kotak Narsis berbeda dengan photo booth  lain yang ada di Makassar.

***

Hari sudah memasuki waktu shalat zuhur. Saya pun akhirnya berpamitan dengan Bang Ahyar. Ia pun mematikan laptonya dan bersiap-siap untuk pulang karena ada aktivitas lain yang harus dikerjakanya. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari diskusi singkat dengan anak muda itu, terutama tentang bagaimana kita mencitai setiap apa yang dikerjakan. Tanpa cinta tentu semua yang dikerjakan akan menjadi berat. Begitu sebaliknya, dengan cinta maka semuanya akan menjadi ringan dan mudah untuk dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s