Startup Makassar : Peluang dan Tantanganya

 

 

timthumb
Sumber Gambar : Teknokito.com

 

Pada awal tahun 2016 lalu saya sempat mengikuti sebuah acara seminar digitalpreneur yang diselenggarakan oleh Dillo Makassar. Salah satu pematerinya adalah seorang pelaku startup senior di tanah air yang biasa dipanggil Shinta Bubu. Dalam penjelasanya, Ia begitu fasih menceritakan tahap demi tahap proses yang dilalui saat membangun startupnya, sampai akhirnya meraih kesuksesan yang gemilang.

Pada kesempatan itu juga, ia menceritakan kisah sukses para pendiriTokopedia, Bukalapak, Go-jek dan Traveloka yang hari ini telah menjadi startup-startup unicorn di tanah air. Acara seminar ini pun berhasil menghipnotis ratusan peserta yang hadir disitu untuk membangun startup. Termasuk saya salah satunya.

Fenomena Startup

Sejak kemunculan Gojek, Tokopedia, Bukalapak ataupun Traveloka, demam startup mulai melanda hampir semua kota yang ada di tanah air. Startup-startup ini seolah menjadi api pembakar semangat bagi banyak orang untuk berlomba-lomba memulai membangun startupnya. Di Kota Makassar sendiri, fenomena munculnya pegiat startup ini tidak kalah ramainya.

Tentu saja, bukan tanpa alasan banyak orang yang kemudian tertarik untuk membangun startup. Rata-rata mereka yang menjadi alasan mereka adalah ingin menjadi sukses dan menghasilkan banyak uang atau sumber mencari nafkah Memang, sulitnya lapangan pekerjaan saat ini mendorong banyak orang untuk terjun ke dunia startup. Meskipun pada akhirnya, dari seratus orang yang membangun startupnya hanya ada satu atau dua orang yang berhasil.

Di Makassar sendiri, peluang bisnis berbasis digital ini sangat terbuka lebar. Sebagai pusat Indonesia Timur tentu sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai lahan pasar bagi para pelaku bisnis. Startup sebagai salah satu bentuk bisnis yang berbasis digital tentu sangat bisa mendapatkan pasar tersendiri di tengah-tengah masyarakat. Apalagi peradaban dunia abad 21 ini telah berubah menuju era digital. Sehingga, startup ini memang sangat sesuai dengan konsep bisnis masa kini. Mengingat, dewasa ini ekonomi tidak lagi berjalan karena sektor energi, modal, atau tenaga kerja, tapi karena ide, konsep, kreativitas, dan inovasi. Era ini dijiwai oleh cara berpikir dengan konsep 3 HT, yaitu high think, high tech, dan high touch. Jadi yang akan maju adalah bisnis yang memiliki konsep kuat dan memanfaatkan teknologi.

Selain itu, berbagai persoalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat hari ini juga dituntut agar bisa diselesaikan secara cepat dan tepat. Seperti masalah pelayanan masyarakat yang mengalami ketimpangan di berbagai sektor. Jadi sangat penting berbicara tentang startup karena mereka yang mempunyai ide, passion untuk berkontribusi dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Dengan startup yang dihasilkan itu kemudian bisa membangun sebuah aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Di Kota Makassar, persoalan-persoalan seperti ini masih sangat banyak. Untuk itu, maka peluang untuk membangun sebuah startup yang bisa berkontribusi pada penyelesaian masalah masih terbuka lebar. Namun sayang, sampai sekarang hal ini masih belum kelihatan. Progres pertumbuhan startup di kota ini pun masih belum kelihatan. Kalaupun ada yang membangun startup, bisa dipastikan hampir tidak memiliki nilai bisnis dan memberikan manfaat bagi penyelesaian masalah bagi Kota Makassar.

Saat saya mewawancarai Mbak Arin yang merupakan menejer Dillo Makassar pada hari rabu tanggal 26 April 2017 yang lalu ia menjelaskan bahwa,  peluang untuk mengembangkan startup di Kota Makassar ini cukup baik. Namun, yang menjadi persoalan adalah ekosistem startup di Kota Makassar masih belum bagus. Dengan demikian, maka progres bertumbuhnya startup di kota ini masih begitu-begitu saja.

Membangun Ekosistem Startup

Dalam wawancara saya yang hampir satu jam dengan Mbak Arin, ia juga menjelaskan bahwa para pegiat startup di Kota Makassar ini sangat banyak dan berasal dari berbagai kalangan, bukan hanya mereka yang memiliki pengetahuan IT. Untuk itu, ekosistem yang bisa mendukung mereka untuk berkolaborasi harus tercipta. Misalnya, dengan menyediakan Co-Working Space yang memadai dan sesuai dengan standar untuk menggembleng para perintis startup. Dengan demikian maka beragam ide-ide gila dan inovatif dapat dilahirkan .

Saya pun memahami apa yang disampaikan oleh Mbak Arin. Bukan hal yang mudah untuk menciptakan sebuah ide gila dan inovatif kemudian mengeksekusi itu sampai menjadi sebuah model bisnis yang bisa mendapatkan pasar di masyarakat. Butuh tempat yang tepat dan suasana yang kondusif agar seseorang bisa melakukan itu semua.

Intinya, dalam sebuah ekosistem startup dibutuhkan kolaborasi dan komitmen untuk maju bersama tanpa terjadi friksi senioritas dan birokrasi yang berbelit-belit. Dibutuhkan upaya, gairah, semangat bersama dalam melahirkan sebuah startup menjadi model bisnis yang berpengaruh dan memberikan nilai ekonomi besar dalam masyarakat. Selain itu, sebuah start up  harus bisa menjadi sebuah “problem solving “ bagi dimasyarakat. Seperti Go-jek misalnya yang bisa memberikan solusi atas peliknya eprsoalan trasnportasi yang ada di tanah air

Sebelum menutup wawancara, Mbak Arin juga menyampaikan kepada saya, bahwa sebetulnya para pelaku startup di Kota Makassar ini pintar-pintar. Hanya saja mind set mereka masih kurang bagus. Tidak jarang, banyak ide yang ingin mereka ekseskusi untuk menjadi sebuah model bisnis, namun ide itu sudah banyak yang jalankan. Mereka kurang kreatif dan terkadang tidak sabaran untuk segera menuai hasil. Padahal, membangun startup itu bukan hal yang mudah. Butuh waktu yang lama agar bisa meraih hasilnya. Diperlukan kesabaran dan harus melalui proses panjang sampai akrhirnya bisa mendapatkan pasarnya tersendiri. Ia juga menambahkan, bahwa startup ini adalah bisnis yang 99% gagal. Artinya, jika orang-orang yang menjalankan ini tidak memiliki mental yang kuat, malas belajar dan cepat menyerah maka otomatis akan gagal. Sebelum mengakhiri wawancara itu, Mbak Arin menyarankan saya untuk bertemu dengan para pelaku startup yang sudah mulai berhasil.

Saya pun menemui salah satu pegiat startup di Kota Makassar, Ahyar Muawal (Ceo WASDLAB) pembuat Kotak Narsis. Dari anak muda ini saya mendapatkan penjelaskan bagaimana awal mula ia merintis startupnya. Ia mengisahkan, jika tidak ada dukungan tempat kerja yang memadai mungkin saja mereka tidak bisa melahirkan sebuah ide yang kemudian bisa dieksekusi menjadi model bisnis dan bertahan sampai hari ini. Ia juga menambahkan,  pada dasarnya para perintis startup yang ada di Kota Makassar ini sangat banyak, hanya saja jarang ada yang bertahan untuk melalui proses panjang seperti yang mereka lalui. Manja dan cenderung menginginkan hasil yang instan menjadi karakter utama kebanyakan pelaku startup yang ada di Kota Makassar. Padahal, untuk membangun startup itu butuh kesabaran. Ia mencontohkan bagaimana proses yang dilalui saat membangun Kotak Narsis. Butuh waktu hampir lima tahun hingga saatnya bisa mendapatkan pasar tersendiri di Kota Makassar.

***

Pada satu kesempatan saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada salah seorang pendiri startup di Balikpapan, bang Hilman Fajrian  melalui email. Saya mengajukan pertanyaan ini karena startup yang ia rintis, Social Lab, merupakan startup tertua di Balikpapan dan sampai saat ini masih bertahan dan terus bertumbuh. Salah satu pertanyaan yang saya ajukan adalah bagaimana membangun dan mengembangkan startup agar bisa bertahan seperti yang ia lakukan. Jawabanya “ Startup akan menjadi sehat dan menjanjikan ketika ia dimulai secara alami, kesabaran, tumbuh secara kontinyu, dan berdaya tahan tinggi”

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Startup Makassar : Peluang dan Tantanganya

  1. Ping-balik: “Jangan Sampai Ada ‘Ue’ di Tulisan Ilmiahmu” dan 8 tulisan Ujian Akhir Kelas Menulis Kepo lainnya | Mujahid Zulfadli

  2. Ping-balik: “Jangan Sampai Ada ‘Ue’ di Tulisan Ilmiahmu” dan 8 tulisan lainnya (Ujian Akhir Kelas Menulis Kepo) | Mujahid Zulfadli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s