Menjadi Mahasiswa Rantau, 3 Hal ini Yang Saya Dirindukan Saat Ramadhan Tiba

ramadan

Bagi saya, menjadi mahasiswa rantau adalah proses kehidupan yang mesti dilalui. Bukan hanya untuk mewujudkan cita-cita, tetapi sebagai jalan untuk menemukan jati diri. Namun, saat melalui itu semua terkadang ada harga yang mesti dibayar mahal. Kita harus rela memendam rindu saat melewati momen-momen spesial seperti bulan Ramadhan sewaktu berada di tanah rantau. Berdasarkan pengalaman saat mahasiswa rantau beberapa tahun yang lalu, inilah tiga hal yang paling saya dirindukan saat Ramadhan tiba:

Rindu Kampung Halaman

 Tidak ada tempat terindah di dunia ini selain kampung halaman, tempat dimana kita dilahirkan. Sehingga, saat menjalankan puasa di sana, semuanya akan terasa nikmat. Berbeda saat menjalankan aktifitas berpuasa di tanah rantau. Apalagi, kalau itu untuk yang pertama kalinya. Semuanya terasa asing. Mulai dari tempat, suasana dan orang-orang yang ada disitu. Kita bagaikan berada di dalam ruang yang dilapisi dinding yang tebal, sendiri dan merasa kesepian. Namun, apa boleh buat. Demi cita-cita semua itu harus dijalani.

Rindu Masakan Ibu di Rumah

Saat pertama kali berada di tanah rantu dengan status mahasiswa baru, tentu saja masakan ibu di rumah sangat saya rindukan. Bagaimanapun lezatnya makanan yang saya konsumsi saat berada ditanah rantau, tidak pernah bisa menandingin lezatnya masakan ibu dirumah. Meskipun hanya sayur bening dan ikan asin, masakan itu tetap tidak ada duanya. Sesederhana apapun masakanya, tetap menjadi makanan yang paling nikmat untuk disantap saat berbuka ataupun sahur.

Rindu Dibangunkan Saat Sahur

 Saat menjalankan aktifitas puasa di rumah sendiri, semuanya terasa enak. Apalagi saat menjelang sahur. Tidak perlu repot-repot memasang alarm, karena orang rumah yang akan membangunkan kita. Namun, keadaan ini berubah 180 derajat saat tinggal diperantauan demi mengejar cita-cita. Semuanya harus serba sendiri. Bangun sahur pun kalau tidak berusaha sendiri, pasti akan lewat waktunya. Akhirnya, terkadang hanya minum air putih karena azan subuh sudah berkumandang.

 

 

 

 

Ziarah Kubur Untuk Mengingat Mati

 

1495564880111
Dok Pribadi : TPU Sudiang

 

Waktu baru saja menunjukan pukul 08.00 saat kami meninggalkan rumah untuk pergi ziarah kubur. Hari itu kami berencana untuk menziarahi kuburan nenek istri saya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) daerah Sudiang dan kuburan kakeknya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang.

Ziarah kubur ini memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga istri saya setiap menjelang bulan suci ramadhan. Isteri saya mengisahkan, kalau sejak dulu orang tuanya selalu mengajak semua anak dan cucu-cucunya untuk melakukan ziarah kubur. Alasanya cukup sederhana, agar mereka tidak melupakan nenek dan kakeknya.

Tidak sampai satu jam, mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di TPU Sudiang. Areal pemakaman itu begitu luas. Sejauh mata memandang tampak kuburan-kuburan yang sudah difondasi berjejer dengan rapi. Pada setiap salah satu sisi kuburan itu terdapat lempengan yang terbuat dari semen bertuliskan identitas singkat orang yang dulunya pernah hidup dan beraktifitas, tertawa dan menangis serta tumbuh dan memiliki keturunan di atas dunia ini. Namun, setelah sang pemilik kehidupan mengambil kembali nyawa yang pernah dititipkan sementara waktu, kini yang ada tinggalah nama yang tertulis di atas pusaranya.

Untuk sampai ke lokasi pemakaman nenek istri saya, ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Kami harus berjalan beberapa puluh meter dari tempat pemberhentian mobil menyusuri jalan setapak diantara ratusan makam yang ada di tempat itu. Sambil berjalan, sekali-kali saya memperhatikan tahun kelahiran dan kematian beberapa kuburan yang ada disitu. Dari apa yang saya lihat, ternyata ada yang meninggal di usia tua. Ada juga beberapa yang meninggal saat usianya masih relatif muda. Bahkan, ada yang masih anak-anak.

Dalam hati saya membatin, memang benar apa yang sering disampaikan oleh para pengemban dakwah. Bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Apakah di usia tua, muda, ataupun masih anak-anak. Jika sudah tiba saatnya  untuk melanjutkan perjalanan ke fase kehidupan yang selanjutnya, maka tidak akan dimundurkan sedikit pun waktunya. Mau tidak mau, kita harus mau. Siap tidak siap kita harus siap.

Sambil terus berjalan diantara kuburan-kuburan itu, tiba-tiba saya teringat seorang sahabat seperjuangan saat melakukan penelitian di laboratorium AIMP Universitas Hasanuddin beberapa tahun yang silam. Ia masih muda dan penuh enerjik. Namun tidak disangka-sangka, setelah hampir satu bulan tidak bertegur sapa di dunia maya tiba-tiba tersiar kabar kalau ia telah dipanggil oleh sang maha pemilik kehidupan.

Setelah sampai di lokasi makam yang dituju, kami pun langsung membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh diatasnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual menyiram pusara dengan air dan diakhiri dengan berdoa untuk penghuni makam agar mendapatkan tempat terindah di sisi Allah.swt

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Kami pun bergegas meninggalkan TPU Sudiang dan menuju TMP Panaikang. Berbeda dengan Tpu Sudiang, TMP Panaikang lokasinya tidak terlalu luas, hampir seukuran lapangan sepak bola. Hal ini disebabkan karena mereka yang di makamkan disana hanyalah orang-orang tertentu yang dianggap berjasa untuk bangsa dan negara. Di lokasi ini pun orang Islam dan Kristiani di makamkan berdampingan. Yang membedakan hanyalah bentuk nisannya.

Tidak jarang, mereka yang dimakamkan di TMP Panaikang ini dulunya memiliki pangkat dan jabatan tinggi di bidang militer. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan berwibawa. Mereka memiliki reputasi membanggakan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Namun, itu semua ternyata tidak ada gunanya. Lagi-lagi, jika sudah tiba waktunya malaikat datang untuk menjemput, maka pangkat, jabatan ataupun reputasi yang dimiliki itu sama sekali tidak bisa menghentikan sedetik pun langkah sang perenggut nikmat kehidupan.

Kita pun hanya bisa pasrah menerima takdir yang telah ditetapkan itu. Takdir yang sudah ditetapkan jauh sebelum kita dilahirkan di muka bumi ini. Takdir yang tidak bisa dirubah, dilawan atau ditolak sedikit pun. Karena memang, semua itu sudah menjadi kehendak dari sang maha pencipta alam semesta.

Setelah menuntaskan semua prosesi ziarah, kami pun langsung pulang ke rumah. Di tengah jalan, kami menyempatkan diri untuk singgah menikmati es teler untuk menghilangkan dahaga akibat cuaca panas pada hari itu. Sambil menikmati segelas es teler saya membayangkan lagi nasehat bijak yang pernah disampaikan oleh seorang pengemban dakwah. Ia mengatakan bahwasanya kematian itu adalah hal yang pasti terjadi. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu kapan waktunya, dimana tempatnya dan dalam keadaan seperti apa  kita akan mati. Untuk itu, maka perbanyaklah mengingatnya dan  mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal ibadah dan berbuat kebajikan. Dengan begitu, maka insya Allah kita tidak akan menyesal di kemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengulik Rahasia Sukses Startup Social Lab

 

 

 

my-startup-story-dribbble
Sumber gambar : Kurateme.com

 

Pada suatu kesempatan, saya membaca satu portal berita online yang khusus membahas tentang perkembangan startup di tanah Borneo. Salah satu startup yang dibahas disitu adalah Social Lab. Menurut media online ini, Social Lab merupakan startup senior di Balikpapan yang didirikan oleh seorang praktisi media dan big data, Bang Hilman Fajrian.

Setelah membaca berita ini, saya pun penasaran untuk mengetahui seperti apa proses yang dilalui oleh pendirinya sehingga bisa bertahan dan terus bertumbuh sampai saat ini. Untuk itu, maka saya mencoba untuk mewawancarai beliau melalui email. Berikut hasil wawancara saya.

[T]: Bagaimana ide awal merintis Startup Social Lab

 Pada 2012, saya diangkat menjadi Direktur Bisnis di Koran Kaltim, surat kabar harian di Kaltim tempat saya bekerja sejak 2006, dari jabatan sebelumnya sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Sejak saat itu kegiatan kerja harian saya turun drastis, karena direksi lebih sebagai pengarah dan pembina, bukan operasional harian.Saya jadi banyak sekali waktu luang, yang saya sebut sebagai ‘pensiun dini’.Saya harus menemukan kegiatan lain agar terus tumbuh.

Seorang teman lama, namanya Aris Darmawan, mengajak saya bergabung ke perusahaan yang baru ia dirikan bernama Discover Borneo (DB). Produk utamanya saat itu adalah sebuah majalah wisata Balikpapan/Kaltim yang terbit bulanan dan diedarkan di Kaltim.Saya tidak tertarik, karena merasa sudah tak ada tantangan lagi di bisnis media cetak.Begitu-begitu saja.Saya sudah merasa ‘khatam’ di bisnis cetak. Khatam berkali-kali tidak akan membawa saya kemanapun. Di Kaltim Post (Jawa Pos Grup), tempat saya bekerja tahun 2003-2006, saya adalah karyawan tercepat yang masuk ke golongan/pangkat Redaktur Utama. Golongan yang disyaratkan untuk menjadi seorang pemimpin redaksi.Tapi karena masalah senioritas, saya tak bisa menduduki jabatan strategis apapun.Saya masih muda dan tak sabaran, sehingga saya keluar dan ikut mendirikan Koran Kaltim pada 2006.

Diskusi dengan kawan itu berkembang arah rencana bisnis digital yang saya syaratkan kepadanya.Dunia IT adalah passion, kompetensi dan hobi saya sejak kecil hingga kuliah. Bekerja di surat kabar membuat saya harus meredupkannya untuk sementara. Kini ia harus saya hidupkan lagi, mencari tantangan-tantangan baru untuk ditaklukkan. Aris setuju.Kami lalu mendirikan CV Discover Borneo (DB) pada 2012 itu.Kami tak punya portofolio dan produk apapun di bisnis digital pada awalnya.Saya melihat bisnis media sosial di Indonesia sedang booming dan tak ada bisnis yang secara serius bergerak di bidang itu pada market Balikpapan, Kaltim, bahkan Kalimantan.Yang saya lihat potensi bisnisnya adalah sebagai buzzer, endorser dan social ads di media sosial, khususnya Twitter.Namun kami tak punya portofolio akun Twitter yang punya reputasi untuk segera memulai bisnis.Mengembangkan dari awal tentu butuh waktu lama dan kami tak bisa segera doing business. Dan yang kami pantau, ada akun Twitter kota bernama @KotaBalikpapan yang saat itu punya lebih dari 40.000 follower dan reputasinya sangat bagus di Kaltim. Akun Twitter ini kami anggap sebagai akun kota paling baik di Kalimantan. Beruntungnya, pemilik akun ini adalah kawan kami juga. Dia hanya mengurus @KotaBalikpapan saat senggang dan tak melakukan monetize terhadap akun ini. Kami tawarkan kerjasama ‘pertemanan’ dengan dia. Kami membeli hak ekslusif pengelolaan @KotaBalikpapan selama 3 tahun dengan biaya Rp 1 juta per bulan. Saya tak mau membeli akun itu meski si teman lebih memilih opsi akuisisi.Saya ingin memulai bisnis secara efisien dan meminimalkan risiko. Lagipula saya pikir, belum tentu tren di Twitter bisa awet 3 tahun ke depan dan tidak muncul bisnis-bisnis disruptif. Dia setuju.Maka mulailah kami berbisnis di ranah digital.

Saat itu kami tak tahu apa-apa soal startup.Dengar namanya saja belum pernah.Baik saya dan Aris sama-sama orang media cetak.Yang kami tahu adalah, kami punya kompetensi dan passion yang bisa dijual menjadi produk.Maka Aris memimpin divisi cetak, saya di divisi digital bernama Social Commerce Department sebagai Digital Director. Lucunya, saat itu saya bahkan tidak punya akun Twitter! Saya tidak tahu cara engage dan optimasi di Twitter. Saya cuma punya akun FB yang jarang saya singgahi.Namun, saya belajar dengan cepat dan sangat keras.Melakukan berbagai eksperimen.Trial and error.Mengukur hasil dengan disiplin.Setia pada data driven dan kerja ilmiah.Serta tak takut berbuat kesalahan.Kurang dari 1 bulan, Twitverse sudah saya kuasai.Mulai dari strategi komunikasi, program konten, tren, market, platform, tools, sampai membaca berbagai analytic.Dalam 2 bulan eksperimen saya itu, saya mampu menambah 20.000 follower @KotaBalikpapan.Sebelumnya, akun ini hanya bisa mencapai 40.000 follower dari 2009 sampai 2012.Saya mampu mencapai setengahnya dalam 2 bulan sebagai seorang pemula. Murni white hat, bukan black hat.

Maka kami mulai memonetize akun ini dalam model bisnis B2B yang marketnya adalah korporat.Monetisasi awalnya adalah menjual jasa periklanan (ads) melalui akun ini.Harga ads langsung kami patok tinggi, Rp 100.000/tweet.Padahal saat ini rata-rata akun buzzer perkotaan yang dikelola perorangan tarifnya hanya Rp 5-10 ribu/tweet.Kami langsung menetapkan tarif tinggi untuk membedakan kami sebagai entitas bisnis professional dengan akun perorangan.Aris dan saya sama-sama bukan orang baru di dunia bisnis media, sehingga punya banyak relasi bisnis. Hal itu sangat memudahkan kami dalam proses akuisisi konsumen. Kami langsung mengakuisisi korporasi besar seperti Honda, Telkom, Telkomsel, Pertamina, Indosat, perhotelan, Yamaha, Suzuki, Pegadaian, dan brand-brand ternama lain di kwartal pertama. Staf saya cuma 2 orang dan mereka kerja dari rumah, bukan di kantor. Kantor kami adalah rumah Aris, tempat staf saya sekali-sekali bekerja saat ada meeting mingguan. Di departemen saya, pekerjaan bisa dilakukan di mananpun, tak ada kewajiban ke kantor. Hal ini membuat departemen saya sangat efisien, namun punya revenue melebihi target.Keberhasilan ini saya rasa bertumpu pada reputasi Aris dan saya di kalangan mitra, bukan semata-mata pada keunggulan produk.

Di kwartal ke-2, saya melalukan scale-up dengan menyediakan produk baru yakni pengelolaan media sosial milik partner secara professional.Kami langsung mendapatkan kontrak 1 tahun dari Honda dan Pertamina (untuk mengelola akun media sosial CSR mereka).Nilainya sangat fantastis ketika itu.Gaji saya di DB bahkan lebih besar daripada gaji saya sebagai direktur di Koran Kaltim.Di kwartal ke-2 tahun pertama ini kami juga mendapatkan kontrak iklan jangka panjang dari mitra-mitra besar. Yang bila dijumlahkan penghasilan tahun pertama bisa menutup operasional sampai 2 tahun ke depan. Sementara, saya tetap ‘memaksa’ DB untuk tetap beroperasi secara efisien dengan membatasi pengeluaran yang tak perlu.Staf saya waktu itu tetap 2 orang.

Di kwartal ke-3 saya melakukan scale-up lagi. Produk baru pertama adalah pelatihan social commerce dan manajemen reputasi.Kami mendapatkan kontrak besar dari Telkom Kaltimsel untuk memberikan pelatihan social commerce setiap 2 minggu kepada para pelaku UKM di Balikpapan.Kami juga disewa untuk memberikan pelatihan manajemen reputasi media sosial oleh berbagai korporasi.Setiap bulan, minimal ada 2 permintaan.

Produk baru kedua adalah layanan iklan di @KotaBalikpapan B2B khusus untuk UKM.Tarif paketnya kecil saja, Rp 250.000/bulan untuk 30 kali tweet iklan.Kami lakukan ini untuk menguasai market share.Kami juga sediakan platform khusus untuk mengorder dan bertransaksi secara online.Tidak ribet, dan langsung diproses secara otomatis.Tak perlu staf untuk eskalasi ini. Namun order yang masuk banyak sekali. Dalam sebulan, lebih dari 20 mitra UKM yang berhasil kami akuisisi dengan pertumbuhan per bulan lebih dari 50%.

Scale-up berikutnya adalah menggabungkan online event dengan offline event.Produk ini dipakai oleh maskapai internasional Silk Air, Telkom, Telkomsel, hingga Honda.Saat itu segalanya terasa sangat beres. Pertumbuhan selalu di atas target. Revenue bisa bikin ongkang-ongkang kaki bahkan lebih dari 2 tahun ke depan. Di tahun kedua, tahun 2013, makin banyak brand-brand besar bergabung, bahkan dengan kontrak 1 tahun.Meski Pertamina tidak melanjutkan kontrak di tahun ke-2, Honda tetap melanjutkan di tahun berikutnya yang kenaikan nilainya lebih besar daripada nilai kontrak Pertamina.Saat itu kami benar-benar menguasai market pada niche yang kami geluti. @KotaBalikpapan telah menjadi bisnis media sosial paling maju dan paling besar di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Bahkan akun buzzer dari Bali dan Manado pun kalah oleh kami kurang dari 2 tahun.

Dari segi sosial politik (sospol) kami juga memainkan posisi sangat strategis pada isu-isu di Balikpapan dan Kaltim. Sebagai orang media, kami paham betul cara menggoreng isu. Kami tahu cara make news. Seringkali, apa yang kami blow up lewat @KotaBalikpapan, menjadi perbincangan secara luas bahkan diikuti oleh media mainstream. Yang paling fenomenal adalah ketika kami menggerakkan perlawanan perubahan nama bandara Sepinggan di Balikpapan lewat gerakan #SaveSepinggan yang nyaris menimbulkan bentrok kelompok masyarakat di lapangan. Kemampuan kami dalam make news sangat mendongkrak reputasi kami dalam mengakuisisi pasar lebih luas lagi.

Namun keberhasilan, kenyamanan, dan uang banyak tak otomatis membuat masalah selesai.Baik saya dan Aris sama-sama memiliki problem yang tidak ringan.Saya punya masalah berat pada skalabilitas.Kami memang jadi raja pada niche kami, tapi nama akun @KotaBalikpapan itu menjadi barrier untuk mengeskalasi pasar ke wilayah baru. Tidak mungkin bagi kami, misalnya, bekerjasama dengan pebisnis di Sumatera.Karena tidak relevan. Kecuali si pebisnis Sumatera itu hendak mempromosikan usahanya kepada market Balikpapan. Satu sisi kami perlu skalabilitas untuk menjadi sebuah bisnis yang sehat, tidak stuck. Sisi lain nama akun tersebut jadi barrier terbesar. Kami memang punya kompetensi yang berlaku secara global, namun ia harus di-deliver lewat sebuah platform global pula. Sementara, cara kami doing business dan closing transaksi dilakukan lewat cara ‘tradisional’ dengan tatap muka atau presentasi di mitra bisnis area Balikpapan dan sekitarnya.

Sinyal bahaya juga muncul di tahun 2014.Revenue menurun karena ekonomi nasional sedang gonjang-ganjing karena Pilpres.Bahkan setelah Pilpres, Jokowi melepaskan subsidi BBM yang langsung menghantam mitra-mitra bisnis kami.Terutama Honda yang penjualannya turun drastis.Korporat mengurangi belanja iklan, begitu juga UKM. Saya tak melihat ada pilihan lain kecuali melakukan pivot yang mesti beyond @KotaBalikpapan. Bukan hanya demi pertumbuhan yang sehat bagi bisnis ini, tapi juga life cycle bisnis kami di Balikpapan sudah hampir habis atau jenuh. Pilihannya bagi saya cuma 2: ekspansi atau tutup produk ini di tahun 2015, paling lambat 2016, sebelum ia berubah dari revenue center menjadi loss center. Namun eskalasi atau pivot sebesar ini memang berisiko besar dan butuh perombakan pada produk serta model bisnis. Saya dan Aris kerap melewati perdebatan panjang soal hal ini.Kami memang dua sahabat yang sering berselisih pendapat, bahkan bertengkar.Namun seringkali Aris yang mengalah, saya jadi tidak enak juga.

Sementara Aris punya masalah berat soal pengelolaan finansial yang timbul karena ekspansi yang terlalu cepat dan belanja besar pada fasilitas serta produk baru yang iarilis (produk non digital). Saya tak bisa jelaskan detilnya.Tapi dengan pengelolaan seperti itu, ditambah masalah yang saya sendiri sedang hadapi, saya menjadi ragu DB bisa sustain, atau setidaknya berkembang ke arah yang saya impikan.Harus saya akui pada titik ini saya sudah punya agenda yang berbeda dengan agenda Aris, dan cara-cara menjalankan agenda tersebut.

Saya ingin memulai sesuatu yang fresh dengan agenda yang tak mesti dikompromikan dengan orang lain. Saya ingin berjalan sangat cepat dan fokus.Selain itu, saya merasa sudah selesai dengan dunia buzzer, social commerce dan social ads di tingkat lokal yang telah saya kuasai.Saya perlu dunia baru untuk dikuak.Januari 2015, saya keluar dari DB secara baik-baik. Meski saat itu Aris meminta saya memimpin DB secara keseluruhan dan ia mengalah dengan ‘pensiun dini’. Saya menolak. Karena saya sadar akan melakukan hal yang sangat berbahaya dan sangat mungkin gagal, yang berkonsekuensi akan membuat bangkrut DB dan seisinya. Pengelolaan bisnis ala lean startup yang akan saya jalani kelak akan membuat syok DB dan akan terus jadi beban moral bagi saya kepada Aris dan teman-teman di DB. Saya tak sanggup untuk beban dan tanggungjawab sebesar itu.Jadi, saya putuskan keluar.Melepaskan semua portofolio yang saya tangani di DB, termasuk @KotaBalikpapan.Lalu mendirikan Social Lab pada Februari 2015.Sendirian.Bila kelak saya gagal, saya tak harus menyeret orang lain ikut tenggelam.

[T]: Apa yang dilakukan selama ini sehingga startup yang didirikan bisa bertahan sampai sekarang

 Obsesi yang tak pernah habis-habis dalam belajar, bertumbuh, dan menguak tantangan-tantangan baru untuk ditaklukkan.Saya juga selalu memulai sebuah bisnis secara efisien dan seringkas mungkin, namun sistematis dan terukur. Soal uang, investasi, belanja dan biaya, saya sangat cermat (baca: sangat pelit). Saya tak mau membangun bisnis yang langsung besar.Saya selalu memulai dari yang kecil.Metode ini dinamakan lean startup – yang istilah ini dipopulerkan oleh penulis buku best seller Eric Rise yang waktu itu belum pernah saya baca bukunya.Saya juga selalu mulai dari minimum viable product (MVP), yang meski sederhana namun bisa dikembangkan.Kuncinya adalah kompetensi saya di bidang komunikasi, media, publikasi dan programming. Orientasi utama saya adalah target pertumbuhan. Saya tak pernah memasang target terlalu tinggi di masa-masa awal, namun saya memastikan pertumbuhan itu bisa diukur secara akurat dan punya traksi pertumbuhan yang tepat.

Lalu, jangan pernah merasa nyaman.Di bisnis teknologi, nyaman berarti mati.Ini menyebabkan kita untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Sejak 2015 itu, sebenarnya saya sudah meramalkan bisnis social ads akan segera terdisrupsi oleh Facebook Ads dan Twitter Ads. Akan makin banyak orang yang menguasai social commerce akibat tingginya penetrasi internet, bauran media sosial, dan pengetatan bujet korporat hingga mereka melakukan social commerce secara in-house. No point bagi saya terus-terusan di situ, apalagi di kancah nasional dimana persaingan makin ketat. Yang saya pantau saat itu adalah tren di big data dan smart city.Maka, mulailah saya belajar kedua hal tersebut – dua dunia baru yang coba saya kuak.

Tapi, Social Lab harus tetap doing business mulai di hari pertama.Jadi, saya tetap menjalankan bisnis social commerce dalam bentuk optimasi media sosial milik klien.Di masa-masa awal, saya bisa dapat klien nasional, bahkan internasional.Saya tidak bermain di market Balikpapan/Kaltim, karena saya anggap itu market DB.Jumlah klien awal Social Lab memang tidak banyak, tapi sesuai target pertumbuhan.Staf saya cuma 1, seorang freelance di Jakarta yang saya temukan lewat situs freelancer. Biaya gaji untuk membayar 1 freelance ini hanya 10% dari revenue bulanan.

Saya juga mulai mengembangkan reputasi ke tingkat nasional, salah satunya rajin menulis di Kompasiana. Di sana saya dapat exposure dan perluasan jejaring bisnis. Hingga akhirnya saya merasa sudah punya pengetahuan dan kompetensi yang cukup di bidang big data dan smart city, saya mulai mengkomersialkannya.Klien pertama saya di bidang big data adalah PT PLN Pusat, dimana saya mengelola big data untuk trading komoditas, valas, dan ekonomi makro.Kontraknya per tahun, dan sekarang sudah masuk tahun ke dua.Revenue bulanan dari PLN 3x dari gaji saya di Koran Kaltim sebagai direktur.Meski saya hire 1 orang dari Bangladesh untuk mengelola platform-nya hanya, biayanya hanya $70/bulan. Sementara klien pertama saya dalam smart city lewat implementasi open government adalah Pemda Kutai Kartanegara pada pertengahan 2015, dimana saya mengelola seluruh media sosial Pemda.Kontraknya juga per tahun. Nilainya 4x lipat dibandingkan nilai kontrak big data PLN. Saya hanya perlu menambah 1 orang karyawan sebagai peliput lapangan, yakni seorang wartawan Koran Kaltim (anak buah saya sendiri) yang saya beri honor tambahan bulanan untuk pekerjaan ini. Sementara untuk adminnya, saya tetap menggunakan freelance saya di Jakartayang saya tambah honornya.

[T]: Adakah hal-hal sederhana yang dilakukan untuk merawat Social Lab?

 Saya rasa tidak ada yang sederhana. Karena saya tidak percaya yang sederhana itu akan membawa kita kepada kemajuan. Kalau saya yang lakukan itu sederhana atau mudah, pasti sudah banyak yang bisa melakukannya. Mungkin cara saya melakukan lean startup atau efisiensi dan MVP itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya sangat sulit. Karena efisiensi itu membuat saya harus terus belajar dari nol/scratch.Saya tak bisa menemukan co-founder di Balikpapan karena keterbatasan talent pool di daerah. Menemukan co-founder di luar Balikpapan bisa saja dilakukan, tapi butuh waktu tidak sebentar. Karena saya percaya bahwa founder dan para co-founder harus punya sejarah. Mirip seperti pernikahan, tidak bisa langsung comot.Penyebab bubarnya startup utamanya bukan soal modal, tapi perpecahan di antara para founder. Selain itu saya punya agenda pribadi yang saya tak mau itu diganggu oleh orang lain.

Oleh sebab itu, saya harus bekerja sendirian.Saya harus belajar menguasai teknologi, manajemen operasi, dan sistemnya dengan tangan saya sendiri.Setiap belajar hal baru, saya hanya tidur 2-3 jam per hari.Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Kembali masuk ke stress tingkat tinggi. Sementara saya juga punya tanggungjawab mengerjakan bisnis yang telah berjalan dan mengembangkan reputasi.But, it’s worth it. Ilmu tidak pernah mengkhianati kita. Pasti akan datang saatnya dimana kita bisa menuai hasil.

 [T]: Seperti apa kendala paling sulit yang dihadapi selama ini

 Kendala menghadapi manusia.Keputusan saya keluar dari DB adalah yang paling sulit, karena itu melibatkan perasaan saya kepada seorang sahabat.Kita bisa kejam pada diri sendiri, tapi belum tentu bisa kepada orang-orang terdekat kita. Mungkin proses saya belajar yang saya terangkan di atas terdengar kejam dan keras pada diri sendiri. Tapi itu bukan apa-apa dibanding saya harus berkonfrontasi dengan orang-orang terdekat saya.Dari situ saya belajar soal karakter diri sendiri – yang menurut saya sangat sulit menemukan partner bisnis yang tepat karena saya perfeksionis, agresif, ilmiah, dan menuntut kecepatan. Seringkali saya merasa kesepian dalam bekerja dan mengejar apa yang saya tuju. Tapi, bukankah puncak gunung adalah tempat yang sepi?

[T]: Seberapa besar pengorbanan yang sudah dilakukan selama membangun Startup Social Lab ini

 Saya tak merasa berkorban apapun. Segala proses belajar dan bekerja yang bisa dianggap sangat keras, saya tak menganggap itu pengorbanan. Itu obsesi saya.Yang berkorban justru orang-orang terdekat saya.Istri dan anak saya.Meski saya selalu bekerja di rumah, namun mereka tetap kehilangan perhatian dan banyak momen dengan saya. Terdampak akan stress yang saya alami, dan merasa saya ‘tak berada di rumah’ meski jasad saya hanya berjarak 20 meter. Sahabat saya, Aris, yang harus berkorban melepaskan saya demi ambisi dan agenda pribadi saya.

[T]: Seperti apa kegiatan harian, bulanan dan tahunan dari Social Lab.

 Saya sangat benci pada rutinitas.Bagi saya, betapa menyedihkannya hidup hanya berisi repetisi.Saya juga seorang praktikal yang efisien.Saya tak suka pada implementasi yang rumit.Sehingga, setiap hendak memulai project baru, saya selalu membangun atau menyediakan platformnya terlebih dulu, menciptakan otomatisasi, alogaritma atau AI-nya. Menciptakan work flow dan SOP. Menentukan target dan cara pengukuran. Setelah jadi, selalu saya ujicoba sendiri sampai saya pastikan berjalan sempurna.Saya juga memastikan platform, sistem dan manajemen kerja ini bisa dilakukan secara ringkas dan cepat oleh staf saya sebagai operator.Setelah itu baru saya serahkan kepada staf saya untuk dijalankan sesuai petunjuk yang sudah saya buat.Dengan begitu, saya tak bekerja harian meski saat ini saya punya lebih dari 20 klien korporat dengan lebih dari 50 item pekerjaan harian.Staf saya cuma 3 orang tadi.Saya cuma cek dashboard untuk monitoring harian, itu pun tak lebih dari 10 menit sehari.Bahkan tak perlu dicek tiap hari. Karena sistem yang saya buat bisa memberi notifikasi bila ada metrik target kerja harian yang tak tercapai. Yang justru jadi kerja harian adalah meladeni para klien ‘ngobrol’. Mulai dari tanya ini-itu sampai diskusi. Tapi saya menikmatinya, karena saya suka dengan diskusi.

Kerja bulanan perlu waktu lebih banyak karena saya harus membuat report secara manual kepada mitra. Draft memang dibuat oleh staf, tapi mereka tidak punya kompetensi insight yang saya miliki dalam hal analisa, rekomendasi, forecast, historical, dan sebagainya. Namun kerja bulanan juga singkat, hanya butuh waktu 8-10 jam saja untuk seluruh klien.

Kerja tahunan agak berat dan perlu mobilitas tinggi sampai keluar daerah.Ini karena model bisnis saya sudah merambah ke B2G, terutama pada produk implementasi smart city.Saya harus melakukan lobi untuk project-project smart city ke berbagai pemerintah daerah di Kaltim dan Kaltara (total ada 15 kabupaten/kota). Bertemu kepala daerah, kepala dinas, pejabat yang relevan dan lainnya. Saya lakukan ini di akhir tahun ketika APBD disusun, atau tengah tahun saat penyusunan APBD-P.

Cara kerja seperti ini membuat saya tetap punya banyak waktu luang setelah project-project itu on-going.Waktu luang itu selalu saya gunakan untuk pengembangan diri lewat belajar, membaca, mencoba hal baru, eksperimen, pengembangan reputasi pribadi, atau berwisata kapanpun saya mau.Terus terang saya tidak melakukan hard selling dalam mencari prospek atau klien baru.90% klien saya pada saat ini datang ke saya.Saya tidak pernah mengirimkan proposal penawaran tanpa diminta lebih dulu. Alasan saya tidak agresif mencari pasar karena saya sadar model bisnis dan ukuran Social Lab punya limit skalabilitas dalam menghandle klien dan project dalam jumlah tertentu. Dan saya belum punya rencana untuk melakukan eskalasi dengan memperbesar ukuran organisasi Social Lab.

[T]: Kegiatan paling besar seperti apa yang sudah dilakukan selama ini.

 Social Lab tidak pernah tampil sebagai fronting, ia selalu berada di balik layar dari sebuah peristiwa, pencapaian, atau reputasi para kliennya. Social Lab pernah menfasilitasi kerjasama antara PLN Corporate University dengan Kompasiana membuat event kompetensi talenta kehumasan yang digelar cukup besar di tahun 2016. Tapi nama Social Lab tidak tampak. Itu tidak penting, karena reputasi Social Lab hanya penting pada lingkaran pengambil keputusan.Atau yang paling ekstrem, Social Lab adalah konsultan ‘manajemen reputasi’ sebuah institusi hukum pusat di Indonesia, yang identitas dan kegiatannya tak boleh saya sampaikan di sini.Tapi pastilah seluruh orang Indonesia saat ini merasakan dampaknya.

[T]: Apakah Social Lab bisa bertahan sampai 10, 100 atau 1000 tahun kedepan?

 Social Lab saat ini adalah kendaraan bagi diri saya pribadi dalam obsesi akan petualangan dan menaklukkan wilayah-wilayah baru.Meski saya belum pernah berpikir akan bermitra dengan orang lain sebagai co-founder dan melakukan pivot ke bisnis yang tidak bisa saya kelola sendiri, namun pada akhirnya saya akan sampai ke sana. Saya punya banyak impian untuk menciptakan produk-produk baru atau pengembangan dari yang ada sekarang, dan itu membutuhkan ukuran perusahaan yang lebih besar.Saya sangat tidak puas dengan pencapaian karier pribadi saat ini. Motifnya sama sekali bukan ekonomi. Karena penghasilan saya sebagai direktur surat kabar dan CEO dari sebuah startup yang tumbuh sehat, jumlahnya jauh lebih dari cukup. Tahun lalu saya juga diminta untuk menjadi Dirut Koran Kaltim, tapi saya tolak. Karena bila saya menjadi dirut, maka saya tak akan punya banyak waktu untuk mengejar agenda pribadi saya di bidang bisnis teknologi.

Keterbatasan terbesar saya adalah domisili, dimana saya tinggal di Balikpapan yang tak memiliki ekosistem startup, akses ke talent pool, network yang luas ke VC, dan sebagainya. Akan berbeda ceritanya kalau saya tinggal di Jakarta, saya yakin saya bisa dengan leluasa melakukan pivot atau scale up pada Social Lab, atau bahkan menciptakan startup baru dengan orang lain. Jadi, dengan kondisi yang ada sekarang, Social Lab masih tetap akan ada selama saya mau dan saya hidup.

 [T]: Apa yang akan dilakukan jika Social Lab berada pada titik kritis.

 Berperusahaan, khususnya ber-startup itu mirip dengan orang mengendarai mobil.Bukan menerbangkan roket. Dalam mengendarai mobil, kita harus siap dengan segala kemungkinan yang kita temui di jalan raya: kemacetan, cuaca, kondisi jalan, perilaku pengendara lain, dan sebagainya. Tak mungkin kita putar balik pulang ke rumah hanya karena ada mobil di depan yang berjalan lambat – karena akan kita salip. Mengendarai mobil membuat kita mesti lincah, adaptif, pragmatis, bahkan oportunis.Beda dengan menerbangkan roket yang semua aspek harus presisi, karena bila ada sedikit kesalahan bisa membuat roket meledak.

Setiap startup harus melihat dirinya sendiri sebagai sebuah wahana untuk belajar secara tervalidasi (validate learning), tempat untuk tumbuh, dan sebuah entitas yang mampu memecahkan masalah orang banyak. Setiap startup akan menemui titik kritisnya masing-masing. Mereka harus sadar bahwa nature dalam bisnis ini sangat cepat dan disruptif.Tak ada zona nyaman.Saat itulah diperlukan kelincahan, adaptasi, keberanian mengambil risiko dan menolak terpenjara dalam zona nyaman.

Social Lab, dari embrionya di DB dulu, sudah melewati banyak titik kritis itu. Masing-masing masa kritis punya penyelesaian berbeda dan cara ukur sendiri-sendiri. Jalan keluarnya mulai dari pivot, pembenahan platform, perbaruan SOP, penggantian talent dan sebagainya.Keberhasilan melewati masa krisis hanya bisa dilakukan apabila kita punya semangat melanjutkan hidup, bukan mengakhirinya.

 [T]: Seperti apa pandanganya tentang perkembangan Startup di tanah air saat ini

 Ada eforia dan potensi bubble.Indikator dan pemicunya adalah lahirnya startup-startup unicorn seperti Gojek, Traveloka, dan Tokopedia. Market Indonesia yang besar dan sangat menjanjikan membuat VC berlomba-lomba menggelontorkan uang. Kesuksesan dalam waktu cepat para unicorn membuat banyak anak muda ingin bangun startup.Mereka pikir itu keren dan bisa membuat mereka sukses dengan cepat tanpa harus jadi anak orang kaya dulu. Masuknya VC dengan nama besar ke Indonesia membuat ladang startup terlihat begitu menjanjikan bagi semua orang. Hype terjadi dimana-mana.Eforia ini menciptakan ekosistem yang dipenuhi oleh orang-orang yang bermimpi ingin sukses dengan segera, tapi bahkan tak punya kecukupan modal apapun untuk mulai. Terutama modal kompetensi dan tim. Saya banyak ditemui oleh anak-anak muda yang ingin bikin startup dan sudah susun rencana exit. Bahkan ketika mereka belum punya tim sekalipun, tak menguasai teknologi, serta belum membentuk perusahaan.

Anak-anak muda ini memilih Gojek sebagai patron, bukannya Kaskus.Melihat ke arah sejarah Tokopedia, bukan eBay. Mereka ingin bangun perusahaan kecil yang akan jadi besar dengan segera. Mereka seakan-akan menolak melihat sejarah Kaskus yang tumbuh secara sehat dengan kesabaran yang panjang.Kaskus dimulai oleh Andrew dan Ken melalui forum online sederhana, namun terus berkembang dalam rentang waktu belasan tahun.Kaskus dibangun awalnya karena hobi dan passion, tapi punya endurance sangat tinggi.Itu yang menyebabkan mereka punya pertumbuhan yang sehat dan market yang solid hingga sekarang.Apakah anak-anak muda startup sekarang punya endurance tinggi seperti Andrew dan Ken? Apakah mereka punya rencana bisnis minimal 15 tahun ke depan dimana mereka tetap akan di dalamnya? Atau apakah mereka semata-mata ingin cari nafkah atau jadi kaya karena startup?

Eforia-eforia seperti ini akan menciptakan sebuah nilai startup yang terilusi atau lebih tinggi dibanding nilai sebenarnya. Terjadi kesuburan irasional atau irrational exuberant. Pada akhirnya bubble itu akan pecah. Ekosistem eforia ini juga didorong oleh model bisnis VC yang bergantung pada pertumbuhan eksponensial. 9 dari 10 startup akan gagal, VC tahu itu. Namun keuntungan dari 1 startup yang berhasil akan menutupi kerugian 9 yang gagal. Bahkan bila yang 1 itu unicorn, 50 investasi gagal pun bisa tertutupi. Untuk mendapatkan probabilitas 1 yang berhasil itu, mereka ‘harus’  tetap berinvestasi di 9 yang gagal. Pendanaan kepada 9 yang gagal inilah yang menyuburkan eforia dan kesuburan irasional yang menciptakan bubble.

Saya tidak percaya kepada setiap orang yang datang kepada saya dan bilang: “saya ingin bikin startup”. Karena kemungkinan besar ia akan gagal. Tapi bila ia memulai sesuatu karena passion tanpa motif ekonomi apapun, saya yakin ia punya potensi lebih besar untuk berhasil. Saya setahun belakangan membimbing seorang anak muda dari Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), sebuah kabupaten kecil dekat Balikpapan.Ia suka game dan sejak 2 tahun lalu membangun portal game sangat sederhana, tanpa tahu apa itu startup. Tapi berkembang terus.Timnya bertambah karena harus mengurus iklan adsense.Ia lakukan semua karena hobi dan karena ia suka, namun dengan kerja yang konsisten. 2 bulan lalu, datang email dari sebuah VC yang menawarkan pendanaan kepadanya.

Startup akan menjadi sehat dan menjanjikan ketika ia dimulai secara alami, kesabaran, tumbuh secara kontinyu, dan berdaya tahan tinggi.

 

 

 

 

 

3 Upaya Untuk Mengoptimalkan Bonus Demografi Bangsa Kita

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bonus demografi dapat menyokong pertumbuhan ekonomi suatu bangsa ketika bisa dioptimalkan dengan baik. Hal ini seperti yang dilakukan oleh beberapa negara di Asia seperti Singapura, Thailand ataupun Korea Selatan. Lantas, bagaimana dengan bangsa kita?

Berdasarkan statistik indonesia , populasi penduduk kita lebih didominasi oleh kelompok umur produktif yakni antara 15-64 tahun. Jumlah perempuan usia sangat produktif mencapai 69,4 juta, lebih sedkit dibanding laki-laki yang mencapai 70,4 juta jiwa. Sedangkan untuk usia produktif (50-64), perempuan lebih banyak dengan 16,91 juta, sedangkan laki-laki hanya 16,9 juta jiwa.

nnnmmm

Gambar 1. Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin (2016)

Berdasarkan data ini maka kita bisa melihat dengan jelas, bahwa saat ini kita tengah memasuki era bonus demografi. Suatu era di mana jumlah usia generasi yang produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia generasi yang tidak produktif. Namun, bonus demografi ini bisa saja menjadi bencana bagi bangsa kita jika tidak dikelola dengan baik. Untuk itu ada beberapa upaya yang bisa dilakukan agar bonus demografi dapat mendorong kemajuan bangsa ini.

 1. Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Kita semua memahami bahwa bonus demografi itu berdampak pada menumpuknya jumlah tenaga kerja produktif. Bila kondisi ini tidak dibarengi dengan peningkatan SDM berkualitas, maka akan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Untuk itu, agar bisa meningkatkan kualitas generasi usia produktif ini, maka salah satu usaha yang tepat adalah dengan menyediakan kesempatan pendidikan seluas-luasnya mulai dari TK sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian  didukung dengan kemudahan akses pendidikan, prasarana yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas. Dengan demikian maka ini akan menjadi modal penting untuk menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil.

Dengan memperbaiki kualitas pendidikan ini maka diharapkan tidak ada lagi generasi usia produktif yang tidak bisa berpartisipasi dalam semua proses pendidikan seperti kasus yang terjadi pada tahun ajaran 2015/2016 yang lalu. Di mana, menurut data statistik yang dirilis oleh katadata menyebutkan bahwa APK jenjang pendidikan SMU/SMK hanya mencapai 76,45 persen. Ini mengindikasikan bahwa anak lulusan Sekolah Mengah Pertama (SMP) yang berusia 16-18 tahun banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

sdfsfdsfsdf

Gambar 2. Angka Partisipasi Kasar Sekolah Berdasarkan Jenjang Pendidikan TA       2015/2016

Jika kondisi partisipasi sekolah di usia 16-18 tahun ini terus dibiarkan tanpa ada upaya untuk memperbaikinya, maka akan sulit bagi bangsa kita untuk bisa mengambil manfaat yang besar dari bonus demografi yang hanya terjadi sekali dalam kurun waktu yang tidak bisa dipastikan kapan lagi bisa terulang.

2. Memperbaikan Kualitas Kesehatan

Menyediakan layanan kesehatan yang baik dan bermutu menjadi kunci utama menjadikan angkatan kerja berkualitas.  Namun, jika kita perhatikan sepertinya upaya perbaikan kualitas kesehatan di negeri kita masih jauh dari harapan. Untuk kasus penyakit TBC misalnya. Dari data statistik yang dirilis oleh katadata dapat dilihat masih tingginya kasus penyakit ini. Untuk upaya pengobatannya, dari 34 provinsi yang ada di tanah air, hanya delapan provinsi yang mencapai target di atas 70%.

iiiiii

Gambar 3. Proporsi Kasus TBC Menurut Kelompok Umur pada 2015

Dari data ini dapat dilihat kalau usia 25-34 tahun masih begitu tinggi kasusnya. Disusul dengan rentang usia 45-54 kemudian usia 35-44 dan usia 15-24. Jika hal ini terus dibiarkan maka tidak mungkin kita bisa menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dari segi kesehatan.

3. Ketersediaan Lapangan Kerja

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada tahun 2015 negeri kita menempati urutan ke-3 ASEAN dalam hal pengangguran.

qeqeqeqeqGambar. 4 Tingkat Pengangguran di Negara Anggota ASEAN

Dari data ini  dapat kita saksikan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 6,2 persen, di bawah Filipina dan Brunei Darussalam yang masing-masing 6,5 dan 6,9 persen. Sementara negara dengan penyerapan angkatan kerja terbesar adalah Kamboja dan Thailand sehingga tingkat pengangguran kedua negara tersebut rendah.

Untuk itu, maka perlu upaya yang serius agar bisa menekan angka pengangguran. Harus ada langkah-langkah yang strategis dalam mengatasi masalah ini. misalnya penambahan lapangan kerja baik itu sektor formal ataupun informal, menciptakan angkatan kerja yang berkualitas melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan, serta menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian angkatan kerja. Dengan demikian maka bisa membuat generasi muda kita mengembangkan potensinya. Hal inilah yang kemudian  akan menjadi sumbangan tenaga yang produktif bagi pengembangan ekonomi negara.

***

Pada akhirnya, waktulah yang akan menjawab seperti apa kemanfaatan dari bonus demografi yang telah dikaruniakan oleh Allah Swt terhadap bangsa ini. Masih terlalu banyaknya persoalan yang menghadang generasi produktif kita tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri, khususnya bagi pemerintah saat ini. Namun, jika kita hanya membebankan tanggung jawab ini di pundak pemerintah mungkin saja kita akan gagal merengkuh nikmat dari bonus demografi ini. Untuk itu, tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan agar bonus demografi ini betul-betul bisa memberikan dampak yang positif bagi bangsa kita, selain bekerja bersama-sama, saling berkolaborasi dalam melakukan segala upaya demi mendapatkan berkah dari bonus demografi ini. Dengan demikian, maka di masa yang akan datang tentu saja harapan untuk melihat negeri ini bisa berlabuh di dermaga kejayaan seperti yang kita cita-citakan bersama dapat terwujud. Amin

5 Alasan Kenapa Fildan Pantas Menjadi Juara di Ajang DA4 2017

15802793_1510185502332452_1453647546940391424_n
Sumber foto : http://www.imgrum.org

Tidak lama lagi, konteks Dangdut Akademi 4 Indosiar tahun 2017 akan segera berakhir. Dari 25 orang peserta yang ikut berkompetisi dalam ajang pencarian bakat ini, kini hanya tersisa 3 orang. Mereka adalah Fildan (Bau-Bau), Putri (Balikpapan) dan Aulia (Pontianak). Menurut penilaian juri, mereka ini adalah yang terbaik di antara semuanya. Untuk itu, maka akan sulit ditebak siapa yang akan keluar menjadi juaranya. Namun, menurut saya pribadi untuk menentukan itu tidaklah sulit, karena sudah jelas hanya Fildan (Bau-Bau) yang pantas untuk menjadi juaranya. Berikut lima alasan saya kenapa menilai Fildan (Bau-Bau) pantas untuk menjadi juara.

1. Memiliki suara yang merdu

Siapa yang bisa menyangkal kalau Fildan (Bau-Bau) itu memiliki suara yang merdu. Saya yakin, semua orang pasti mengakui ini. Lihat saja bagaimana reaksi Iis dahlia saat mendengar alunan suara Fildan (Bau-Bau) saat audisi, ia langsung terpesona dan nempel seperti perangko. Selain itu, beberapa vidio penampilanya saat menyanyi mulai dari audisi sampai masuk di babak 4 besar  saat di tayangkan lewat youtube langsung menjadi trending topik.

2. Lihai memainkan alat musik

Saya berani mengatakan kalau Fildan (Bau-Bau) sangat lihai memainkan hampir semua alat musik. Buktinya, selama penampilanya di ajang DA4 ini, saat ia tampil menyanyi sambil memainkan alat musik baik itu gitar, seruling ataupun piano pasti mendapatkan penilaian yang positif dari juri. Bahkan, vidio saat ia memainkan seruling dan gitar saat di tayangkan melalui youtube langsung diserbu jutaan penonton.

3. Mampu menjawab semua tantangan juri

Tantangan juri siapa yang tidak disanggupi oleh Fildan (Bau-bau)? Sependek pengetahuan saya, setiap tantangan yang diberikan oleh juri pasti mampu diselesaikanya dengan baik. Bahkan, tantangan dari orang-orang yang ingin melihatnya untuk menyenyikan lagu lain karena selama ini dianggap hanya bisa menyanyikan lagu-lagu india pun bisa ia taklukan. Luar biasa bukan?

4Kharismatik

Sangat jarang menyaksikan penyanyi yang tarian dan senyumanya begitu dinanti-nantikan oleh semua orang. Dari semua peserta yang ada, sepertinya hanya Fildan (Bau-bau) yang tarian dan senyumanya begitu dinanti-nantikan oleh semua penggemar dangdut yang ada di tanah air. Kalau tidak percaya, coba saja saksikan penampilan terakhirnya saat menyanyikan lagu dengan judul Gerua. Saat ia meliukkan tubuhnya mengikuti gerakan para penari latar, pada saat itu ribuan penonton yang ada di tudi 5 Indosiar berteriak histeris. Pun demikian dengan mereka yang ada di rumah, termasuk saya. Hehe

5. Karakter suaranya yang khas

Ada yang bilang, bahwa penyanyi yang berkualitas itu adalah penyanyi yang memiliki karakter suara khas. Dari penjelasan salah satu juri DA4 menilai bahwa Fildan (Bau-Bau) sudah memiliki itu. Tanpa perlu melihat ia menyanyi, orang-orang sudah bisa menebak kalau yang menyanyi itu adalah Fildan (Bau-Bau).

Jadi, sudah jelas kan alasan saya kenapa berani mengatakan kalau Fildan (bau-bau) itu pantas menjadi juara DA4 tahun 2017. Ya, meskipun peneliaan ini terkesan subyektif saya karena saya dan Fildan (Bau-Bau) berasal dari daerah yang sama, paling tidak kelima alasan ini bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan dan saya menulisnya dalam keadaan sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun. 🙂