Ziarah Kubur Untuk Mengingat Mati

 

1495564880111
Dok Pribadi : TPU Sudiang

 

Waktu baru saja menunjukan pukul 08.00 saat kami meninggalkan rumah untuk pergi ziarah kubur. Hari itu kami berencana untuk menziarahi kuburan nenek istri saya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) daerah Sudiang dan kuburan kakeknya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang.

Ziarah kubur ini memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga istri saya setiap menjelang bulan suci ramadhan. Isteri saya mengisahkan, kalau sejak dulu orang tuanya selalu mengajak semua anak dan cucu-cucunya untuk melakukan ziarah kubur. Alasanya cukup sederhana, agar mereka tidak melupakan nenek dan kakeknya.

Tidak sampai satu jam, mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di TPU Sudiang. Areal pemakaman itu begitu luas. Sejauh mata memandang tampak kuburan-kuburan yang sudah difondasi berjejer dengan rapi. Pada setiap salah satu sisi kuburan itu terdapat lempengan yang terbuat dari semen bertuliskan identitas singkat orang yang dulunya pernah hidup dan beraktifitas, tertawa dan menangis serta tumbuh dan memiliki keturunan di atas dunia ini. Namun, setelah sang pemilik kehidupan mengambil kembali nyawa yang pernah dititipkan sementara waktu, kini yang ada tinggalah nama yang tertulis di atas pusaranya.

Untuk sampai ke lokasi pemakaman nenek istri saya, ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Kami harus berjalan beberapa puluh meter dari tempat pemberhentian mobil menyusuri jalan setapak diantara ratusan makam yang ada di tempat itu. Sambil berjalan, sekali-kali saya memperhatikan tahun kelahiran dan kematian beberapa kuburan yang ada disitu. Dari apa yang saya lihat, ternyata ada yang meninggal di usia tua. Ada juga beberapa yang meninggal saat usianya masih relatif muda. Bahkan, ada yang masih anak-anak.

Dalam hati saya membatin, memang benar apa yang sering disampaikan oleh para pengemban dakwah. Bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Apakah di usia tua, muda, ataupun masih anak-anak. Jika sudah tiba saatnya  untuk melanjutkan perjalanan ke fase kehidupan yang selanjutnya, maka tidak akan dimundurkan sedikit pun waktunya. Mau tidak mau, kita harus mau. Siap tidak siap kita harus siap.

Sambil terus berjalan diantara kuburan-kuburan itu, tiba-tiba saya teringat seorang sahabat seperjuangan saat melakukan penelitian di laboratorium AIMP Universitas Hasanuddin beberapa tahun yang silam. Ia masih muda dan penuh enerjik. Namun tidak disangka-sangka, setelah hampir satu bulan tidak bertegur sapa di dunia maya tiba-tiba tersiar kabar kalau ia telah dipanggil oleh sang maha pemilik kehidupan.

Setelah sampai di lokasi makam yang dituju, kami pun langsung membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh diatasnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual menyiram pusara dengan air dan diakhiri dengan berdoa untuk penghuni makam agar mendapatkan tempat terindah di sisi Allah.swt

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Kami pun bergegas meninggalkan TPU Sudiang dan menuju TMP Panaikang. Berbeda dengan Tpu Sudiang, TMP Panaikang lokasinya tidak terlalu luas, hampir seukuran lapangan sepak bola. Hal ini disebabkan karena mereka yang di makamkan disana hanyalah orang-orang tertentu yang dianggap berjasa untuk bangsa dan negara. Di lokasi ini pun orang Islam dan Kristiani di makamkan berdampingan. Yang membedakan hanyalah bentuk nisannya.

Tidak jarang, mereka yang dimakamkan di TMP Panaikang ini dulunya memiliki pangkat dan jabatan tinggi di bidang militer. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan berwibawa. Mereka memiliki reputasi membanggakan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Namun, itu semua ternyata tidak ada gunanya. Lagi-lagi, jika sudah tiba waktunya malaikat datang untuk menjemput, maka pangkat, jabatan ataupun reputasi yang dimiliki itu sama sekali tidak bisa menghentikan sedetik pun langkah sang perenggut nikmat kehidupan.

Kita pun hanya bisa pasrah menerima takdir yang telah ditetapkan itu. Takdir yang sudah ditetapkan jauh sebelum kita dilahirkan di muka bumi ini. Takdir yang tidak bisa dirubah, dilawan atau ditolak sedikit pun. Karena memang, semua itu sudah menjadi kehendak dari sang maha pencipta alam semesta.

Setelah menuntaskan semua prosesi ziarah, kami pun langsung pulang ke rumah. Di tengah jalan, kami menyempatkan diri untuk singgah menikmati es teler untuk menghilangkan dahaga akibat cuaca panas pada hari itu. Sambil menikmati segelas es teler saya membayangkan lagi nasehat bijak yang pernah disampaikan oleh seorang pengemban dakwah. Ia mengatakan bahwasanya kematian itu adalah hal yang pasti terjadi. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu kapan waktunya, dimana tempatnya dan dalam keadaan seperti apa  kita akan mati. Untuk itu, maka perbanyaklah mengingatnya dan  mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal ibadah dan berbuat kebajikan. Dengan begitu, maka insya Allah kita tidak akan menyesal di kemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s