5 Hal Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang STMIK Kharisma Makassar

pic1
Gedung STMIK Kharisma Makassar (Dokpri)

Sulawesi Selatan, selain dikenal dengan keelokan wisata dan keragaman budayanya, di daerah ini juga banyak terdapat perguruan tinggi yang bisa dijadikan rujukan untuk melanjutkan pendidikan. Salah satunya adalah STMIK KHARISMA Makassar.

Sebagai kampus yang berbasis IT, STMIK KHARISMA Makassar sudah sejak lama telah berkonsentrasi penuh dalam usaha mendidik dan menghasilkan lulusan profesional dan kompeten. Jadi, tidak heran banyak alumni dari kampus ini yang telah mengisi lowongan kerja di berbagai sektor. Mulai dari sektor IT, sektor industri, perbankan, jasa dll. Bahkan tidak jarang ada yang berhasil menjadi digital enterpreneur.

Nah, untuk lebih mengenal kampus yang terletak di Jl. Baji Ateka No.20 ini, berikut ada 5 sajian informasi penting dari saya untuk para pembaca yang mungkin tertarik melanjutkan studi di STMIK KHARISMA Makassar.

1. STMIK KHARISMA Makassar merupakan salah satu kampus IT terbaik yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini berdasarkan dari data Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komputer (APTIKOM) wilayah IX, Makassar.

2. STMIK KHARISMA Makassar didirikan pada tanggal 29 Maret 2000. Sejak tahun berdirinya sampai sekarang, kampus ini telah menghasilkan ribuan alumni dari dua program studinya, yaituprogram studi Sistem Informasi dan Teknik Informatika, meliputi jenjang pendidikan S1 dan D-III.

3. Kurikulum STMIK KHARISMA Makassar, telah disusun dengan sejumlah program  peminatan (konsentrasi) dalam setiap program studi di semua jenjang. Diantaranya adalah  peminatan sistem informasi manajemen, sistem informasi akuntansi, rekayasa perangkat lunak, jaringan komputer, grafik komputer dan multimedia.

4. Khusus untuk program pendidikan D-III, pada tahun 2018 STMIK KHARISMA Makassar mulai menerapkan model perkuliahan dengan sistem paket. Dalam hal ini, setiap peserta didik dapat memilih beberapa paket perkuliahan yang bisa diikuti secara fleksibel. Selain itu, setiap lulusan pada program D-III ini akan dibekali dengan sertifikat keahlian sesuai dengan bidang keilmuan yang dikuasai.

5. STMIK KHARISMA Makassar adalah kampus yang tidak hanya konsen memberikan pengetahuan IT kepada peserta didiknya, namun juga memberikan bekal entrepreneurship sebagai kompetensi tambahan yang berguna jika para alumni memilih jalur berwirausaha.

Nah, lima hal yang saya sajikan ini  tentunya sudah cukup memberikan gambaran kepada pembaca tentang STMIK KHARISMA Makassar. Untuk lebih jelasnya lagi, bisa langsung mengunjungi website kampus ini di www.kharisma.ac.id. Ciao…!!!

Iklan

Naik Kapal Ferry Perjalanan Jadi Happy

Pelabuhan Ferry di Pure
(Dok Pribadi : Pelabuhan Kapal Ferry di Pure)

Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya Kapal Ferry yang melayani penyeberangan antara pulau yang ada di negeri ini cukup memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Selain mendorong percepatan pertumbuhan perekonomian suatu daerah, hadirnya Kapal Ferry juga semakin mempermudah mobilisasi masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya

Di Sulawesi Tenggara, khususnya Kabupaten Muna, selain rute Tampo-Torobulu, PT. ASDP Indonseia Ferry juga kini telah membuka jalur penyeberangan baru yaitu rute Raha – Pure. Jalur operasi Kapal Ferry ini mulai dibuka sejak tahun 2013. Kehadirannya tentu saja langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Apalagi kalau musim mudik lebaran telah tiba, Kapal Ferry inilah yang menjadi pilihan utama masyarakat setempat untuk menyebrang. Termasuk saya salah satunya.

Saat pertama kali membawa serta anak dan istri tercinta untuk mudik ke kampung halaman saya di Pure, Kecamatan Wakorumba Selatan menjelang lebaran tanggal 15 Juni 2018 yang lalu, saya memilih untuk menggunakan Kapal Ferry. Selain karena alasan kenyamanan, tentu saja saya berpikir bahwa hanya kapal Ferry-lah yang menjadi satu-satunya media penyeberangan antar pulau yang paling aman saat ini. Apalagi dengan melihat kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Terkadang angin dan hujan datang bersamaan secara tiba-tiba lalu menyulap lautan menjadi medan berbahaya untuk dilalui oleh kapal-kapal kecil.

Saya pun tidak bisa membayangkan seandainya Kapal Ferry rute Raha-Pure belum beroperasi. Rasa-rasanya, pulang kampung bersama keluarga kecil saya akan menjadi perjalanan yang menegangkan dan melelahkan. Pasalnya, jika tidak ada Kapal Ferry, maka kami harus melakukan penyeberangan melewati lautan menggunakan jasa transportasi berupa Kapal Jonson atau speed boat berukuran kecil yang hanya bisa mengangkut sedikit orang dan beberapa unit kendaraan roda dua.

Untungnya, saat ini jalur penyeberangan laut Raha-Pure sudah dilayani oleh Kapal Ferry yang beroperasi dua kali dalam sehari. Tarifnya pun yang cukup terjangkau, yaitu Rp.15.000 untuk satu orang penumpang, Rp.35.000 untuk motor dan Rp.175.000 untuk mobil. Badan kapal yang cukup besar, sehingga bukan saja orang yang bisa jadi penumpang, tapi kendaraan roda dua dan roda empat juga bisa ikut dimuat untuk ikut menyeberangi lautan.

Antrian Kendaraan
(Dok Pribadi : Antrian Kendaraan di Pelabuhan Kapal Ferry)

Oleh karena itu, tidak ada lagi yang perlu saya dikhawatirkan. Di atas kapal Ferry, anak dan istri saya bisa lebih leluasa untuk berjalan ke sana-ke mari sambil berfoto ria.

Di Sisi Kapal Ferry
(Dok Pribadi : Di Sisi Kapal Ferry)

Saya pun membayangkan, seandainya penyeberangan kami tidak menggunakan Kapal Ferry, tetapi dengan Kapal Jonson atau speed boat. Sudah pasti kondisinya akan berbeda. Anak dan istri saya pasti tidak bisa bergerak dengan bebas. Selain ruangnya yang sempit, hempasan ombak yang menggoyang badan kapal tentu akan menciutkan nyali mereka untuk beranjak dari tempat duduknya. Apalagi, ini kali pertama mereka bepergian menyeberangi lautan.

Saya sangat bersyukur, mudik perdana tahun ini bersama anak dan istri bisa menggunakan Kapal Ferry. Tidak ada kesulitan berarti yang didapatkan selama perjalanan. Saya pun bisa membawa kendaraan roda empat. Sehingga, semua barang bawaan tidak perlu lagi harus ditenteng. Semua bisa disimpan di dalam mobil. Saya pun bisa duduk dengan manis.

 

Mobil Parkir Di Dalam Kapal Ferry
(Dok Pribadi : Duduk Manis di Dalam Mobil )

Di atas Kapal Ferry, semuanya terasa nyaman. Di dek dua bagian belakang bisa ditempati untuk duduk santai selama perjalanan tanpa terkena sengatan sinar matahari sedikit pun. Di sana ada makanan dan minuman ringan yang dijual dengan harga terjangkau. Dari sana juga bisa terlihat dengan jelas pemandangan lautan biru yang indah terhampar memisahkan Pulau Muna dan Pulau Buton. Perjalanan saya pulang kampung kali ini pun menjadi momen yang paling bahagia.

Pemandangan Selat Buto Dari Atas Kapal Ferry
(Dok Pribadi : Pemandangan Selat Buton Dari kapal Ferry)

Oleh karena itu, dari apa yang sudah saya rasakan betapa #AsyiknyaNaikFerry maka saya ingin mengajak kepada setiap orang untuk menggunakan Kapal Ferry jika hendak menyeberangi lautan menuju ke satu tempat yang ada di negeri ini. Pasalnya, hal tersebut akan memberikan pengalaman hidup yang paling menyenangkan. Jika tidak percaya, silahkan dicoba.

 

Note :

Artikel ini telah diikutsertakan dalam Asyiknya Naik Ferry Blog Competition yang diselenggarakan oleh ASDP Indonesia Ferry. Postingan bersifat karya asli dan pengalaman pribadi.

Kompetisi Blog ASDP 2018
(Sumber : https://www.indonesiaferry.co.id)

 

 

 

 

 

 

 

 

Banjir dan Longsor, Kisah Lama yang Terus Terjadi

Merdeka.com
Kejadian Banjir dan Longsor Pangandaran (Sumber : Merdeka.com)

Tidak terhitung lagi sudah berapa banyak daerah di negeri ini yang terdampak banjir dan tanah longsor. Kondisinya pun sangat menyedihkan. Pasalnya banyak kerugian yang ditimbulkanya. Termasuk jatuhnya sejumlah korban jiwa yang akhirnya hanya menyisakan duka dan air mata.

Melihat fenomena banjir dan longsor yang terjadi saat ini tentu membuat kita semakin was-was. Pasalnya, hampir setiap tahun ke dua bencana ini seolah sudah menjadi langganan di hampir semua wilayah negeri ini. Mulai dari sabang sampai merauke. Intensitasnya pun dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Kalau kita memperhatikan data tahun 2016, yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) bahwa, selama bulan Januari-September telah terjadi 1.704 bencana. 584 kali di antaranya adalah banjir dan sebanyak 47 kali banjir disertai tanah longsor. Selama periode ini jumlah korban meninggal dunia karena banjir  mencapai 128 jiwa.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah kenapa banjir dan longsor ini seolah sudah sangat begitu mudahnya terjadi. Bahkan, setiap tahun intensitasnya semakin tinggi. Padahal pemerintah sudah menggelontorkan sejumlah anggaran untuk penanganan banjir dan longsor ini. Seperti pembangunan drainase atau penampungan air hujan. Akan tetapi, semua seolah sia-sia belaka.

Minimnya Kesadaran

Terkait dengan banjir dan longsor ini, tidak selamanya kita harus menyalahkan alam. Karena pada dasarnya, apa yang terjadi itu semuanya tidak lepas dari ulah kita sendiri. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah.swt dalam Al-Quran surah As-Syura ayat 30. Bahwasanya kita sebagai manusia turut andil menciptakan banjir dan longsor ini. Namun sayangnya, kita seolah mengabaikanya.

Terkadang kita sudah begitu paham kalau penggundulan hutan itu bisa memicu bencana banjir dan tanah longsor. Akan tetapi, pada saat yang sama kita masih tega untuk mengayunkan kampak menebang satu demi satu pohon-pohon yang ada di hutan. Hingga akhirnya yang tersisa hanya puing-puing kehancuran. Begitu pula dengan kebiasaan kita dalam memperlakukan sampah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari kita masih begitu enggan untuk sekedar membuang sampah pada tempatnya. Kita lebih memilih untuk membuangnya atau meletakkanya di mana saja. Padahal, semua perbuatan ini sangat beresiko. Coba bayangkan, jika setiap orang meletakkan sampah-sampahnya sesuka hati, dijalanan, disungai atau tempat-tempat lainya  maka apa jadinya nanti kalau hujan sudah turun. Tentu saja hal ini bisa menghalangi aliran air. Sehingga, selokan ataupun sungai lambat laun tidak bisa lagi menjalankan fungsinya untuk mengantarkan air menuju ke laut. Kalau sudah begini, maka banjir pun tak akan bisa terelakkan lagi.

Saatnya Berubah

Sudah terlalu banyak contoh kejadian buruk yang terjadi akibat kerusakan yang kita lakukan dengan tangan kita sendiri. Tidak perlu lagi mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan-tindakan bodoh yang kita lakukan itu. Sudah cukup banjir dan longsor menghancurkan sendi-sendi kehidupan kita. Sekarang waktunya untuk berbenah. Sekarang, kita tinggal memilih. Apakah kita mau bebas dari banjir dan longsor, atau mengabaikan itu semua dengan sebuah konsekuensi yang mengerikan.

Jangan bermimpi untuk bisa bertahan sampai 10 atau 20 tahun lagi di atas tempat kita berpijak saat ini. Jika masih memilih untuk abai dengan keadaan, maka besok atau lusa semuanya akan hilang, hancur dan porak-poranda tanpa ada satu pun yang tersisa.

Agar Listrik Tak Selalu Jadi Polemik

Ilustrasi Dampak Padamnya Listrik
Gambar ilustrasi : Saat listrik dipadamkan

Belum lama ini pemadaman listrik secara bergilir di Sulawesi Selatan kembali terjadi. Hampir semua daerah yang termasuk dalam jaringan listrik SULSELRABAR mengalaminya, tidak terkecuali Kota Makassar. Tidak tanggung-tanggung, lama pemadaman itu berlangsung hampir satu hari.

Imbasnya, sengkarut persoalan pun mendadak muncul ditengah-tengah masyarakat. Beberapa diantaranya adalah terjadinya kemacetan lalu lintas karena lampu merah yang tidak berfungsi, terganggunya jaringan seluler, mandeknya air PDAM, pelayanan kesehatan yang terhenti serta tidak berfungsinya ATM. Selain itu, kerugian pun dialami oleh para pelaku usaha baik itu skala kecil, menengah ataupun berskala besar.

Pemadaman listrik ini sebetulnya merupakan perkara lumrah yang sering terjadi bukan hanya diwilayah SULSELRABAR, tapi pada hampir semua tempat di Indonesia. Meskipun tidak ada data pasti yang menunjukkan sejak kapan hal ini terjadi, namun sependek pengetahuan yang penulis dapatkan dari berbagai artikel di internet, pemadaman bergilir atau kasus padamnya lampu seperti ini sudah sangat sering terjadi. Apalagi kalau cuaca sedang hujan yang disertai dengan petir dan angin kencang. Tidak jarang, kondisi ini mengakibatkan robohnya pohon serta banjir yang akhirnya merusak jaringan listrik yang ada pada satu titik tertentu atau biasa juga terjadi yang namanya black uot.

Selain itu, persoalan lain yang sering terjadi daya listrik yang disediakan PLN tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, terutama di waktu beban puncak. Hal ini tentu saja menjadi salah satu faktor utama yang melanggenggakan tradisi pemadaman listrik bergilir ini. Pertanyaanya  kemudian, sampai kapan persoalan seperti ini akan terus terjadi?

Memahami Sumber Daya Energi Listrik Kita Saat Ini

Tentu kita semua memahami bahwa hampir semua sumber energi yang digunakan oleh pembangkit listrik kita saat ini berasal dari sumber energy fosil seperi minyak dan batu bara. Yang menjadi persoalan adalah, sumber energy ini terbatas atau akan habis pada waktunya nanti. Di Indonesia sendiri banyak yang menyebutkan bahwa energy fosil diprediksi akan mengalami kelangkaan pada tahun 2030. Artinya, kita tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan energy dalam negeri sendiri dan hanya akan mengandalkan impor energy dari Negara lain.

Namun yang menjadi persoalan adalah permintaan akan energy fosil ini di seluruh dunia juga diprediksi akan semakin meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu tiga puluh tahun ke depan. Sementara itu, ketersediaan sumber energy fosil ini semakin terbatas. Sehingga, bukan hal yang mustahil kalau di masa depan akan terjadi krisis energy dan kebutuhan akan energy fosil yang bisa digunakan untuk sumber daya listrik ini tidak akan pernah bisa terpenuhi secara total.

Sebetulnya bisa saja untuk memenuhi kebutuhan akan energy fosil ini dilakukan dengan melakukan eksplorasi besar-besaran di semua lokasi yang berpotensi masih mengandung sumber daya tersebut. Akan tetapi, hal itu akan memicu kerusakan lingkungan yang membawa bencana bagi ekologi, manusia, ekonomi serta peradaban. Sehingga, apabila kita terus mempertahankan cara seperti ini dalam memperlakukan energy fosil maka bisa dipastikan, bukan saja hanya bumi yang akan hancur lebih cepat namun akan membuat siran harapan masa depan generasi masa depan.

Melihat realitas ini, apalagi mengingat kebutuhan manusia akan listrik ini semakin meningkat seiring dengan perkembangan zaman maka bukan hal yang tidak mungkin di masa-masa yang akan datang kita hanya bisa menikmati listrik pada waktu-waktu tertentu saja. Bahkan, mungkin bisa lebih parah dari itu, jika kita tidak bisa segera menemukan solusi dari persoalan yang ada dengan berani mencoba untuk keluar dari kebiasaan lama kita yang hanya menggantungkan diri pada sumber listrik yang tersentralistik. Untuk itu maka kita mesti berupaya menyediakan kebutuhan energy sendiri secara mandiri dengan memanfaatkan energy terbarukan.

Energi Terbarukan Sebagai Solusi

Ada begitu banyak sumber energy terbarukan yang ada di muka bumi ini, seperti: biomassa, panas bumi, energi surya, energi air, energi angin dan energi samudera. Namun dari semua jenis energy ini, energi surya memiliki potensi yang cukup besar untuk dijadikan sebagai pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan energy yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. Apalagi dengan mengingat energy matahari ini hampir tidak mungkin bisa habis karena cahayanya diperkirakan baru akan redup 5 miliar tahun ke depan.

Selain itu, ada beberapa hal yang menjadi alasan utama mengapa pemanfaatan energi surya akan menjadi masa depan peradaban kita, yaitu : perkembangan teknologi nano, skalabilitas, model bisnis, dan komputasi. Ke 4 keunggulan ini tak dimiliki pemanfaatan sumber energi lain baik yang terbarukan maupun tidak.

Perkembangan teknologi nano sendiri memungkinkan terjadinya evolusi berkelanjutan pada 2 elemen penting pada pemanfaatan energi surya, yaitu: photo voltaic (PV) atau panel surya, dan baterai (storage). Dengan teknologi nano, PV tak hanya bisa diubah secara fisik ke bentuk yang lebih efisien. Seperti panel genting atap yang sangat tipis dan kuat yang diciptakan Tesla Solar Roof, hingga PV yang ditanam sebagai jalan raya ala Solar Roadways. Namun nano teknologi juga memungkinkan PV menyerap energi lebih maksimal. Rekor resmi inovasi efisiensi PV atap yang tercatat saat ini adalah 22,8% oleh National Renewable Energy Laboratory.

Yang masih dalam tahap pengembangan, MIT berhasil menaikkan efisiensi ke 35%. Terbaru, Techion Israel Institute of Technology menaikkannya ke efisiensi 70%. Angka ini akan terus naik, dan secara fisik PV akan terus berevolusi ke bentuk yang lebih efisien dan kontekstual. PV ini sangat memungkinkan untuk dibuat sendiri. Dengan menggunakan printer 3D yang mulai popular, kita bisa membuatnya dan mudah untuk diletakkan di mana saja. Namun demikian, untuk mewujudkan listrik tenaga surya masih cukup mahal. Akan tetapi, banyak yang memperkirakan bahwa dalam jangka panjang ia akan mudah untuk dijangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Berangkat dari kenyataan ini, maka tentunya sebagai Negara tropis, kita patut berbangga. Karena hampir semua bagian wilayah negeri ini mendapatkan pasokan sinar matahari yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energy listrik baik itu dalam skala kecil ataupun besar. Dengan demikian maka pemanfaatan listrik tenaga surya ini, bisa mengeluarkan kita dari persoalan yang selama ini selalu dialami berualng kali. Selain itu, ketergantungan terhadap jaringan listrik sentralistik yang menggunakan bahan bakar fosil pun bisa dikurangi. Dan apabila mayoritas bangunan dan rumah menjadi produsen energi bersih, maka masa depan bumi akan selalu bisa terjaga. Namun, apakah kita bisa melakukan ini?

Paradigma Pemikiran Baru

Pada dasarnya setiap perubahan itu hanya bisa terjadi jika dilakukan upaya yang sungguh-sungguh. Terkait dengan pemanfaatan energy surya sebagai pembangkit listrik, tentu saja sudah banyak orang-orang yang berhasil melakukan ini. Salah satu contoh misalnya seperti yang dilakukan oleh pasangan Gordon dan Susan Fraser di timur Ontario Kanada. Pada Tahun 2006, pasangan yang sudah pensiun bekerja ini memulai eksperimen secara otodidak membangun pembangkit listrik tenaga matahari melalui solar panel atau panel surya1,5 kilowatt (kW) di atap rumah.

Sebagai mantan programmer komputer, Gordon membuat dudukan panel surya yang bisa bergerak mengikuti arah sinar matahari untuk memaksimalkan energi yang masuk. Dudukan itu terintegrasi dengan integrated satellite receiver and descrambler (IRD) untuk mengontrol pergerakannya. IRD biasa digunakan untuk piringan satelit, tapi Gordon memakainya untuk panel surya. Energi yang masuk kemudian ditampung ke dalam baterai besar sebagai storage.

Setahun kemudian, dengan menambah satu baterai lagi pasangan Fraser bisa memenuhi 94% kebutuhan listrik rumah tangga mereka lewat panel surya. Mei 2007, mereka keluar dari jaringan listrik utama dan hanya menggunakan panel surya untuk kebutuhan listrik. Mereka juga menambah turbin angin di belakang rumah sebagai pembangkit yang membuat mereka surplus listrik. Pasutri ini telah membuktikan bahwa penyediaan energi di lingkup mikro bisa dilakukan secara mandiri, inovatif dan bebas emisi. Tak hanya itu, surplus energi bisa mereka kirimkan ke dalam jaringan listrik utama untuk membantu orang lain.

Apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri ini tentu bisa saja dijadikan acuan bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Apalagi, dari sisi ketersediaan sumber daya matahari sangat mencukupi. Hanya saja, kenyataan bahwa untuk melakukan itu butuh biaya yang cukup besar maka dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk mulai mencanangkanya.

 

Belajar Dari Negara Denmark

Kalau misalnya pemangku kebijakan bangsa ini merasa bahwa mewujudkan pemerataan pemanfaatan energy surya untuk pembangkit listrik itu adalah hal yang sulit, maka tentunya kita harus malu dengan Negara kecil seperti Denmark.

Sejak 1980 Denmark telah mengelola pertumbuhan ekonominya sama dengan level konsumsi energi. Dalam waktu tiga puluh tahun, Denmark berubah dari negara importir energi menjadi eksportir energi netto, baik ketenagalistrikan dan teknologi energi. Hal ini mulai dilakukan sejak krisis energi tahun 1970-an menghantam Denmark. Sejak saat itu, selama 30 tahun dengan dukungan dari semua sektor akhirnya Denmark maju sebagai pemimpin di dunia energy. Bahkan, 10 persen pendapatan ekspor negara itu berasal dari sektor energi.

Berkaca dari capaian Denmark, Negara kita sebetulnya bisa keluar dari persoalan ketersediaan energy. Hanya saja, kita perlu mengubah paradigmanya, sehingga diperlukan langkah untuk akselerasi. Minimal, banyak infrastruktur yang harus rombak menjadi ramah lingkungan.  Negara  seperti  Denmark  melakukannya lewat insentif, subsidi, dan investasi infrastruktur baru. Selain itu, diperlukan kepemimpinan politik yang kuat agar dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk mengakselerasi adopsi energi hijau.

Intinya, pelajaran yang bisa dipetik dari Denmark adalah pentingnya kepemimpinan untuk mendorong akselerasi ilmu pengetahuan dan kapabilitas di seputar permasalahan. Dengan menciptakan konteks bagi kemandirian dan memanfaatkan gagasan dan kecakapan dari sektor lain, kita akan menempatkan diri di jalur yang tepat untuk mencapai kesuksesan. Sehingga, jika saatnya kita sampai pada titik di mana ketersediaan energy bisa dicapai dengan jalan kemandirian maka pemadaman listrik bergilir hanya akan tinggal kenangan.

Referensi bacaan :

  • Macro Wikinomic, Solution for Connected Planet; Don Tapscott & Anthony
  • White Paper – The Smart Grid and the Evolution of the Independent System Operator;Chris Thomas, Bruce Hamilton, and Jinho Kim.
  • S. Energy Infrastructure Investment: Large-Scale Integrated Smart Grid Solutions with High Penetration of Renewable Resources, Dispersed Generation, and Customer Participation;Power Systems Engineering Research Center.
  • Towards A Green Economy for Canada;Sustainable Prosperity
  • Jurnal Energi Edisi 2 2016. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral : Program Strategis EBTEKE dan Ketenagalistrikan
  • https://www.kompasiana.com/hilmanfajrian/smart-grid-lompatan-kuantum-era-green-economy (diakses tanggal 10 November 2017)
  • https://makassar.sindonews.com/pemadaman-listrik-sesulselrabar-ini-sebabnya (Diakses tanggal 10 November 2017)

Media Sosial Dan Upaya Mewujudkan Kemajuan Bangsa

“ 72 tahun indonesia merdeka. Seharusnya kita bisa menjadi bangsa yang maju, yang bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia….”

 Penggalan kalimat yang pernah disampaikan oleh presiden Jokowi ini terdengar sederhana. Namun, jika kita merenungkanya dalam-dalam, disitu tersirat makna yang sangat dalam. Bahwa, ada tujuan besar yang ingin dicapai oleh bangsa ini. Bukan sekedar angan-angan kosong, akan tetapi sebuah cita-cita mulia untuk mewujudkan kemajuan Indonesia raya.

Namun, untuk mewujudkan kemajuan itu tentu saja tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Terlalu banyak aspek yang harus dibenahi, dan ini butuh tenaga besar dan usaha yang sungguh-sungguh. Apalagi saat ini kita tengah memasuki era digital. Suatu era yang menyebabkan berubahnya segala hal, khususnya dalam berkomunikasi.

Di era digital, kita tidak lagi membangun komunikasi secara langsung dengan bertatap muka, namun melalui perangkat elektronik seperti hanphone atau komputer yang terhubung dengan internet dan sebuah platform yang disebut media sosial.

Memang, dengan media baru ini, kita tidak lagi mengenal batasan ruang dan waktu. Semuanya serba menyenangkan. Akan tetapi, di balik kesenangan itu ada ancaman yang ikut serta di dalamnya. Jika kita tidak bisa mengontrol apa-apa yang kita tuangkan di dalamnya, maka disitulah awal mulanya muncul konflik yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Seperti yang disampaikan oleh Dr. Heri Santoso, Kepala Pusat Sudi Pancasila UGM pada acara Flash Blogging yang diselenggarakan di Makassar pada tanggal 16 Juni 2017, bahwa yang mesti kita waspadai saat ini adalah adanya proxy war. Melalui media sosial, muncul penyebaran paham-paham radikal yang begitu cepat yang bisa merongrong persatuan dan kesatuan bangsa.

IMG_20170616_144535

Dr. Heri Santoso, KAPUS Studi Pancasila UGM.Pemateri pertama dalam acara Flash Blogging MakassarPada tanggal 16 Juni 2017.

Apa yang disampaikan oleh dosen filsafat UGM ini tentu bukanlah isapan jempol semata. Melihat realitas hari ini, begitu kita sudah mulai terkotak-kotak hanya karena perbedaan pandangan dan pemikiran akan satu persoalan. Sesama anak bangsa sudah begitu mudahnya saling membenci.

Perlunya Penguatan Nilai-Nilai Pancasila

 Untuk menangkan berbagai pemahaman radikal, menurut dosen filsafat ini, penguatan nilai-nilai pancasila perlu dilakukan agar bisa mengatrol semua aktifitas menyimpang yang dilakukan oleh setiap elemen bangsa. Untuk itu, maka perlu ada satu penguatan yang bukan saja hanya berlandaskan pada UU, namun perlu penguatan dari sisi agama.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. A.M. Galib.,MA yang merupakan SEKUM MUI SUlSEL dalam acara flash blogging, bahwa dikeluarkanya fatwa MUI ditujukan untuk memberikan penguatan itu. Sehingga, setiap elemen bangsa bisa berpikir positif ketika ingin melakukan hal-hal yang negatif melalui media sosial.

IMG20170616150027

Prof. Dr. A.M Galib, MA. SEKUM MUI SULSEL

***

Memang tidaklah mudah untuk membumikan pancasila dalam kehidupan sehari-hari, apalaagi dalam bersosial media. Namun, jika itu diusahakan dan kita ingin melihat bangsa ini bisa mencapai tujuan yang dicita-citakanya, maka hal itu harus dilakukan.

Dalam penyampaian pak Handoko selaku TIM Komunikasi Presiden, bahwa penguatan nilai-nilai pancasila ini penting. Karena hanya dengan itu maka apa yang pernah dicita-citakan oleh presiden Jokowi bisa tercapai.

IMG20170616151333

Pak Handoko. TIM Komunikasi Kepresidenan.

Menjadi Mahasiswa Rantau, 3 Hal ini Yang Saya Dirindukan Saat Ramadhan Tiba

ramadan

Bagi saya, menjadi mahasiswa rantau adalah proses kehidupan yang mesti dilalui. Bukan hanya untuk mewujudkan cita-cita, tetapi sebagai jalan untuk menemukan jati diri. Namun, saat melalui itu semua terkadang ada harga yang mesti dibayar mahal. Kita harus rela memendam rindu saat melewati momen-momen spesial seperti bulan Ramadhan sewaktu berada di tanah rantau. Berdasarkan pengalaman saat mahasiswa rantau beberapa tahun yang lalu, inilah tiga hal yang paling saya dirindukan saat Ramadhan tiba:

Rindu Kampung Halaman

 Tidak ada tempat terindah di dunia ini selain kampung halaman, tempat dimana kita dilahirkan. Sehingga, saat menjalankan puasa di sana, semuanya akan terasa nikmat. Berbeda saat menjalankan aktifitas berpuasa di tanah rantau. Apalagi, kalau itu untuk yang pertama kalinya. Semuanya terasa asing. Mulai dari tempat, suasana dan orang-orang yang ada disitu. Kita bagaikan berada di dalam ruang yang dilapisi dinding yang tebal, sendiri dan merasa kesepian. Namun, apa boleh buat. Demi cita-cita semua itu harus dijalani.

Rindu Masakan Ibu di Rumah

Saat pertama kali berada di tanah rantu dengan status mahasiswa baru, tentu saja masakan ibu di rumah sangat saya rindukan. Bagaimanapun lezatnya makanan yang saya konsumsi saat berada ditanah rantau, tidak pernah bisa menandingin lezatnya masakan ibu dirumah. Meskipun hanya sayur bening dan ikan asin, masakan itu tetap tidak ada duanya. Sesederhana apapun masakanya, tetap menjadi makanan yang paling nikmat untuk disantap saat berbuka ataupun sahur.

Rindu Dibangunkan Saat Sahur

 Saat menjalankan aktifitas puasa di rumah sendiri, semuanya terasa enak. Apalagi saat menjelang sahur. Tidak perlu repot-repot memasang alarm, karena orang rumah yang akan membangunkan kita. Namun, keadaan ini berubah 180 derajat saat tinggal diperantauan demi mengejar cita-cita. Semuanya harus serba sendiri. Bangun sahur pun kalau tidak berusaha sendiri, pasti akan lewat waktunya. Akhirnya, terkadang hanya minum air putih karena azan subuh sudah berkumandang.

 

 

 

 

Ziarah Kubur Untuk Mengingat Mati

 

1495564880111
Dok Pribadi : TPU Sudiang

 

Waktu baru saja menunjukan pukul 08.00 saat kami meninggalkan rumah untuk pergi ziarah kubur. Hari itu kami berencana untuk menziarahi kuburan nenek istri saya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) daerah Sudiang dan kuburan kakeknya di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang.

Ziarah kubur ini memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga istri saya setiap menjelang bulan suci ramadhan. Isteri saya mengisahkan, kalau sejak dulu orang tuanya selalu mengajak semua anak dan cucu-cucunya untuk melakukan ziarah kubur. Alasanya cukup sederhana, agar mereka tidak melupakan nenek dan kakeknya.

Tidak sampai satu jam, mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di TPU Sudiang. Areal pemakaman itu begitu luas. Sejauh mata memandang tampak kuburan-kuburan yang sudah difondasi berjejer dengan rapi. Pada setiap salah satu sisi kuburan itu terdapat lempengan yang terbuat dari semen bertuliskan identitas singkat orang yang dulunya pernah hidup dan beraktifitas, tertawa dan menangis serta tumbuh dan memiliki keturunan di atas dunia ini. Namun, setelah sang pemilik kehidupan mengambil kembali nyawa yang pernah dititipkan sementara waktu, kini yang ada tinggalah nama yang tertulis di atas pusaranya.

Untuk sampai ke lokasi pemakaman nenek istri saya, ternyata tidak semudah yang dipikirkan. Kami harus berjalan beberapa puluh meter dari tempat pemberhentian mobil menyusuri jalan setapak diantara ratusan makam yang ada di tempat itu. Sambil berjalan, sekali-kali saya memperhatikan tahun kelahiran dan kematian beberapa kuburan yang ada disitu. Dari apa yang saya lihat, ternyata ada yang meninggal di usia tua. Ada juga beberapa yang meninggal saat usianya masih relatif muda. Bahkan, ada yang masih anak-anak.

Dalam hati saya membatin, memang benar apa yang sering disampaikan oleh para pengemban dakwah. Bahwa tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Apakah di usia tua, muda, ataupun masih anak-anak. Jika sudah tiba saatnya  untuk melanjutkan perjalanan ke fase kehidupan yang selanjutnya, maka tidak akan dimundurkan sedikit pun waktunya. Mau tidak mau, kita harus mau. Siap tidak siap kita harus siap.

Sambil terus berjalan diantara kuburan-kuburan itu, tiba-tiba saya teringat seorang sahabat seperjuangan saat melakukan penelitian di laboratorium AIMP Universitas Hasanuddin beberapa tahun yang silam. Ia masih muda dan penuh enerjik. Namun tidak disangka-sangka, setelah hampir satu bulan tidak bertegur sapa di dunia maya tiba-tiba tersiar kabar kalau ia telah dipanggil oleh sang maha pemilik kehidupan.

Setelah sampai di lokasi makam yang dituju, kami pun langsung membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh diatasnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual menyiram pusara dengan air dan diakhiri dengan berdoa untuk penghuni makam agar mendapatkan tempat terindah di sisi Allah.swt

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Kami pun bergegas meninggalkan TPU Sudiang dan menuju TMP Panaikang. Berbeda dengan Tpu Sudiang, TMP Panaikang lokasinya tidak terlalu luas, hampir seukuran lapangan sepak bola. Hal ini disebabkan karena mereka yang di makamkan disana hanyalah orang-orang tertentu yang dianggap berjasa untuk bangsa dan negara. Di lokasi ini pun orang Islam dan Kristiani di makamkan berdampingan. Yang membedakan hanyalah bentuk nisannya.

Tidak jarang, mereka yang dimakamkan di TMP Panaikang ini dulunya memiliki pangkat dan jabatan tinggi di bidang militer. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan berwibawa. Mereka memiliki reputasi membanggakan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Namun, itu semua ternyata tidak ada gunanya. Lagi-lagi, jika sudah tiba waktunya malaikat datang untuk menjemput, maka pangkat, jabatan ataupun reputasi yang dimiliki itu sama sekali tidak bisa menghentikan sedetik pun langkah sang perenggut nikmat kehidupan.

Kita pun hanya bisa pasrah menerima takdir yang telah ditetapkan itu. Takdir yang sudah ditetapkan jauh sebelum kita dilahirkan di muka bumi ini. Takdir yang tidak bisa dirubah, dilawan atau ditolak sedikit pun. Karena memang, semua itu sudah menjadi kehendak dari sang maha pencipta alam semesta.

Setelah menuntaskan semua prosesi ziarah, kami pun langsung pulang ke rumah. Di tengah jalan, kami menyempatkan diri untuk singgah menikmati es teler untuk menghilangkan dahaga akibat cuaca panas pada hari itu. Sambil menikmati segelas es teler saya membayangkan lagi nasehat bijak yang pernah disampaikan oleh seorang pengemban dakwah. Ia mengatakan bahwasanya kematian itu adalah hal yang pasti terjadi. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu kapan waktunya, dimana tempatnya dan dalam keadaan seperti apa  kita akan mati. Untuk itu, maka perbanyaklah mengingatnya dan  mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal ibadah dan berbuat kebajikan. Dengan begitu, maka insya Allah kita tidak akan menyesal di kemudian hari.