Sakit Itu Menyiksa dan Merugikan Saya

abc

(Sumber : https://inspirationsjunkie.wordpress.com)

Sehat itu patut untuk dirayakan dan disyukuri. Pasalnya, jika sakit maka akan ada hal yang terlewatkan seperti yang saya alami belum lama ini. Saat saya menderita flu, batuk dan demam hampir satu minggu lamanya, maka hampir tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan. Semangat pun menjadi kendur (tapi tidak sampai luntur). Saya hanya bisa berbaring lemas di atas kasur dan menjadi malas untuk melakukan apa-apa. Akhirnya, banyak kegiatan yang tidak jadi untuk di ikuti. Padahal, kegiatan-kegaitan ini begitu sangat penting dan mendesak. Salah satunya adalah kegiatan belajar di kelas Menulis Kepo yang diadakan pada setiap hari Jumat pukul 05.00 – 09.00 di warung kopi Brewbrother.

Karena sakit ini juga akhirnya membuat saya kehilangan selera untuk menyantap berbagai jenis makanan seperti biasanya. Bagaimana tidak, setiap makanan yang saya masukan kedalam  mulut semuanya terasa hambar. Meskipun  yang saya makan  itu adalah gula pasir, rasanya tetap saja tidak enak di lidah. Satu-satunya yang enak saya konsumsi adalah obat pemberian dokter. Obat ini terdiri dari dua macam. Pertama namanya Fludan yang berkhasiat untuk mengobati flu, batuk dan menurunkan demam. Sedangkan yang kedua namanya Becom-C. Manfaatnya sebagai suplemen makanan.

Saya sebetulnya kurang paham kenapa penyakit ini bisa menyerang tubuh secara beriringan. Awal mulanya tenggorokan saya yang terasa sakit. Selang satu hari kemudian hidung mulai ikut-ikutan tersumbat di ikuti dengan suhu badan yang perlahan mengalami peningkatan. Setelah itu, kepala mulai terasa berat, penglihatan menjadi buram dan otot-otot badan terasa sakit. Saya pun mulai panik dan menganggap mungkin ini penyakit yang serius.

Namun, setelah saya mendapatkan pemeriksaan dari dokter, saya pun mulai merasa lega. Ia menjelaskan bahwa kasus seperti yang saya alami adalah hal yang biasa terjadi. Sakit flu yang disertai batuk dan demam biasanya merupakan respon tubuh akibat tingginya intensitas kegiatan yang melibatkan fisik dan psikis tanpa di imbangi dengan istrahat yang cukup dan makanan bergizi. Apalagi ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, sehingga saat kondisi tubuh tidak fit maka akan sangat gampang terserang penyakit seperti itu.

Untuk itu, saya disarankan untuk banyak beristrahat dan mengkonsumsi multivitamin serta makanan bergizi seperti buah dan sayuran agar bisa cepat pulih kembali dan daya tubuh bisa jadi lebih baik. selama proses penyembuhanm saya juga disarankan untuk tidak mengkonsumi minuman dingin karena hal ini dapat memicu kembali terjadinya flu, batuk ataupun demam.

Memang benar apa yang dikatakan oleh dokter. Beberapa bulan terakhir ini aktivitas saya begitu padat. Hampir setiap hari saya harus berurusan dengan kegiatan akademik yang menjemukan. Mulai dari menyiapkan materi perkulihan, merampungkan dokumen untuk kebutuhan jabatan fungsional, pengisian BKD (Beban Kerja Dosen), menyusun tulisan ilmiah untuk diterbitkan pada jurnal nasional, serta kegiatan-kegaitan lain yang sangat menguras energi dan pikiran.

Sebetulnya kegiatan-kegatan ini adalah hal yang biasa di dunia kampus. Namun, karena saya belum lama menjadi seorang tenaga pengajar, sehingga belum terbiasa untuk melakukan itu semua. Apalagi, waktunya saling mepet. Akhirnya, saya terkadang lupa untuk mengistrahatkan badan dan mengerjakan itu semua sampai lupa makan dan begadang sampai subuh.

Setelah kejadian ini saya baru kembali sadar, bahwa pola aktivitas seperti itu adalah sesuatu yang keliru. Sepadat apapun kegiatan yang tengah dihadapi, istrahat yang cukup dan berhenti sejenak untuk mengisi lambung dengan makanan tepat pada waktunya adalah hal penting yang harus diperhatikan. Apabila lalai dengan hal ini maka ada harga mahal yang harus dibayar.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Pengembang Photo Booth Canggih Berbasis IOT

 

IMG20170401121418
Dok Pribadi : Ahyar Muawal (CEO WASDLAB) di Ruang Kerjanya

 

Menyediakan photo booth tentu akan menambah semaraknya suasana sebuah acara atau even. Namun, yang menjadi presoalan adalah biaya sewanya masih terbilang mahal dan layanan pada photo booth itu terkadang membuat orang tidak puas. Kondisi ini kemudian memotivasi Ahyar Muawal untuk menciptakan photo booth canggih yang berbasis Internet of Things (IOT) dengan biaya sewa yang murah.

Bersama teman-temanya di WASDLAB – studio penyedia layanan teknologi infomasi yang berbasis di Makassar – selama empat tahun terakhir sejak 2013 anak muda asal Makassar ini telah memulai sebuah upaya untuk mengembangkan photo booth  canggih berbasis IOT yang diberi nama Kotak Narsis. Kotak Narsis ini dirancang sedemikian rupa sehingga bisa memberikan pengalaman berbeda bagi mereka yang menggunakanya.

Jika selama ini, dengan photo booth biasa kita kerepotan untuk mengambil soft copy hasil foto kita, mengatur timer, menentukan jumlah kutipan serta kesulitan untuk langsung mengupload foto itu pada halaman sosial media yang kita miliki, maka tidak demikian kalau kita menggunakan Kotak Narsis. Dengan pengetahuan IT yang mumpuni karena sudah menamatkan pendidikan S1 dan S2 dibidang Informatika,  sosok yang biasa dipanggil Bang Ahyar ini mampu mengotomatiskan semua proses itu dalam Kotak Narsis.

“Yang pasti, Kotak Narsis yang kami kembangkan ini adalah yang pertama di Makassar. Bahkan saya berani mengklaimnya sebagai photo booth  berbasis IOT pertama yang ada di Indonesia”. Demikian yang diutarakan oleh pemuda yang baru berusia 25 tahun ini saat saya menemuinya pada hari senin tanggal 4 April 2017 di tempat kerjanya, Kampus STMIK Kharisma Makassar. Tidak sulit untuk menemui sang kreator Kotak Narsis  ini.  Tidak seperti jika ingin menemui pejabat tinggi yang mengharuskan kita untuk bersurat terlebih dahulu dan menunggu sampai berhari-hari sampai surat itu mendapat balasan, barulah bisa ditemui. Siapa saja bebas bertemu dengan anak muda ini. Ia sangat terbuka untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan tentang IT.

Lebih satu jam saya berdiskusi dengan Bang Ahyar. Ia menceritakan secara detail semua proses yang telah dilewati bersama teman-temanya, mulai dari tahap awal pembuatan di tahun 2013 sampai dengan tahap penyempurnaan pada tahun 2016. Semua proses itu dilalui dengan penuh ketekunan dan harapan bahwa kelak apa yang diciptakan itu akan membuahkan hasil yang manis.

“Tahun 2013 itu, Kotak Narsis prototype pertama sudah berhasil kami buat. Tapi disitu, sentuhan teknologinya masih kurang. Nanti pada tahun 2016 barulah fitur-fitur canggih berbasis IOT berhasil kami satu padukan di Kotak Narsis”.

“Teknologi apa saja yang pertama kali disematkan di Kotak Narsis waktu pertama kali dibuat”?

“Di awal tahun 2013 itu, kami baru fokus untuk membuat sistem otomatis pengiriman foto. Jadi, kami buat agar setiap orang yang berfoto disitu, hasilnya bisa langsung terkirim ke email dan terunggah secara otomatis di sosial media. Kami buat seperti ini, karena sepanjang yang kami ketahui, belum ada photo booth  di Makassar yang memiliki fitur seperti ini. Rata-rata photo booth  yang mereka miliki, sistem kerjanya masih manual. Kalau sudah berfoto, langsung dicetak. Setelah itu, selesaimi. Kita hanya membawa pulang hasil cetakanya. Kalau mau bawa pulang soft copy-nya, lama lagi prosesnya. Harus di burning dulu di CD atau di copy pake flash disk. Tapi itu kan tidak mungkinmi sempat untuk dilakukan, apalagi banyak orang disitu yang antri mau foto.”

Saya pun berdecak kagum dengan kelihaian anak muda ini dalam menangkap sebuah peluang lalu mengeksekusinya menjadi sesuatu yang bisa mendatangkan uang tanpa menunggu waktu lama. Saya yakin, orang lain juga pasti melihat hal yang sama seperti ini. Namun, mereka enggan dan lamban untuk mengkreasikanya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Memang benar apa yang dikatakan oleh orang bijak. Ketika sebuah peluang ada didepan mata, maka hal terbaik yang perlu dilakukan adalah segera mengeksekusinya. Tidak perlu memikirkan seperti apa hasilnya kedepan. Kita nikmati saja prosesnya. Kalau pun akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, paling tidak kita pernah mencoba itu dan bisa bisa mengambil pelajaran darinya.

Berinovasi Tanpa Henti

 Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari anak muda enerjik ini. Diantaranya adalah keuletan dan keinginan yang kuat untuk terus melakukan inovasi. Selama 4 tahun, ia bersama teman-temanya seolah tidak kenal lelah untuk terus menyempurnakan karya mereka itu. Hingga akhirnya, pada awal tahun 2017 Kotak Narsis dinobatkan sebagai usaha digital terbaik ke dua se Indonesia dalam ajang wirausaha mandiri yang diselenggarakan oleh PT Bank Mandiri.

“Menjadi kebahagiaan tersendiri ketika hasil karya kami bisa mendapatkan pernghargaan seperti ini. Tidak sia-sia selama empat tahun kami terus menerus melakukan menyempurnakan terhadap Kotak Narsis ini.”

“Penyempurnaan seperti apa yang dimaksud?”

“Kami menambahkan frame yang memudahkan orang-orang untuk mengambil banyak gambar sesuai dengan yang diinginkan, menyisipkan teknologi pengenal suara sehingga saat hendak mengambil gambar tidak perlu lagi menyentuh apa-apa, cukup lewat suara maka kamera pada Kotak Narsis akan segera melakukan tugasnya untuk memotret. Kami juga membuat Kotak Narsis ini bisa mendeteksi senyuman agar setiap orang yang berfoto terdorong untuk memperlihatkan senyum narsisnya.”

“Lalu, kenapa Kotak Narsis ini bisa murah. Bukankah sesuatu yang canggih seperti ini biasanya dihargai mahal?”

“Pada dasarnya memang kami ingin membuat sesuatu yang berkualitas bagus dengan harga murah. Bukan Cuma murah, tapi bisa memberikan kemudahan bagi mereka yang menggunakanya. Kami menyematkan banyak teknologi di Kotak Narsis ini dan langsung terhubung dengan internet karena memang hari ini kita hidup di era digital. Kan lucu, eranya sudah digital tapi fasilitas yang kita gunakan masih manual.”

Setelah mendengar penjelasan anak muda ini, saya pun menyesal karena waktu menikah dulu telah mengeluarkan banyak uang untuk membayar photo booth lain padahal teknologinya begitu sederhana. Kalau saja dulu yang digunakan adalah Kotak Narsis ini,  saya tidak perlu mengeluarkan banyak biaya. Cukup dengan uang satu juta rupiah, saya sudah bisa memajangnya di pintu masuk ruang pernikahan dan orang-orang akan dengan leluasanya berfoto manja dan ceria.

Berani Membuat Sesuatu Yang Baru

 saya masih ingat betul wejangan yang disampaikan oleh salah seorang guru besar dari Universitas Indonesia dalam seminar Teknologi Informasi yang diselenggarakan di UMI tahun 2016 silam. Ia menyampaikan bahwa, jika kita ingin maju maka beranilah untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Jangan membuat sesuatu atau mengulangi apa yang sudah pernah dibuat oleh orang lain, karena hasilnya akan sia-sia.

Bang Ahyar dengan segenap kemampuanya berani untuk membuat warna baru itu. Ia dan teman-temanya membuat ­photo booth  berbasis IOT yang belum pernah dibuat oleh orang lain. Meskipun pada awal kemunculany banyak yang tidak melirik untuk menggunakan Kotak Narsis ini, namun seiring berjalanya waktu akhirnya banyak yang mulai tertarik.

Begitu banyak cerita lucu yang terjadi saat orang-orang menggunakan Kotak Narsis ini. Sepeti yang diceritakan oleh Aldi yang merupakan mahasiswa STMIK Kharisma Makassar kepada saya. Saat itu ia mengunjungi acara Bekraf Developer Day 15 Oktober 2016 yang bertempat di Hotel Clarion.

“Kaget’ka waktu pertama berfoto dengan Kotak Narsis. Canggih’ki fiturnya. Kalau berfoto langsung terupload ke sosial media. Foto’ta juga langsung terkirim di email. Tapi lebih kaget’ka lagi, waktu’ka tau kalau yang buat ini Kotak Narsis itu Kak Ahyar. Dosenku jie ternyata.”

Sambil tersenyum lebar Aldi menceritakan pengalamanya saat menggunakan Kotak Narsis. Ia terkagum-kagum dengan Kotak Narsis itu. ia tidak menyangka kalau Kotak Narsis berbeda dengan photo booth  lain yang ada di Makassar.

***

Hari sudah memasuki waktu shalat zuhur. Saya pun akhirnya berpamitan dengan Bang Ahyar. Ia pun mematikan laptonya dan bersiap-siap untuk pulang karena ada aktivitas lain yang harus dikerjakanya. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari diskusi singkat dengan anak muda itu, terutama tentang bagaimana kita mencitai setiap apa yang dikerjakan. Tanpa cinta tentu semua yang dikerjakan akan menjadi berat. Begitu sebaliknya, dengan cinta maka semuanya akan menjadi ringan dan mudah untuk dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengintip Suasana Program Gramedia Cuci Gudang 2017

Hari mulai beranjak sore. Saat masih asyik-asyiknya menikmati secangkir Milo coklat di beranda rumah, tiba-tiba saya teringat dengan brosur yang diberikan oleh satpam Gramedia saat berkunjung kesana saban hari. Brosur itu berisikan infomasi tentang program Gramedia Cuci Gudang. Dalam program tersebut, banyak buku-buku yang di jual dengan harga murah mulai dari Rp 5000 sampai Rp 45000.

Program Gramedia Cuci Gudang itu diselenggarakan sejak tanggal 1 April sampai dengan 16 April 2017, bertempat di Gedung Tribun Timur, Jl. Cendrawasih N0 430 Makassar. Karena saya penasaran dengan buku-buku yang di jual disana, saya pun langsung beranjak dari tempat duduk dan bergegas mengambil kunci motor untuk segera pergi ke Tribun timur.

Sambil membunyikan motor, saya bergumam dalam hati “Mumpung hari ini baru tanggal 4 April, mungkin saja disana belum banyak orang yang berkunjung”. Namun baru saja motor keluar dari garasi, tiba-tiba istri saya berteriak memanggil dari dalam rumah. Ternyata, ia juga ingin ikut untuk melihat-lihat buku yang di jual oleh Gramedia dalam program Cuci Gudang tahun 2017 ini.

Saat tiba di Tribun Timur, saya sempat kaget karena ruangan tempat penjualan buku itu telah disesaki oleh banyak orang. Prediksi saya bahwa orang yang akan datang dihari-hari awal berlangsungnya program promo buku murah seperti ini jumlahnya sedikit, ternyata meleset. Saya tidak membayangkan akan banyak orang yang antusias sejak awal dimulainya program cuci gudang ini oleh Gramedia.

Setelah memarkir motor, saya bersama istri pun langsung masuk kedalam ruangan tempat penjualan buku dan mulai bergerilya dari satu tumpukan buku ke tumpukan buku yang lain. Karena saat kesana sudah terlalu sore dan program cuci gudang itu hanya berlangsung sampai pukul 06.00 setiap harinya, akhirnya kami tidak sempat mengecek semua tumpukan buku yang ada dan belum bisa menemukan buku yang bagus untuk dibawa pulang. Kami pun hanya bisa menyaksikan pengunjung lain yang sudah mengantongi beberapa buku dan kemudian menyelesaikan pembayaran buku itu di meja kasir.

1

Gambar 1. Gedung Tribun Timur

1

Gambar 2. Lokasi Parkiran di Tribun Timur

1

Gmbar 3. Pintu Masuk Ruangan Tempat Penjualan Buku

1

Gambar 4. Tas Belanja Buku

1

Gambar 5. Tumpukan Buku Harga Rp. 5000

1

Gambar 6. Tumpukan Buku Harga Rp.10000

1

Gambar 7.Tumpukan Buku Harga Rp. 15000

1

Gambar 8. Tumpukan Buku Harga Rp. 20000

1

Gambar 9. Tumpukan Buku Harga Rp. 25000

1

Gambar 10. Tumpukan Buku Harga Rp.30000

1

Gambar 11. Al Quran Harga Promo

1

Gambar 12. Para Pencari Buku Murah

1

Gambar 13. Si Gondrong Sedang Menghadapi Salah Satu Tumpukan Buku

1

Gambar 14. Pembayaran Pembelian Buku di Kasir

Pasar Senggol di Simpang Jalan Cendrawasih

Saya bekerja di STMIK Kharisma Makassar, di Jalan baji AtekaNo. 24. Tidak jauh dari tempat ini, jika kita keluar menuju arah barat lalu berbelok ke arah selatan Jl. Cendrawasih sejauh lebih kurang 100 meter, tepat di seberang jembatan yang mengangkangi sebuah sungai kecil, kita pasti dapat melihat tumpukan rangka kayu dan besi yang diletakkan di pinggir jalan sebelah kiri. Kita juga dapat langsung melihat ada simpang jalan masuk selebar tiga meter. Lebih kurang 200 meter, di sepanjang jalan itu, di samping kiri dan kanan berjejer kios-kios dengan ukuran dan bentuk yang tidak beraturan. Ada yang besarnya 2 x 2 meter, ada yang berukuran 1 X 3 meter dengan bentuk memanjang kebelakang, bahkan ada yang hanya berukuran 1.5 x 1.5  Meter.

Rata-rata atap dari kios-kios itu sudah bocor karena berkarat sehingga harus dilapisi dengan potongan-potongan plastik yang ditindih dengan kayu balok agar tidak diterbangkan angin. Di tempat  inilah lokasi Pasar Senggol yang selalu ramai dibicarakan orang itu berada. Disini harga barang-barang seperti pakaian dan pernak pernik lainnya relatif lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan seperti Mall atau toko-toko besar yang banyak terdapat di ruas-ruas jalan besar Kota Makassar.

Jika kita melintas pada siang haridi tempat ini,sama sekali tidak tampak ada aktivitas orang-orang yang melakukan transaksi  jual beli. Kita hanya bisa melihat kios-kios kosong tanpa ada barang yang dipajang sedikit pun. Para pemilik kios juga tidak ada disitu. Suasananya pun tampak lengang. Kendaraan bebas berlalu lalang disitu. Saya sendiri, setiap saat melewati tempat itu selalu membayangkan, jika ada orang yang baru berkunjung ke Makassar dan hendak mencari pasar Senggol disiang hari, pasti ia akan kesulitan untuk menemukanya.

IMG20170226124538.jpg
Dok pribadi : Lokasi Pasar Senggol di Siang Hari

Berbeda halnya jika kita ke tempat ini pada malam hari. Kondisinya berubah drastis. Suasananya menjadi sangat ramai. Tempat itu dibanjiri cahaya dari lampu kios yangkelap-kelip dan berwarna warni serta lampu neon dari beberapa papan reklame yang berdiri kokoh disekitar tempat itu. Jalanan yang sebelumnya lebar dan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat,  kini menjadi sempit dan bahkan kendaraan roda dua sekalipun tidak akan bisa melewatinya. Tepat ditengah-tengah jalanan itu para penjual membangun kios-kios yang tidak permanen dari rangka kayu dan besi serta beratapkan tenda yang terbuat dari plastik tebal yang biasanya berwarna biru. Kios-kips tersebut bahkan meluber sampai ke jalan poros.

IMG20170226203802.jpg
Dok pribadi : Kios-Kios Semi Permanen di Pinggir Jalan Poros

Setiap malam, orang-orang yang datang ke sana untuk mencari barang yang ingin dibelinya berbondong-bondong seperti air mengalir yang tidak ada putus-putusnya. Jumlahnya sangat banyak. Ada orang tua, anak muda dan anak-anak. Saat tiba di sana, mereka tidak langsung membeli barang begitu saja. Mereka terlebih dahulu berkeliling dari satu kios ke kios lainya untuk membanding-bandingkan harga. Nantilah harganya cocok, baru dibeli.

Malam itu saya datang kesana untuk sekadar mencarikaos kaki dan ikat pinggang berwarna hitam. Namun, belum semua kios saya datangi, kepala saya sudah mulai pusing melihat orang-orang yang hilir mudik didepanku. Akhirnya saya memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu. Beruntung, saat saya keluar, persis di depan pinggir jalan poros, di dekat saya memarkir motor, ada satu orang yang menjual barang itu. Ia menggantungkannya pada seutas tali rafia yang kedua ujungnya dikaitkan pada tiang-tiang kios yang terbuat dari kayu dan besi.

Bagi mereka yang tidak terbiasa berbelanja ditempat seperti ini pasti tidak akan bisa bertahan lama saat berada didalam. Kerumunan orang yang ada di sana membuat sirkulasi udara menjadi tidak lancar. Akhirnya, udara di dalam menjadi pengap dan panas. Belum lagi ditambah dengan aroma keringat ratusan orang yang sedang berdesak-desakan mencari kebutuhannya, hal ini semakin menyulitkan kita untuk bernafas. Namun, bisa saja kita menghindari situasi seperti ini saat berbelanja. Kita bisa pergi ke sana saat sore hari. Pada waktu ini para pedagang sudah mulai mengisi kiosnya dengan barang dagangan. Kita bisa dengan leluasa memilih barang.

IMG20170226204057.jpg
Dok pribadi : Pengunjung yang Sedang Belanja

Hari ini, sudah 10 tahun lamanya sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di pasar Senggol. Hampir tidak ada yang berubah dari tempat itu. Bentuk fisik kios-kiosnya, lokasi parkir kendaraan para pengunjung, cara pedagang disana menyapa para pembeli, semuanya masih sama. Begitu juga dengan kemacetan. Saat melintasi di daerah itu, jangan berharap untuk bisa dengan mudah memacu kendaraan dengan mulus tanpa hambatan.

IMG20170226204355.jpg
Dok pribadi : Kemacetan Jl. Cendrawasih di Depan Pasar Senggol

Kadang saya berpikir, apakah mungkin pemerintah kota tidak mengetahui keadaan ini?Padahal kemacetan diruas jalan cendrawasih yang merupakan dampak dari semrawutnya pasar senggol yang ada disana sudah terjadi sejak lama. Seharusnya, jika betul-betul menginginkan kota ini menjadi kota dunia, maka penataan lokasi-lokasi seperti itu perlu segera dilakukan.

Memang, masyarakat di sana sudah terbiasa dengan kondisi itu. Akan tetapi, jika kondisi ketidakteraturan  terus dibiarkan, akan jadi apa kota ini? Lagi pula dengan membuat pasar itu lebih teratur, saya pikir  tidak akan mengubahsubstansi dari pasar senggol itu sendiri. Karena akan lebih enak rasanya jika orang-orang yang datang belanja di sana bersenggolan dalam kondisi pasar yang tertata rapi, ketimbang harus berdesak-desakan dalam ruang sempit dengan kondisi yang semrawut.

 

Kamera Pertamaku Yang Dicuri Orang

Hari itu, sabtu tanggal 23 Agustus 2014. Saya balik ke kamar kos menjelang pagi setelah bermalam di kampus bersama teman-teman kuliah untuk menyelesaikan tugas akhir yang semakin mendesak. Seperti biasanya, saat tiba di kamar kos, saya langsung merebahkan diri diatas tempat tidur. Sambil memandang langit-langit kamar saya mencoba memejamkan mata dan menenangkan pikiran yang sudah sangat kelelahan.

Namun, tiba-tiba pikiran saya menjadi buyar setelah menyadari kalau saat masuk kedalam kamar tadi, saya sama sekali tidak mengeluarkan kunci dari dalam tas untuk membuka pintu.  Saya langsung loncat dari atas tempat tidur dan memeriksanya. Betul dugaan saya, tidak ada kunci yang tergantung dipintu. Kuncinya masih ada didalam tas. Kalau saya sendiri yang membuka pintu kamar pasti kuncinya saya biarkan tergantung disana.

Fiuhhhh. Saya langsung menghela nafas dalam-dalam. “Jangan-jangan ada pencuri masuk dikamar dan mengambil kameraku”. Dalam hati saya langsung berpikir demikian. Pasalnya, hanya kamera satu-satunya barang berharga yang tersimpan didalam kamar. Sayapun mencoba mengecek laci meja tempat saya menaruh kamera tersebut.

“Kamerakuuuuuuuuuuuuuuuu!” Spontan saya berteriak saat mengetahui kalau isi laci itu sudah kosong melompong. Tulang-tulang terasa mau rontok dan badanpun terasa lemas seperti mau pingsan. Sedih, marah dan emosi berkecamuk didalam dada. Hati ini perih rasanya seperti teriris sembilu lalu dicampur dengan cabe merah dan perasan jeruk purut.

Air matapun rasanya mau tumpah. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Pencuri itu telah membawa pergi salah satu barang berharga yang saya miliki, kamera Canon D1100 yang saya beli dari hasil jerih payah saat bekerja sebagai pegawai honorer di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Muna. Barang itu adalah salah satu tanda mata dari hasil keringat yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit selama 2 tahun, dari tahun 2010 sampai tahun 2012.

Demi membeli kamera ini saya rela berhemat dan menangguhkan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan lain yang sebetulnya lebih penting dari ini. Saya rela hanya mengkonsumsi mie instan berhari-hari,yang penting bisa menyisihkan sebagian gajiuntuk ditabung agar kelak bisa membeli kamera ini. Saya juga terkadang melakukan pekerjaan lain di luar aktivitas kantor agar bisa segera mencukupkan budget untuk membeli kamera ini.

Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki kelebihan harta atau materi,kehilangan benda seperti ini dianggap biasa saja. Hilang hari ini, besok sudah bisa beli lagi. Akan tetapi, bagi saya kejadian ini cukup membuat saya terpukul dan menderita sakit kepala berhari-hari lamanya karena terus menerus memikirkanya.

Coba saja dibayangkan, kamera yang saya dambakan sudah sejak lama, bahkan sejak saya masih duduk dibangku SMA dan untuk mendapatkanya butuh perjuangan yang luar biasa, namun ternyata baru genap 2 tahun dibeli dan digunakan tiba-tiba hilang diambil orang. Rasa-rasanya langit ini seperti mau runtuh.

Saya kadang bertanya-tanya dalam hati, jika saja pencuri ini ditimpa kasus yang sama apakah ia akan merasakan seperti yang saya rasakan? Apakah ia akan bersedih lalu menagis sekencang-kencangnya dan berharap agar ia bisa mendapatkan barangya kembali?Ataukah memang seseorang yang menjadi pencuri itu tidak memiliki hati nurani, sehingga walaupun ia kehilangan sesuatu ia tidak akan bersedih dan tidak memikirkanya sama sekali.

Entahlah, rasanya sulit untuk mencoba memahami isi kepala seorang pencuri. Yang jelas, apa yang ia telah perbuat itu adalah sebuah kesalahan besar yang sangat sulit untuk diterima dan dimaafkan. Karena biar bagaimanapun juga, kamera yang saya miliki itu dibeli dengan uang halal yang saya peroleh dengan susah payah, membanting tulang siang dan malam.

img_5127
(Foto Kenangan Saya dan Kamera)

     * * *

Hari ini, 3 tahun sudah kamera kesayangan saya hilang tanpa jejak. Perlahan saya mulai mengikhlaskanya dan mencoba untuk memahami pelajaran apa yang hendak disampaikan oleh Allah.SWT kepada saya. Mungkin saja ini merupakan ujian yang harus saya terima agar bisa menjadi orang yang ikhlas.

Memang terasa berat bagi saya untuk merelakan apa yang telah terjadi. Pasalnya, kamera itu sudah menjadi teman setia disetiap acara ataupun kegiatan yang saya lakukan. Kamera itu selalu saya bawa untuk mengabadikan setiap momen-momen penting yang saya lewati.

Namun, meskipun demikian, sayapun akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu yang saya miliki ini hanyalah titipan dari sang maha pencipta. Tidak selamanya ia akan menjadi milik saya. Akan ada waktunya ia akan hilang, berpindah tangan ataupun rusak (meskipun caranya terkadang tidak seperti yang diharapkan) kemudian Allah.SWT akan menggantikanya dengan sesuatu yang lebih baik.

Sesaat Sebelum Ujian Tengah Semester Berlangsung

untitled

“Sebelum pelaksanaan ujian dimulai, menjelaskan aturan main yang berlaku dalam pelaksanaan ujian merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap dosen ”

* **

Saat saya menyampaikan kepada mahasiswa bahwa ujianya open book dan open internet sontak seisi ruangan menjadi riuh. Mereka menyambutnya dengan gegap gempita. Tanpa pikir panjang merekapun menyepakati apa yang saya utarakan.

Disela-sela kegembiraan itu tiba-tiba salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan. “Pak, kalau sudah seperti itu, lantas seperti apa aturan mainya. Apakah bisa kerja sama, apakah bisa copy paste jawaban yang kami dapatkan di internet atau buku yang menjadi referensi bacaan yang telah bapak berikan?”.

Teman-temanya pun tiba-tiba mengarahkan pandangan ke arah mahasiswa yang bertanya tadi. Tidak sedikit yang menatapnya dengan tatapan sinis diikuti sedikit umpatan kekesalan atas pertanyaan temanya itu.

sayapun bisa memahami kenapa mereka melakukan itu pada temanya. Saya bisa mengerti apa yang mereka maksud. Tentu mereka berharap bahwa pengerjaan soal-soal ujian nanti bisa dikerjakan secara bersama-sama, saling mencontek dan langsung mengcopy paste setiap jawaban baik itu yang didapat dari internet, dari teman  yang ada disampingnya ataupun dari buku referensi yang telah saya berikan.

Melihat hal itu sayapun langsung mendinginkan situasi dan melanjutkan penjelasan tentang aturan main pelaksanaan ujian itu. Seakaan berat mereka mendengar keputusan saya kalau ujian harus dilakukan secara mandiri. Tidak boleh kerja sama apalagi mengcopy mentah-mentah setiap jawaban yang didaptkan di internet ataupun buku-buku referensi.

Belum selesai saya menjelaskan, seorang mahasiswa langsung mengajukan satu pertanyaan. “Lantas bagaimana caranya kami menjawab satu pertanyaan yang jawabanya sudah jelas-jelas ada dalam buku atau internet?”

Sambil melangkah mendekati mahasiswa itu, sayapun menjelaskan bahwa jawaban yang didapatkan dari internet atau buku harus ditulis dengan teknik parafrase. Dengan teknik ini kalian dituntut untuk bisa menguraikan  kembali teks yang kalian dapatkan di internet ataupun buku referensi itu dengan bahasa kalian masing-masing atau dengan susunan kata yang lain. Kalian harus bisa memberikan penekanan yang berbeda dengan apa yang terdapat pada teks aslinya itu namun maknanya sama dengan subtansinya.

Kuncinya adalah, kalian harus membaca banyak rujukan terkait dengan persoalan yang diberikan. Semakin banyak kalian membaca, maka semakin banyak pengetahuan yang kalian dapatkan. Dengan demikian akan memudahkan kalian untuk menarik satu kesimpulan yang bisa di jadikan jawaban atas soal yang ditanyakan.

Kalian tidak boleh berhenti pada satu rujukan saja. Carilah sebanyak-banyaknya rujukan selama itu masih relefan dengan soal yang ditanyakan. Setelah itu pahamilah ide pokoknya kemudian ceritakan kembali dengan bahasa kalin sendiri tanpa menghilangkan maknanya yang sesungguhnya. Memang awalnya kalian kesulitan, namun pada akhirnya akan terbiasa dengan teknik seperti ini.

“Lantas apa manfaatnya kalau kami memahami teknik parafrase ini ? “. Mahasiswa itu kembali melanjutkan pertanyaanya.

Manfaatnya sangat banyak. Selain membiasakan kalian untuk mengesplorasi pengetahuan yang ada serta menajamkan kemampuan kalian dalam melakukan analisis, teknik ini juga bisa menghindarkan kalian dari salah satu dosa terbesar bagi kaum akademis yaitu PLAGIAT.

Kelas tiba-tiba menjadi hening. Ada yang mengangguk pertanda mengerti dengan apa yang saya jelaskan, namun ada juga yang menatapku dengan tatapan kosong.

( Bersambung …)

 

Guru, Sang Penyemai Generasi Bangsa

img20151029105222

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Sebutan ini tentu saja bukan tanpa alasan,mengingat begitu mulianya bakti guru yang dengan sabar mendidik generasi penerus bangsa ini dengan mengajarkan kebajikan dan memberikan pemahaman tentang nilai-nilai pendidikan dengan harapan agar kelak mereka bisa menjadi kreator peradaban.

Bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru untuk menjadikan  anak didiknya menjadi seperti yang diinginkan.  Ibaratnya seorang pandai besi,butuh kesabaran dalam menempa besi sehingga bisa menghasilkan sebuah senjata tajam .Namun seorang pandai besi tidak hanya dituntut untuk menempa besi-besinya sampai menjadi senjata tajam saja,seorang pandai besi harus mampu membuat senjata tajam sesuai dengan peruntukanya agar bisa berfungsi secara optimal. Begitulah seorang guru,dalam menempa anak didiknya harus mampu melihat dan mengetahui bagaimana kondisi anak didiknya. Seorang guru dituntut agar bisa mendidik sesuai dengan kondisi zaman. Sebagaimana pesan Khalifah Ali bin Abi Thalib.RA bahwa dalam mendidik anak harus sesuai dengan zamanya karena masa terus berubah dan keadan hari ini tidak sama dengan hari esok.

Memang dunia pendidikan penuh dengan kompleksitas dan kerumitan. Hal ini disebabkan karena dalam dunia pendidikan berkaitan dengan manusia,ilmu pengetahuan dan masa depan. Seorang guru dalam kapasitasnya sebagai tenaga pengajar dituntut harus memahami semua ini.

Tentunya  kita memahami bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia pastilah rumit adanya,karena tiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tiap manusia memiliki masalahnya masing-masing. Seorang guru harus bisa memahami keadaan ini agar bisa memahami karakter anak didiknya.Begitu juga halnya dengan ilmu pengetahuan yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Perlu kerja keras dan perjuangan yang tidak kenal lelah bagi seorang guru agar tidak tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan, karena ketertinggalan seorang guru dalam memahami ilmu pengetahuan maka bisa dipastikan mereka akan gagal dalam proses mendidik. Untuk persoalan masa depan tentu saja sangat diharapkan bagi seorang guru agar bisa meyakinkan anak didiknya bahwa tiap-tiap dari mereka memiliki masa depan yang cerah,meskipun pada dasarnya ini sulit untuk dilakukan karena persoalan masa depan hanyalah Allah yang bisa memastikanya.

Rumitnya persoalan pendidikan yang penuh dengan kompleksitas ini tentu saja dibutuhkan kerja keras dari seorang guru untuk bisa mengurainya agar hakikat dari pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia bisa tercapai sehingga bisa terlahir generasi petarung yang berkompoten.

Tantangan di Masa Depan

Kita semua menyadari bahwa tantangan yang akan dihadapi oleh guru dimasa depan akan lebih sulit dan rumit dibandingkan dengan tantangan yang diharapi oleh guru hari ini dalam mendidik generasi bangsa.

Samuel hutington dalam tesisnya menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar dimasa depan adalah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. Seperti yang kita saksikan hari ini betapa kecanggigah teknologi informasi disatu sisi memberikan kemudahan dalam dunia pendidikan. Dengan adanya teknologi internet misalnya,keterbatasan transformasi pengetahuan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan diruang-ruang kelas lewat proses pembelajaran secara langsung kini dengan adanya system e-learning maka pembelajaran bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa perlu ada tatap muka secara langsung. Dengan teknologi internet juga maka peningkatan kreatifitas dan pengetahuan anak didik juga bisa terjadi. Dengan adanya internet maka seseorang bisa mengakses konten-konten pendidikan yang tersedia secara gratis di berbagai website.

Namun disisi lain,pesatnya perkembangan teknologi informasi ini akan menjadi persoalan tersendiri bagi seorang guru jika tidak bisa memahami bagaimana konsep yang benar dan tepat dalam menggunakan teknologi informasi baik sebagai media pembelajaran seperti penggunaan e-learning ataupun sebagai media untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan anak didik.

Ketika guru tidak bisa memahami ini maka bisa dipastikan mereka juga akan gagal dalam mendampingi anak didiknya dalam pemanfaatan teknologi informasi sehingga sangat tidak mungkin kalau kelak anak didiknya akan kebablasan dalam memanfaatkan teknologi informasi. Beberapa kasus perbuatan asusila yang melibatkan beberapa anak didik dibeberapa sekolah dasar di Indonesia akhir-akhir ini tentu saja sudah cukup menjadi pelajaran bagi para guru.

Rumitnya persoalan ini memang menjadi hambatan tersendiri dalam menciptakan generasi yang baik dan berkarakter. Jika generasi ini gagal dibentuk,maka bisa dipastikan peradaban bangsa ini akan tenggelam dan berakhir.

Yang Harus Dilakukan

Tugas seorang guru adalah membangun kecerdasan anak-anak bangsa lewat pendidikan. Namun sebelum melakukan itu terlebih dahulu mereka harus memantaskan diri terlebih dahulu sebagai  seorang guru dulu setelah itu barulah mereka melakukan tugas pengajaranya..

Mohammd nuh,dalam bukunya menyemai kreator peradaban menyebutkan bahwa yang akan dibangun dari generasi bangsa ini adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran sebagai hamba dan makhluk tuhan yang maha esa,pendidikan karakter yang terkait dengan keilmuan serta pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai orang Indonesia.

Ketika karakter generasi bangsa ini bisa dibagung maka sangat mungkin dimasa depan bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan kuat. Disamping itu kesempatan untuk melihat bangsa ini mengulang masa kejayaanya bisa tercapai. Semoga !

(Tulisan ini pernah saya muat di Gorontalo Pos, 4 Desember 2014)